Terapkan Efisiensi, Kinerja PT Krakatau Steel (Persero) Tbk Kinclong

Oleh : Arya Mandala | Sabtu, 28 April 2018 - 14:10 WIB

Industri Besi dan Baja (Ist)
Industri Besi dan Baja (Ist)

INDUSTRY.co.id - Jakarta, Langkah efisiensi yang dilakukan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk di sektor logistik membuat kinerjanya makin kokoh. Laba Usaha perusahaan baja ini tumbuh 154 persen sepanjang 2017.

Kinerja PT Krakatau Steel (Persero) Tbk tampak begitu kinclong sepanjang tahun 2017 lalu. Salah satu penopang terkuat dari capaian tersebut adalah sektor logistik.

Efisiensi dan pembenahan dari sektor tersebut dinilai berkontribusi signifikan terhadap peningkatan laba usaha, sekaligus menurunkan angka kerugian perusahaan dengan signifikan.

Sebelum membahas lebih jauh capaian kinerja perusahaan di tahun 2017, mari kita tengok dulu kinerja di tahun 2016.

Akan terlihat bahwa upaya menekan angka kerugian telah dilakukan perusahaan sejak dua tahun silam.

Pada 2016 Krakatau Steel tercatat mengalami kerugian bersih sebesar USD171,69 juta atau USD(0,0100) per saham, atau turun 46,35% dari kerugian pada tahun 2015 yaitu sebesar USD320,03 juta atau USD(0,0189) per saham.

Setahun berselang BUMN yang berbasis di Cilegon Banten tersebut berhasil membalikan keadaan.

"Pada 2017 saja, efisiensi yang berhasil didapat dari logistik seperti pengadaan gas, bahan baku dan lainnya itu mencapai US$10 juta," kata Direktur Utama Krakatau Steel, Mas Wigrantoro di Jakarta, beberap waktu lalu.

Tercatat, laba usaha perseroan tahun 2017 tumbuh 154,79% menjadi Rp443,36 miliar dibanding tahun sebelumnya yang mencapai Rp286,30 miliar.

BUMN dengan kode emiten KRAS ini pun mampu menurunkan angka rugi tahun berjalan sebesar 54,90% yakni menjadi setara Rp1,15 triliun dibandingkan rugi tahun 2016 setara Rp2,55 triliun.

Pertumbuhan positif tersebut diyakini akan berlanjut di tahun 2018 dengan target mencatatkan laba bersih pada akhir tahun.

Mas Wigrantoro menjelaskan, banyak hal yang telah dilakukan manajemen KRAS dalam mengejar efisiensi tersebut.

Seperti menghilangkan resiko dari harga bahan baku impor yang kerap terpengaruhi oleh aspek geopolitik, tidak lagi terpaku pada satu pemasok, hingga menerapkan skema pembelian bahan baku sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pasar.

Sebelumnya perusahaan selalu terpaku dengan satu pemasok, dimana 90 persen Slab Steel (baja lembaran setengah jadi) selalu didatangkan dari Rusia.

Semenjak 2016 KRAS mendapatkan juga pasokan bahan baku dari
Korea, Jepang dan Brazil.

"Jadi ada banyak sumber bahan baku dari beberapa negara. Lebih ke beauty contest dan tidak lagi ada unsur spekulatif. Kami lakukan pyramid buying, ketika harga sedang murah kami bisa beli banyak. Tapi ketika harga naik ya kami beli sedikit," tambah dia.

Selain itu, KRAS juga terus berupaya keras mendapatkan bahan bakar gas dengan harga yang ekonomis.

Mengingat gas merupakan bahan bakar yang menunjang operasional pabrik KRAS. Adapun, efisiensi lainnya dikejar lewat penerapan paperless dalam segala proses bisnis.

"Pola efisiensi yang kami terapkan tahun ini masih sama dengan tahun lalu. Ditargetkan sepanjang tahun 2018 kami masih bisa mendapatkan efisiensi sebesar US$ 7 juta yang berasal dari sisi pengadaan logistik. Efisiensi harus ada setiap tahun. Continues and improvement," kata dia.

Sebagai upaya mendukung kinerja perseroan yang efektif dan efisien, secara umum KRAS telah menetapkan beberapa langkah strategis yang akan diterapkan sepanjang tahun ini.

Antara lain, meningkatkan efisiensi biaya operasi, meningkatkan volume penjualan melalui perjanjian pasokan jangka panjang atau long term supply/agreement (LTSA) dengan pelanggan-pelanggan potensial serta sinergi dengan BUMN.

Perseroan juga akan menjaga kehandalan fasilitas produksi, melakukan penyelesaian proyek-proyek strategis tepat waktu, menjaga likuiditas perusahaan untuk ketersediaan modal kerja dan menurunkan beban keuangan perseroan.

"Kami targetkan peningkatan penjualan Tahun 2018 sampai 40%. Kami akan terus melanjutkan sinergi BUMN dan memacu kinerja anak perusahaan. Kami semakin optimis kinerja perseroan semakin lebih baik lagi dan siap menghadapi segala tantangan di tahun 2018," imbuhnya.

Sementara itu, Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno mengaku optimistis kinerja KRAS bisa semakin kinclong di tahun 2018.

Terlebih lagi, KRAS tengah mendapatkan kepercayaan dari Pemerintah untuk bisa meningkatkan skala ekonomis dari produk baja.

"Nama programnya yaitu Cilegon 10 juta ton Steel Cluster pada 2025. Kalau itu tercapai maka akan lebih baik lagi efisiensi yang didapat, hingga akhirnya pendapatan KRAS pun terus meningkat," tutup Harry.

Sepanjang 2018 ini KRAS menargetkan peningkatan volume penjualan sebesar 2,8 juta ton dengan asumsi kenaikan permintaan baja domestik yang mencapai 1 juta ton per tahun.

"Pada tahun 2016 kebutuhan baja dalam negeri mencapai 12,7 juta ton, meningkat rata-rata 1 juta ton per tahun. Kebutuhan ini diproyeksikan akan terus meningkat pada tahun mendatang," kata Sekretaris Perusahaan KRAS Suriadi Arif sebagaimana dikutip Antara, beberapa waktu lalu.

Suriadi menjelaskan pada tahun 2016, harga baja mulai mengalami perbaikan, kondisi ini terus berlanjut pada 2017.

"Situasi kenaikan harga baja yang membaik secara signifikan sejak dua tahun terakhir, kami optimistis untuk terus memperbaiki kinerja secara berangsur," ujarnya.

Dipaparkannya, berbeda dengan periode sebelumnya sejak 2011 hingga 2015 harga baja merosot.

"Pada Desember 2017 harga HRC CFR domestik sudah mencapai 562 dolar AS per metrik ton, naik tajam 260 persen dari Desember 2015 hanya mencapai 216 dolar AS per metrik ton," ujarnya.

Meski begitu, kondisi pasar baja global dengan harga yang fluktuatif, juga berdampak kepada harga baja domestik yang cenderung tidak stabil.

Pada 2012-2015, harga baja domestik terus menurun. Harga pada 2015 hanya mencapai 62 persen dibanding harga pada 2012.

Selain terpengaruh harga baja global yang menurun, produsen baja domestik juga mengalami tekanan dari tinggi biaya energi seperti gas dan listrik.

Untuk menjaga keseimbangan tersebut produsen baja Krakatau Steel melakukan pola operasi dengan menerapkan strategi "make or buy".

Suriadi Arif menambahkan, dalam struktur biaya produksi, biaya bahan baku merupakan porsi biaya terbesar diikuti oleh biaya energi (gas alam dan listrik).

Dengan semakin mahal biaya energi di dalam negeri dan adanya sumber bahan baku (slab dan billet) impor yang lebih kompetitif, maka perusahaan mengambil langkah strategis yaitu menerapkan "Make or Buy Strategy" khusus untuk pengadaan bahan baku semi-finished product berupa slab sebagai bahan baku utama di Hot Strip Mill (HSM) dan Billet sebagai bahan baku di Wire Rod Mill (WRM).

Melalui strategi ini dapat ditempuh pembelian slab dan atau billet dari sumber impor dengan mengurangi produksi sendiri dan atau sebaliknya.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Lesung (Hariyanto/ INDUSTRY.co.id)

Kamis, 19 Juli 2018 - 16:30 WIB

Indonesia Lirik Brunei Darussalam Untuk Investasi di KEK Tanjung Lesung

Masuk dalam salah satu 10 Destinasi Prioritas, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung mempunyai daya tarik tersendiri karena memiliki potensi wisata. Hal ini dimanfaatkan oleh pemerintah…

Emil Priyatna selaku Direktur Utama PT Kinanti Utama Karya (tengah) bersama Santo Kadarusman selaku New Business Development SMI (kedua kanan) di Kinanti Building

Kamis, 19 Juli 2018 - 16:30 WIB

Kinanti Building Properti Dukung Profesionalitas Bisnis

Satu lagi perusahaan pelayanan dan penyediaan property yang baik, hadir di Indonesia. Mengambil peran dalam pembangunan kota serta lingkungan hidup untuk Indonesia yang lebih maju. Letak gedung…

Pegawai Kementerian PUPR melewati gedung tempat mereka bekerja.

Kamis, 19 Juli 2018 - 16:29 WIB

Kementerian PUPR Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat Dengan Sanitasi Layak

Dirjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Sri Hartoyo mengatakan upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, penataan daerah permukiman dan elemen pendukungnya…

Group UCC Launching Ceremony

Kamis, 19 Juli 2018 - 16:20 WIB

UCC Holding Gandeng Purwana Group Kembangkan Kopi Indonesia

Perusahaan kopi ternama di Jepang, UCC Holdings Co Ltd, melalui anak perusahaannya yaitu UCC Asia Pacific Pte, membangun kerjasama dengan Purwana Group yang merupakan perusahaan operator ternama…

Moriano Utomo saat membawa api obor Asian Games 2018 (Foto: Dok. Industry)

Kamis, 19 Juli 2018 - 16:08 WIB

Cucu Pendiri Aqua Dukung Pawai Obor Asian Games 2018 di Yogyakarta

Moriano Utomo, cucu dari pendiri AQUA Tirto Utomo, mewakili Danone-AQUA yang merupakan sponsor resmi hidrasi Asian Games 2018 dalam Pawai Obor (Torch Relay) hari ini, Kamis (19/7/2018) di Yogyakarta,…