Sogomi- Hadirnya Seorang Pemimpin Dalam Organisasi yang Membuat perbedaan

Oleh : Stephanus Tedy | Sabtu, 09 September 2017 - 06:00 WIB

Stephanus Tedy Rozali (Foto Koleksi Pribadi)
Stephanus Tedy Rozali (Foto Koleksi Pribadi)

INDUSTRY.co.id - Keberhasilan atau kegagalan suatu organisasi ditentukan oleh para pemimpinnya. Pernyataan klasik ini mungkin sering Anda dengar atau baca. Seorang pemimpin bisa pria atau wanita. Bisa bertubuh tinggi atau pendek. Bisa kurus atau agak gemuk.  Bisa berbagai warna kulit.

Tetapi kehadiran mereka akan membuat perbedaan. Tugas dan pekerjaan dapat diselesaikan. Deadline akan dipenuhi. Itulah sebabnya ada pengawas dalam setiap pabrik, kantor cabang, supermarket atau organisasi yang memerlukan respon segera (quick response).

Bahkan sejak 2600 tahun Sebelum Masehi, para Firaun menempatkan para para mandor untuk mengatur dan mengawasi para budak membangun piramida-piramida di Mesir.  Anda sendiri mungkin pernah mengalami bagaimana dalam kondisi lalulintas yang macet dan saling serobot, seorang Polantas akan membuat lalulintas dapat berjalan normal kembali.

Kehadiran seorang pemimpin (Leadership Presence) bisa dilihat dan dirasakan dalam organisasi. Perhatikan bagaimana dalam suatu ruangan yang gaduh ketika seorang pemimpin atau tokoh yang berotoritas masuk ke dalam ruangan. Ruangan langsung senyap dan sikap kembali normal.

Orang Jepang memiliki istilah yang keren untuk kehadiran seorang pemimpin: Sogomi. Jika seorang pemimpin hadir (apapun bahasa dan kebangsaannya), Anda akan segera mengetahuinya. Dia menguasai ruangan.

Sebagai seorang pemimpin atau calon pemimpin, menjadi tugas Anda untuk membuat tingkat sogomi Anda meningkat dan semakin luas pengaruhnya. Mulai dari one on one. Satu ruangan. Satu lantai. Satu gedung. Satu organisasi. Antar organisasi. Suatu area. Suatu kota, Dan seterusnya.

Semakin tinggi level sogomi Anda, semakin mudah dan singkat tugas-tugas dapat diselesaikan. Semakin rendah level sogomi Anda, semakin keras usaha yang harus Anda lakukan dan semakin lama waktu yang diperlukan.

Ya, sesederhana itu.

Nah, bagaimana cara mengembangkan sogomi Anda?

Ada 2 bagian yang dapat Anda kembangkan. Bagian luar (apa yang dilihat dan dirasakan orang lain) dan bagian dalam (dampak yang Anda timbulkan terhadap orang lain yaitu isi kepala, sikap dan hati) Anda.

Bagian luar berkaitan dengan penampilan fisik dan pakaian yang Anda. Bagian dalam menunjukkan sikap, pengetahuan, intelegensi dan penguasaan (mastery) Anda.

1. Berpakaianlah yang pantas dan profesional (Dressing well).
Seorang Polantas yang hanya mengenakan singlet, celana pendek dan sandal jepit. Apakah Anda percaya bahwa ia Polantas? [Polantas... jelas tidak; Pak Ogah..ya].

Seorang dokter yang melayani pasien dengan celana jeans belel, sepatu jingle berantai, kaos hitam bergambar lidah menjulur keluar dan tubuh bau rokok; apakah Anda percaya dan mau makan obat yang diresepkannya?

Cara berpakaian menunjukkan diri Anda. Itulah image yang muncul dalam pikiran orang yang berinteraksi dengan Anda. Semakin baik Anda berpakaian, semakin tinggi tingkat sogomi Anda. Semakin tidak peduli Anda dengan cara berpakaian, semakin rendah sogomi Anda.

Bertahun-tahun yang lalu seorang konglomerat di bumi pertiwi mau bertemu Presiden. Karena merasa kenal dan dekat dengan Presiden, ybs hanya memakai kaus, celana pendek dan sandal. Bagaimana reaksi Paspamres? Dia dibentak-bentak dan disuruh pulang.

Pernah suatu kali saya datang ke perusahaan klien. Perusahaan ini memiliki dress code formal bagi karyawan administrasi dan semi formal / semi casual bagi para sales. Jadi saya mengenakan pakaian rapih (business formal); jas navy blue dan ikat pinggang hitam serta sepatu oxford hitam disemir mengkilap; arloji dan pena yang bagus. Setelah mengkonfirmasi dengan sekretaris, Satpam langsung mengantarkan saya lewat lift khusus ke pimpinan yang mau ditemui. Proposal disetujui.

Pertemuan minggu berikutnya adalah hari Jum’at siang. Karena merasa sudah diterima, dan hari sangat panas, saya datang kembali berpakaian semi-casual. Kemeja earth tone kotak-kotak lengan panjang dari linen. Celana dark blue jeans. Ikat pinggang marun dan Sepatu oxford full brogues warna oxblood. Arloji sport. Tanpa blazer. Tetap rapih, sebenarnya. Tapi anehnya Satpam yang berbeda meminta KTP dan mewajibkan memakai badge tamu serta meminta saya menunggu hampir 25 menit untuk bertemu pimpinan perusahaan. Jika saya tidak menelepon langsung ke pimpinan, mungkin saya akan menunggu lebih lama lagi. Pengalaman buruk ini menyadarkan saya akan pentingnya dressing well sesuai kondisi dan budaya perusahaan klien yang bersangkutan.

Berpakaian rapih dan pantas lebih mungkin untuk membuat lawan bicara menjadi lebih percaya dengan Anda. Ucapan dan saran Anda diterima. Pengaruh yang Anda miliki terbang tinggi. Waktu tunggu lebih singkat. Didahulukan di restoran. Dapat meja dan posisi duduk yang lebih baik. Antrian menjadi lebih pendek (bahkan kadangkala Anda diminta melompat antrian). Dilayani dengan lebih baik dan sopan. Diperlakukan sebagai layaknya seorang VIP.

2.   Sikap tubuh yang mantab.
Sikap tubuh menunjukkan tingkat kepercayaan diri yang Anda miliki. Jika Anda sudah memakai pakaian yang pantas tetapi sikap duduk Anda sembarangan/ mengglesor; Anda kelihatan sedang berpura-pura (fake). Sogomi Anda akan segera merosot.

Berjalanlah dengan langkah mantap. Tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat. Tangan mengayun di samping tubuh (jangan memasukkan tangan ke dalam kantung celana ketika berjalan). Wajah tegak. Pandangan mata lurus ke depan. Jika berdiri, jangan menyandarkan diri. Usahakan posisi tubuh tegak dengan kaki setengah terbuka (laki-laki) atau kaki agak tertutup (wanita)

3.   Tunjukkan sikap dan perilaku (manners and behavior) yang sopan dan sesuai.
Tersenyumlah kepada orang yang Anda temui. Perlakukan orang lain dengan sopan dan hormat. Selalu ucapkan terima kasih jika orang lain sudah melakukan sesuatu buat Anda; bahkan terhadap Office boy yang membawakan Anda minuman atau kepada Satpam yang membukakan pintu atau lift buat Anda.

Lakukan kontak mata kepada orang yang Anda temui dan ajak bicara. Jika sedang berbicara kepada beberapa orang (one to many), lakukan kontak mata singkat kepada semua orang yang hadir. Kontak mata mampu membuat orang lain terikat secara emosional dengan topik yang Anda bicarakan. Kontak mata membuat Anda tampil lebih percaya diri dan kredibilitas Anda meningkat.

Buatlah orang lain merasa dihargai, merasa penting dan merasakan bahwa Anda menyukai mereka. Bangunlah dukungan melalui interaksi positif dengan orang-orang di sekitar Anda. Inspirasilah orang lain dengan kata-kata, ungkapan dan bahasa tubuh Anda.

4.   Tunjukkan isi kepala Anda (kompetensi, intelegensi, pengetahuan dan penguasaan).
Demonstrasikan kompetensi, pengetahuan dan penguasaan Anda kepada lawan bicara Anda terutama jika sedang melakukan presentasi atau komunikasi khususnya kepada para pimpinan atau decision maker. Detail mengenai menunjukkan isi kepala Anda akan dimuat dalam artikel berikutnya: Sogomi (Leadership Presence): 4 Langkah Meningkatkan Sogomi Anda.

Stephanus Tedy, Konsultan Bisnis, Pembina Paradigma, Pengembang Para Pemimpin, Penulis Buku.

 

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Bank BTN Dukung Penguatan Usaha Kecil Menengah (Foto Rizki Meirino)

Minggu, 19 November 2017 - 16:00 WIB

Masuk Daftar MSCI, Saham BBTN Bakal Banyak Peminat

PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) menilai masuknya saham perseroan ke dalam Morgan Stanley Capital International (MSCI) Global Standard Index merupakan kepercayaan yang harus dijaga dengan meningkatkan…

PT Pertamina Lubricants (Foto Ist)

Minggu, 19 November 2017 - 15:59 WIB

Pertamina Lubricants Meraih Platinum SNI Award 2017

Perseroan Terbatas Pertamina Lubricants berhasil meraih Platinum SNI Award 2017 untuk kategori Perusahaan Besar Barang Sektor Kimia dan Serba Aneka dari Badan Standardisasi Nasional.

PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC)

Minggu, 19 November 2017 - 15:51 WIB

Produksi Migas MEDCO Naik

Produksi minyak dan gas bumi PT Medco E&P Indonesia dan Medco E&P Natuna Ltd naik pada semester pertama 2017 dibanding periode sama tahun sebelumnya yang antara lain disebabkan adanya pengambilalihan…

Listrik Ilustrasi

Minggu, 19 November 2017 - 15:47 WIB

YLKI: Konsumsi Listrik Indonesia Masih Rendah

Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mengatakan konsumsi listrik Indonesia masih rendah sehingga penghapusan tarif listrik kelas daya terendah tidak tepat…

Teguh Santosa Ketua Umum SMSI (Foto Ist)

Minggu, 19 November 2017 - 15:33 WIB

PWI Fasilitasi UKW untuk Wartawan Perusahaan Media Siber Anggota SMSI

Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) memberi kesempatan kepada wartawan yang bekerja di perusahaan media siber anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) untuk mengikuti Uji Kompetensi Wartawan…