INDUSTRY.co.id -Jakarta- eyos, perusahaan teknologi ritel global yang menyediakan solusi  berbasis data untuk merek global, nasional, dan peritel lokal melihat potensi pertumbuhan yang besar untuk sektor ritel Indonesia. Kendati kondisi perekonomian sempat melesu akibat pandemi Covid-19, namun perlahan pemulihan mulai dirasakan di berbagai lini, termasuk sektor ritel.

Advertisement

Yongky Susilo, Senior Advisor eyos Indonesia memaparkan seperti apa peluang pertumbuhan sektor ritel di Indonesia tahun 2022 dan apa saja yang disiapkan eyos untuk mendukung pertumbuhan bisnis para pelaku usaha ritel di Indonesia.

Bagaimana peluang pertumbuhan sektor ritel Indonesia tahun depan?
Tahun 2020-2021 kita memang masih up and down karena pandemi Covid-19. Namun, di tahun 2022 ada optimisme bahwa kita lebih bisa mengendalikan situasi karena kita sudah belajar banyak. Semestinya di 2021 kita bisa tumbuh lebih baik. Namun, kita mengalami gelombang kedua dengan adanya varian Delta. Kita berharap tidak ada mutasi baru yang bisa menyerang Indonesia lagi.  

Advertisement

Dalam hal ritel, saya selalu membagi dua, yaitu antara lifestyle yang ada di mal dan grocery retail (yang menjual bahan kebutuhan pokok). Kalau lifestyle biasanya tumbuh second stage sedangkan grocery karena kebutuhan sehari-hari jadi tumbuhnya lebih cepat.

Menuju akhir tahun kami melihat biasanya lifestyle akan meningkat tajam. Mal sudah dibuka untuk orang dewasa maupun anak-anak. Sementara itu, untuk FMCG (fast moving consumer goods) pertumbuhan masih konvensional tapi sudah tinggi dibandingkan awal tahun. Saya harapkan dengan semua sudah terkontrol, semakin banyak yang divaksin, pemulihan akan kembali bagus.

Advertisement

Kami di ritel selalu optimis. Selama pemerintah selalu mendukung dan memang pemerintah bekerja keras luar biasa. Prospek ekonomi dalam negeri juga lebih tinggi tahun depan, begitu pula perbaikan ekonomi secara global. Ekonomi kita tahun ini masih tumbuh 3% dan diperkirakan tahun depan mencapai 4%-4,4%. Saya perkirakan FMCG pertumbuhannya masih single digit secara nasional, antara 5%-9%. Untuk modern retail saya perkirakan sudah bisa double digit pertumbuhannya di kisaran 11%-15% tahun depan.

Apa saja faktor yang menjadi kunci bagi pertumbuhan industri ritel tahun depan? Apakah transformasi digital masih menjadi highlight?
Pertama adalah peran ekonomi. Pada awal-awal pandemi terjadi penurunan ekonomi karena daya beli masyarakat, khususnya kelas menengah ke bawah turun. Ada yang kehilangan pekerjaan, kekurangan jam kerja, dan sebagainya yang menyebabkan daya beli mereka turun. Tanpa daya beli, akan susah. Kedua, tentunya pengetahuan mendasar tentang ilmu ritel. Pengusaha ritel harus peka dan sigap terhadap perubahan dari masa ke masa agar tidak ketinggalan.  

Advertisement

Ketiga, mengenai transformasi digital. Digital penting karena mengutamakan efisiensi dan efektivitas. Sudah lama kita mendorong transformasi digital di sektor ritel. Banyak yang harus dikerjakan, mulai dari informasi konsumen, informasi produk, promosi, dsb. Kita sudah harus mulai digitalisasi karena terbukti di waktu ada pembatasan dan konsumen tidak boleh toko, dengan kita punya customer database kita tetap bisa komunikasi dengan konsumen.  

Apa saja yang akan menjadi tren di industri ritel tahun depan?
Proses belanja ke depan adalah omnichannel, yaitu penggabungan antara toko offline dan online. Di Indonesia, banya peritel mengklaim mereka sudah omnichannel. Mereka pikir kalau sudah punya toko offline dan toko online di website, Facebook, itu berarti sudah omnichannel. Padahal itu adalah multichannel. Yang bisa mengklaim omnichannel atau bukan adalah konsumen yang merasakan pengalaman belanja tersebut.  

Strategi apa saja yang perlu dipersiapkan pelaku industri menjawab tren tersebut?
Kunci untuk menjawab perkembangan tren ke depan tidak lepas dari kemauan dan keterbukaan untuk mempelajari serta memahami teknologi baru, disiplin dan komitmen dalam menjalankan strategi transformasi serta selalu berinovasi. Selain itu, juga harus disiapkan pendanaan yang memadai.  

Solusi apa yang dapat diberikan eyos untuk pelaku industri agar sukses menghadapi 2022?
Dulu kekuatan ada di sisi manufaktur karena sifatnya supply driven, peritel kecil kekuatannya. Namun sekarang, kekuatan itu ada di peritel. Di Indonesia, di setiap daerah ada local giant. Hanya saja, mereka masih bersifat tradisional, baru mulai memoderenisasi seiring peralihan generasi penerusnya. Kami di eyos punya fokus untuk membuat panel local giant key account. Kami akan mempunyai data yang sangat tajam di level transaksional.

eyos membantu menganalisis perilaku konsumen untuk membuat strategi dan taktik baru dalam maksimalkan konsumen berbelanja. eyos juga menyiapkan perangkat software yang bisa membantu peritel dalam menyiapkan laporan maupun promosi tambahan untuk menarik traffic ke toko. Analisis ini berguna untuk meningkatkan pertumbuhan bisnis. Tugas kami di eyos adalah grow the business, bukan cuma analisis. Bagaimana membuat angka revenue naik melalui training karyawan, dan pengelolaan merchandising. Kami membantu peritel membuat inovasi-inovasi baru, seperti menciptakan toko dalam toko.

Kami melihat local giant tokonya besar-besar tapi displaynya masih membosankan. Mudah-mudahan tahun depan bisa kita lihat perubahan ini. eyos akan buat heboh kota per kota, membantu memajukan para peritel local giant.

Ritel itu harus punya sesuatu yang heboh agar menarik, apalagi di Indonesia. Ke depan, perkembangan ritel akan didorong oleh imajinasi (imagination driven). Untuk itu, imajinasi konsumen harus direalisasikan, dengan menghadirkan pengalaman yang wow, baik dalam hal format toko maupun proses belanja.