INDUSTRY.co.id - Dunia digital dapat diibaratkan sebagai sebuah pisau. Pengguna dapat melakukannya untuk hal apapun, berdampak positif ataupun negatif. Internet kalau digunakan dengan baik dapat menjadi wadah pengembangan diri. 

Di era ini, anak-anak juga sudah pandai dalam menggunakan gadget dan internet. Lalu, bagaimana orang tua berperan untuk menjadikan anak itu aman dalam menggunakan internet. Gadget dan media soisal saat ini merupakan bagian dari kehidupan. Tanpa disadari, mulai dari bangun tidur hingga kembali tidur benda yang pertama dipegang adalah gadget.

Lucas Alvian Susanto, Founder Creative Counseling Center menjelaskan, di tengah situasi pandemi, penggunaan internet juga dapat mengancam penggunanya. Ancaman yang banyak terdapat akibat penggunaan media digital dan internet meliputi berkurangnya aktivitas fisik, sehingga menjadi tidak seimbang. 

Kemudian, jam tidur yang terbalik antara siang dan malam, kekurangan gizi, sakit kepala dan leher, konten negatif, misinformasi, cyberbullying, dam kecanduan game online.

"Orangtua mengizinkan anaknya main gawai, sebenarnya tujuannya untuk pendidikan agar anaknya semakin cerdas dan pintar, pengenalan teknologi agar tidak gaptek. Lalu, orangtua juga khawatir dengan kesehatan mereka, ketergantungan atau adiksi dari gadget, dan konten negatif,” papar Lucas Alvian, saat menjadi pembicara dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, melalui siaran pers yang diterima Industry.co.id.

Ia memaparkan, harapan orangtua gadget digunakan untuk pendidikan. Akan tetapi, nyatanya banyak digunakan anak-anak untuk bermain game, video hiburan, dan belajarnya hanya sedikit. Selain itu, data yang lain memaparkan bahwa anak-anak banyak menggunakan gawainya di rumah. Padahal, pada saat di rumah, waktu paling  banyak dihabiskan seharusnya bersama keluarga. 

"Hal ini terjadi karena kecanggihan teknologi dalam revolusi industri 4.0 dan dampaknya yang luar biasa. Internet  memberikan peluang utnuk mengakses informasi dengan cepat, tepat, dan terjangkau. Produk dari internet juga banyak yang menarik, seperti games dan media sosial. Kemudian, produk internet ini menjadi idola bagi sebagian orang," tuturnya.

Akibatnya, anak menjadi kecanduan internet. Kecanduan adalah apapun itu yang berlebihan. Faktor penyebab kecanduan internet pada anak ini di antaranya, tujuan dan target yang jelas, misalnya saat anak bermain game, sensasi potensi dan prestasi. Selanjutnya, rasa memiliki dan kebersamaan, kebebasan dan pelarian, serta identitas yang jelas atau menciptakan identitas baru di dunia maya.

Selain itu, terdapat peringkat-peringkat dalam penggunaan internet. Pertama, salience ini merupakan  bermain internet yang mendominasi pikiran, perasaan, dan perilaku. Kedua, tolerance yaitu bermain internet dengan intensitas yang lebih tinggi dibandingkan salience.

Ketiga, mood modification di mana anak sudah mulai memiliki euphoria  yang mempengaruhi mood dalam menggunakan internet. Keempat, withdrawal yang dimaknai sebagai perasaan tidak nyaman yang muncul ketika waktu bermain internet dikurangi atau diberhentikan.

Kemudian, pada tingkatan kelima terhadap relapse, yaitu sudah berhenti menggunakan internet, tetapi memiliki kecenderungan untuk menggunakannya lagi. Keenam, konflik yaitu permasalahan interpersonal disebabkan oleh aktivitas internet berlebih. 

Ketujuh, problems yakni masalah disebabkan oleh aktivitas internet berlebih dan kemudian mengesampingkan tanggungjawab untuk mengejar kesenangan dunia maya. Apabila sudah mencapai tingkat 5,6, dan 7 maka anak harus dibawa ke konselor agar bisa perlahan mengurangi penggunaan internet.

Sebagai orangtua, cara pencegahannya tidak sulit. Orangtua harus mampu menciptakan rasa aman, bernilai, dihargai, dipahami, dan dicintai untuk diberikan atau dirasakan oleh anak. Mereka bisa mempelajari gadget dengan sendirinya, tetapi mereka sebagai anak tidak bisa menciptakan rasa-rasa tersebut tanpa adanya peran orang tua. 

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 - untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, ini juga menghadirkan pembicara, Henry V. Herlambang (Co-Founder & Chief Marketing of @Kadobox.id), Hellen Citra Dewi (Psikolog & Trainer Sejiwa), Irma Nawangwulan (Dosen International University Lisson Indonesia), dan Manda Utoyo.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.