INDUSTRY.co.id - Jakarta, Mantan Menteri Kesehatan, Dr Siti Fadilah Supari menyatakan mendukung pengembangan Vaksin Nusantara besutan mantan Menteri Kesehatan Dokter Terawan Agus Putranto.
Pasalnya, dirinya sejak divaksin nusantara pada bulan lalu (April-red) merasa lebih baik dan tidak mengalami efek apapun.
"Sampai saat ini tidak ada efek samping pada saya. Malahan saya merasa lebih sehat dari sebelumnya. Sudah bisa turun naik anak tangga dirumah gak capek," jelas Siti Fadillah Supari dalam keterangannya yang dikutip redaksi INDUSTRY.co.id pada Sabtu (29/5/2021).
Selain itu, saat ini, menurut nya, ditengah keterbatasan kemampuan vaksin konvensional untuk menghadapi mutasi virus Covid-19, vaksin berbasis Immunoterapi sel dendritik sangat diharapkan menjadi alternatif.
Tak hanya itu, dunia internasionalpun disebut Siti Fadilah sedang menunggu penggunaaannya.
“Hampir semua negara di dunia, termasuk negara maju, menunggu penggunaan Vaksin Immunoteraphy Nusantara,” ungkapnya.
Untuk itu, Ia berharap Terawan dan para peneliti yang terlibat dapat segera menyelesaikan uji klinis Vaksin Nusantara, dan membantu mengakhiri pandemi Covid- 19 ini.
Sebelumnya, Dokter Terawan mengemukakan bahwa vaksin nusantara akan mampu menghentikan pandemi Covid-19.
Pasalnya, vaksin imunoterapi berbasis sel dendritik ini telah mulai diakui dunia.
Salah satunya terungkap dari sebuah jurnal kesehatan yang diterbitkan di New York Amerika Serikat.
Dalam jurnal yang berjudul "Begining of the End Cancer and COVID-19' dikatakan bahwa Sel Dendritik Vaksin Imunoterapi memiliki kemampuan mengobati Covid-19.
Selain itu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD), dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) juga sudah resmi menyepakati pengembangan vaksin nusantara ini.
"Artinya apa, dunia sepakat bahwa yang akan menyelesaikan virus ini termasuk COVID-19 adalah dendritik sel vaksin imunoterapi atau vaksin nusantara," kata Terawan dalam pernyataannya secara virtual, seperti dikutip redaksi INDUSTRY.co.id dari laman Youtube Josie Cynthia, Kamis (27/5/2021).
Adapun terkait perbedaan antara vaksin konvensional dan vaksin nusantara, menurut Terawan, sel dendritik ini lebih aman karena melakukan intervensi di luar tubuh manusia dengan melakukan rekombinan SARS CoV-2.
Sementara vaksin konvensional menggunakan virus corona yang sudah tidak aktif.
"Sel dendritik ini sangat safety, karena kita sudah lama berkecimpung dalam pembuatan dendritik vaksin. Kita sudah mengembangkan jauh-jauh hari untuk penanganan kanker. Kita dengan dr Nyoto (Nyoto Widyo Astoro,red) telah bersama-sama mengubah antigennya, menjadi antigen artificial atau antigen rekombinan COVID-19," imbuh Terawan.
Bahkan menurutnya, vaksin nusantara ini bisa menyesuaikan diri, bahkan ketika mutasi virus terjadi.
"Vaksin ini bisa menyesuaikan kapan saja, mau mutasi kapan saja bisa kita sesuaikan," ujar Terawan.
"Dan vaksin dendritik ini akan bertahan berpuluh tahun, dan akan awet dalam jangka panjang. Jadi harapannya tak perlu lagi ada perdebatan vaksinnya akan seperti apa," tandasnya.