INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Pasar valuta asing memasuki awal pekan dengan pergerakan yang cenderung volatil. Dolar AS kembali mendapatkan pijakan setelah investor mencermati melemahnya pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) sekaligus meningkatnya risiko geopolitik di sekitar Selat Hormuz.

Pasangan EURUSD tercatat melemah ke sekitar 1,1553 pada perdagangan Senin (10/8). Pergerakan euro tertekan oleh penguatan kembali dolar AS yang didorong permintaan aset safe haven di tengah ketidakpastian geopolitik.

Padahal, dari sisi fundamental ekonomi AS, sejumlah indikator justru memberikan sinyal yang kurang positif bagi dolar. Ekonomi AS tercatat kehilangan 23.000 lapangan pekerjaan pada Juli, berbanding terbalik dengan ekspektasi pasar yang memperkirakan penambahan 80.000 pekerjaan. Data bulan sebelumnya juga direvisi lebih rendah.

Tekanan terhadap pasar tenaga kerja AS semakin terlihat dari perlambatan pertumbuhan upah tahunan menjadi 3,2% dari sebelumnya 3,4%. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi tekanan bagi Federal Reserve untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat.

Namun, pasar belum sepenuhnya menganggap pasar tenaga kerja AS mengalami pelemahan tajam. Tingkat pengangguran justru turun menjadi 4,1% dari 4,2%. Situasi ini membuat pelaku pasar masih harus mencermati data ekonomi berikutnya sebelum memperkuat spekulasi mengenai pemangkasan suku bunga The Fed.

Di tengah tarik-menarik antara fundamental ekonomi dan risiko geopolitik, dolar AS kembali memperoleh dukungan sebagai aset safe haven. Ketidakjelasan mengenai pembukaan kembali jalur pelayaran Selat Hormuz, ditambah laporan serangan terhadap fasilitas energi dan kapal tanker, menjaga premi risiko geopolitik tetap tinggi.

Situasi tersebut turut menopang harga minyak dan pada saat yang sama meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi. Alhasil, meski pasar mulai mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September, peluang bank sentral AS mempertahankan kebijakan ketat lebih lama masih menjadi perhatian investor.

Data inflasi konsumen AS yang akan dirilis pada Rabu menjadi katalis penting bagi pasar. Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi memperkuat dolar AS karena pasar akan kembali memperhitungkan ruang pelonggaran moneter The Fed. Sebaliknya, inflasi yang lebih rendah dapat memperbesar ekspektasi pemangkasan suku bunga dan kembali memberikan tekanan terhadap dolar AS.

Untuk EURUSD, area 1,1500 menjadi support penting, sedangkan resistance berada di sekitar 1,1600.

Tekanan terhadap mata uang utama juga terlihat pada pound sterling. GBPUSD bergerak melemah ke 1,3488 pada awal pekan seiring kembali menguatnya dolar AS.

Meski demikian, penguatan dolar masih menghadapi batas karena pasar semakin mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September menyusul pelemahan pasar tenaga kerja AS. Perhatian investor kini tidak hanya tertuju pada inflasi AS, tetapi juga data Produk Domestik Bruto (PDB) Inggris kuartal II yang akan dirilis Kamis.

Data tersebut akan menjadi indikator penting untuk membaca kekuatan ekonomi Inggris sekaligus memberikan petunjuk terhadap arah kebijakan Bank of England. GBPUSD memiliki support di 1,3450 dan resistance di 1,3550.

Sementara itu, dolar Australia masih berupaya mempertahankan tren penguatannya meski AUDUSD pada awal pekan terkoreksi 0,1% menjadi 0,7063. Koreksi tersebut terjadi setelah dolar Australia mencatat penguatan selama enam pekan berturut-turut dan sempat menyentuh 0,7078, level tertinggi dalam tujuh pekan.

Pergerakan AUD masih mendapatkan dukungan dari pelemahan dolar AS akibat data ketenagakerjaan yang lebih buruk dari perkiraan. Namun, pasar kini mengalihkan perhatian kepada keputusan Reserve Bank of Australia (RBA) pada Selasa.

RBA diperkirakan mempertahankan suku bunga di level 4,35%. Kendati demikian, nada kebijakan bank sentral akan menjadi perhatian utama karena risiko inflasi masih tinggi. Pernyataan yang lebih hawkish, revisi proyeksi inflasi ke atas, atau perbedaan pandangan di antara anggota dewan dapat kembali menghidupkan ekspektasi kenaikan suku bunga dan menopang AUD.

Sebaliknya, sinyal bahwa tekanan inflasi mulai mereda dapat membatasi ruang penguatan dolar Australia. AUDUSD memiliki support di 0,7000 dan resistance di 0,7089.

Tekanan serupa juga terlihat pada dolar Selandia Baru. NZDUSD bergerak melemah ke 0,5885 setelah sebelumnya mencapai level tertinggi dalam lebih dari dua bulan.

Kiwi masih memperoleh dukungan dari pelemahan dolar AS setelah ekonomi AS secara tak terduga kehilangan lapangan pekerjaan pada Juli. Kondisi tersebut mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September.

Dari dalam negeri Selandia Baru, sentimen terhadap kiwi masih ditopang ekspektasi bahwa Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) berpotensi kembali menaikkan suku bunga. Namun, pelemahan pasar tenaga kerja domestik mulai memunculkan pertanyaan mengenai seberapa jauh bank sentral dapat melanjutkan pengetatan.

NZDUSD memiliki support di 0,5850 dan resistance di 0,5907.

Di kawasan Asia, yen juga menjadi perhatian setelah USDJPY sempat turun ke 157,20. Pasar mencermati Ringkasan Opini Bank of Japan (BoJ) dari pertemuan 30–31 Juli yang menunjukkan adanya perbedaan pandangan di antara para pejabat bank sentral Jepang mengenai arah suku bunga.

Sebagian pejabat memilih mempertahankan suku bunga untuk melihat dampak kebijakan sebelumnya terhadap ekonomi dan inflasi. Namun, sebagian lainnya menilai kondisi moneter masih cukup longgar sehingga membuka ruang bagi kenaikan suku bunga lanjutan.

Perbedaan pandangan tersebut membuat yen sensitif terhadap perubahan ekspektasi pasar mengenai kecepatan pengetatan kebijakan BoJ. Pada saat yang sama, permintaan safe haven terhadap dolar AS akibat ketegangan geopolitik masih menjadi faktor penahan bagi penguatan yen.

USDJPY memiliki support di 156,50 dan resistance di 158,00.

Franc Swiss juga berada dalam tekanan setelah USDCHF menguat ke 0,8087. Dolar AS kembali mendapatkan tenaga dari meningkatnya permintaan aset safe haven meski data ketenagakerjaan AS sebelumnya menekan ekspektasi kenaikan suku bunga.

Namun, ruang penguatan USDCHF masih akan sangat bergantung pada data inflasi AS. Inflasi yang lebih rendah dapat kembali meningkatkan ekspektasi pelonggaran The Fed dan menekan pasangan mata uang tersebut. Sebaliknya, inflasi yang lebih tinggi dapat memperkuat dolar AS.

Support USDCHF berada di 0,8050, sedangkan resistance di 0,8120.

Sementara itu, USDCAD bergerak menguat ke 1,3951. Selain ditopang permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven, pasangan ini turut dipengaruhi dinamika harga minyak.

Dolar Kanada memiliki sensitivitas tinggi terhadap pergerakan harga minyak karena Kanada merupakan salah satu eksportir energi utama. Kenaikan harga minyak berpotensi menopang dolar Kanada sehingga membatasi kenaikan USDCAD. Sebaliknya, kombinasi penguatan dolar AS dan pelemahan harga minyak dapat memberikan ruang bagi USDCAD untuk melanjutkan kenaikan.

Untuk USDCAD, support berada di 1,3900 dan resistance di 1,4000.

Dengan demikian, pasar valas pada pekan ini berada di persimpangan antara prospek perubahan kebijakan bank sentral dan meningkatnya risiko geopolitik. Data inflasi AS menjadi kunci karena akan menentukan apakah pelemahan pasar tenaga kerja cukup kuat untuk mendorong The Fed menuju kebijakan yang lebih longgar, atau justru tekanan inflasi membuat bank sentral tetap berhati-hati.

Di sisi lain, perkembangan Selat Hormuz dan harga minyak berpotensi menjadi variabel yang memperumit perhitungan pasar. Jika risiko geopolitik kembali meningkat, permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven dapat menguat, sekaligus menjaga tekanan inflasi melalui kenaikan harga energi.