INDUSTRY.co.id - JAKARTA — Harga minyak mentah bergerak bullish pada pembukaan perdagangan pekan ini. Penguatan harga minyak ditopang oleh meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, terutama setelah Iran kembali menegaskan penutupan Selat Hormuz, serangan kelompok Houthi Yaman terhadap fasilitas kilang Saudi Aramco, serta memanasnya situasi di Gaza.
Sentimen tersebut kembali menghidupkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak global. Selat Hormuz menjadi salah satu titik krusial dalam perdagangan energi dunia sehingga setiap eskalasi di kawasan tersebut berpotensi meningkatkan premi risiko pada harga minyak.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi pada Minggu (9/8) mengatakan Iran hampir mencapai kesepakatan final dengan Oman terkait penetapan jalur pelayaran baru di antara kedua negara yang melintasi Selat Hormuz. Namun, Araqchi menegaskan Teheran belum akan membuka kembali jalur tersebut kecuali Amerika Serikat memenuhi sejumlah persyaratan, termasuk pembayaran kompensasi serta penghentian sanksi dan ancaman militer.
Sikap Iran tersebut menjadi salah satu katalis utama yang menopang harga minyak pada awal pekan. Pasar kembali mencermati risiko terhadap kelancaran arus perdagangan energi apabila ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat terus meningkat.
Tekanan geopolitik juga datang dari Yaman. Juru bicara militer kelompok Houthi, Yahya Saree, mengklaim pihaknya telah menyerang kilang Jazan milik Saudi Aramco pada Minggu. Serangan tersebut terjadi hanya dua hari setelah Arab Saudi menandatangani pakta pertahanan dengan Turki dan Pakistan.
Saree juga menyebut kelompok Houthi telah melancarkan serangan menggunakan rudal dan drone terhadap kota pelabuhan Mocha di tepi Laut Merah, Yaman. Eskalasi tersebut menambah kekhawatiran pasar terhadap stabilitas jalur perdagangan dan infrastruktur energi di kawasan Timur Tengah.
"Situasi tersebut mengindikasikan meningkatnya ketidakstabilan di kawasan regional di tengah memanasnya perang Iran dengan AS," demikian sentimen yang menjadi perhatian pelaku pasar minyak pada awal perdagangan pekan ini.
Dari Gaza, sentimen geopolitik kembali memanas setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Minggu menegaskan penolakannya terhadap rencana terbaru Presiden AS Donald Trump untuk Gaza. Netanyahu menyatakan Israel tidak akan menarik pasukannya hingga Hamas melucuti seluruh persenjataannya.
Ketegangan tersebut membuat pasar minyak kembali memasukkan risiko geopolitik sebagai faktor penting dalam menentukan arah harga. Jika konflik meluas dan mengganggu jalur distribusi maupun fasilitas energi, pasokan minyak global berpotensi menghadapi tekanan yang lebih besar.
Meski demikian, kekhawatiran terhadap gangguan perdagangan di kawasan lain mulai mereda. Dua pejabat pemerintah Turki pada Minggu mengatakan kapal-kapal masih dapat melintas dengan lancar melalui jalur selat Turki menuju Laut Hitam.
Pernyataan tersebut meredam kekhawatiran pasar setelah Ankara pada Sabtu memberlakukan moratorium terhadap lalu lintas kapal komersial yang memasuki Laut Hitam menyusul serangan terhadap sejumlah kapal di kawasan tersebut, termasuk kapal milik Turki.
Dari sisi teknikal, ruang penguatan harga minyak masih terbuka apabila sentimen geopolitik tetap menjadi katalis utama. Harga minyak berpotensi menguji level resistance terdekat di US$81 per barel.
Sebaliknya, apabila muncul katalis negatif yang mampu meredakan ketegangan geopolitik atau memperkuat kekhawatiran terhadap permintaan minyak, harga berpotensi terkoreksi menuju level support terdekat di US$76 per barel.
Dengan demikian, arah harga minyak pada awal pekan ini masih sangat bergantung pada perkembangan konflik di Timur Tengah. Pasar akan mencermati setiap perkembangan terkait Selat Hormuz, Iran, konflik Gaza, serta aktivitas kelompok Houthi karena eskalasi lebih lanjut dapat dengan cepat meningkatkan risiko gangguan pasokan dan mengerek harga minyak.