INDUSTRY.co.id - Jakarta, Pemerintah terus berupaya mengakselerasi Bandara Kertajati di Jawa Barat. Pasalnya, sejak tahun 2018 Bandara terbesar kedua di Indonesia ini beroperasi terus menerus mengalami kerugian akibat sepinya penumpang.
Penyebabnya tak lain adalah infrastruktur penunjang seperti akses tol menuju bandara yang belum memadai.
Selain jauh, masyarakat juga kesulitan mengakses bandara megah tersebut. Beberapa maskapai pun terpaksa angkat kaki lantaran hal tersebut.
Baru-baru ini tersiar kabar bahwa Pemerintah akan menjadikan Bandara senilai Rp2,6 triliun lebih tersebut sebagai fasilitas bengkel pesawat.
Menanggapi rencana tersebut, pengamat kebijakan publik Agus Pambagio dalam keterangannya kepada Kompas TV menyatakan bahwa sedari awal dirinya menentang rencana pembangunan tersebut.
"Waktu itu saya diundang makan di rumahnya (Aher). Saya bilang Kertajati jauh dari mana-mana, nggak cocok dijadikan bandara. Jarak Bandung-Kertajati sekitar 100 kilometer atau kurang lebih 2 jam perjalanan, ya mending mereka ke Cengkareng (Bandara Soetta)," kata Agus, seperti dikutip redaksi INDUSTRY.co.id pada Rabu (31/3/2021) dari laman Kompas.TV.
Ditegaskannya, Bandara Kertajati ini merupakan contoh infrastruktur yang dibangun berdasarkan unsur politis.
Penolakan ke Gubernur Jabar Aher tersebut, menurutnya bukan hanya datang darinya tapi Menteri Perhubungan Ignasius Jonan ketika itu juga tidak menyetujui rencana yang kurang feasible tersebut.
Namun, di era Menhub Budi Karya Sumadi dan Gubernur Jabar Ridwan Kamil akhirnya proyek ambisius tersebut rampung dikerjakan.
Kini, pemerintah ingin menjadikan Bandara Kertajati tersebut sebagai Maintenance, Repair, Overhaul (MRO) atau bengkel pesawat. Dengan tetap melayani penumpang, kargo, dan jamaah umrah serta haji.
Namun Agus menilai semua rencana tersebut tidak memiliki tidak berprospek bagus.
"Buat MRO harus ada lisence pabrikan, memangnya bikin pabrik bajaj. Lalu yang kedua, siapa yang mau modalin jadi MRO? Jadi pabrik (kue) klepon saja mahal saat ini. Lalu pesawat mana yang mau ke MRO di Kertajati? Boeing, Airbus, dan lain-lain pasti menolak secara ekonomis," ujar Agus.
Jika menjadi bandara untuk keberangkatan haji dan umrah, belum ada fasilitas pendukung di Kertajati. Seperti asrama haji dan hotel.
"Sudahlah saya usul dijadikan gedung kesenian saja. Sudah sulit diapa-apakan itu," tandasnya.
Dalam kesempatan itu, Agus juga menyampaikan kepada pemerintah, agar membangun infrastruktur yang sesuai dengan kebutuhan publik.
"Agar bisa mendorong pertumbuhan ekonomi dan menyejahterakan rakyat," pungkasnya.