INDUSTRY.co.id - Jakarta - Mentri Perdagangan (Mendag), Muhammad Lutfi angkat bicara terkait rencana impor beras sebanyak 1 juta ton yang menjadi polemik dan banyak ditentang berbagai pihak.

Advertisement

Mendag memastikan bahwa pemerintah tidak akan melakukan impor beras saat musim panen raya. Lutfi bahkan siap mundur dari kursi Mendag sebagai bentuk pertanggungjawaban jika salah.

"Kalau memang saya salah, saya siap berhenti. Tidak ada masalah, tapi saya harus mengambil keputusan terhadap putusan-putusan yang tidak populer," kata Lutfi saat rapat kerja dengan Komisi VI DPR, beberapa hari lalu.

Advertisement

Lutfi mengungkapkan bahwa keputusan impor beras itu telah diputuskan pemerintah dalam rapat kabinet sebelum dirinya dilantik pada 23 Desember 2020.

"Sebelum saya datang 23 Desember sudah ada notulen rapat di tingkat kabinet: memutuskan bahwa Bulog tahun 2021 harus mepunyai cadangan iron stock. Salah satunya pengadaan 500 ribu bisa dari impor. Jadi, waktu saya datang saya hanya menghitung jumlahnya," paparnya.

Advertisement

Mendag juga menekankan bahwa harga gabah yang saat ini mengalami penurunan bukan menjadi kesalahan dari Bulog maupun Kementrian Pertanian (Kementan).

Ia mengatakan curah hujan tinggi menjadi penyebab petani tidak bisa menjual gabah ke Bulog karena gabahnya pasti basah.

Advertisement

"Permasalahan hari ini, curah hujan tnggi menyebabkan gabah petani tidak bisa dijual ke Bulog karena basah. Ada kekeringan minimum dari Bulog untuk untuk bisa membeli sebagai cadangan pemerintah," tulisnya.

Terkait harga gabah yang turun, Lutfi mengaku ini bukan kali pertama ia disalahkan. Ketika harga gabah naik pun Lutfi mengaku juga disalahkan.

Berdasarkan perhitungan Kementerian perdagangan, stok akhir yang akan dimiliki Bulog masih kurang dari 1 juta ton beras. Pasalnya, dari stok beras yang tersedia di gudang Bulog saat ini sekitar 800 ribu ton, 300 ribu ton di antaranya merupakan sisa impor 2018.

Sementara itu, di sisi lain, Bulog memiliki tugas operasi pasar sekitar 80 ribu ton per bulan atau setara dengan 1 juta ton per tahun. 

"Bulog hari ini bisa cadangan berasnya di bawah 500 ribu. Itu yang saya takutkan. Karena dengan 500 ribu itu, pemerintah bisa dipojokkan pedagang dan spekulan," tegasnya.

Lutfi pun menjamin tak akan ada impor di tengah panen raya asalkan hasil produksi petani dapat diserap dengan optimal oleh Bulog. 

"Tidak ada beras impor ketika panen raya. Ini semua tidak ada impor beras setelah panen raya. Jadi, saya ingin menenangkan semua," pungkasnya.