Wonderful kah Indonesia?

Oleh : Bintang Handayani | Minggu, 07 Mei 2017 - 04:12 WIB

Bintang Handayani Ph.D
Bintang Handayani Ph.D

INDUSTRY.co.id - Pandangan kritis terhadap diskursus Pencitraan Bangsa yang paling inspiratif adalah dari sektor Pelancongan, dan salah satunya adalah soalan reflektif, Wonderful kah Indonesia? Pencitraan Bangsa banyak diartikan sebagai bagian dari tatakelola reputasi Bangsa; banyak dikaji dari spektrum Pemasaran Tempat. Spektrum yang manarik dan telah menjadi diskursus fenomenal, melibatkan multidisiplin ilmu.

Kombinasi multidisiplin ilmu ini merambah kedalam spektrum Pencitraan dan Pembangunan Tata Kota dan Pencitraan Destinasi. Belakangan ini, didalam ranah teori dan dunia praktis, Pencitran Bangsa sangat melekat dengan atribut sektor Pelancongan. Klasik nan seksi, bukan hanya menarik perhatian cendikia dikampus, para praktisi sejak tahun 1996 pun ikut bergembira dalam euphoria diskursus ini, malah catatan literatur mengindikasikan cikal bakal ranah ilmu kaji ini berasal dari para praktisi internasional yang disewa Pemerintah berbagai Bangsa untuk membenahi Citra dan Reputasi Bangsa. Tujuan utamanya untuk: (1) meningkatkan daya saing; (2) menumbuhkan kepercayaan publik; dan (3) mendatangkan kunjungan pelancong internasional dan domestik. Sementara tujuan pertama dan kedua banyak dikembangkan dari sektor investasi dan eksport, yang mana banyak dikaji dari perspektif Ekonomi makro dan mikro, tujuan ketiga dikembangkan dari perspektif multidisiplin, dengan kombinasi sektor Pelancongan dan kajian-kajian terkait seperti teknologi informasi dan komunikasi (TIK), Ekonomi (Marketing), Sosiologi dan Antropologi sosial.

Sektor Pelancongan sebagai sektor berbasis pengalaman sejak dari zaman peradaban Manusia dan meningkatnya literasi Masyarakat dunia telah bukan hanya memperkukuh fenomena sosial untuk melakukan ekplorasi namun juga ia memperjelas bahwa perjalanan Manusia yang melekat dari spektrum eksplorasi membuat mereka lebih bahagia dan lebih menghargai hidup. Terlebih, ekplorasi dari perjalanan ketempat-tempat yang jauh dari kediaman dan/atau menyaksikan atraksi keindahan alam dan keagungan wisata buatan Manusia telah bukan hanya mengubah individu secara umum dalam memandang hidup dan kehidupan, tetapi juga telah mendorong masyarakat dunia untuk memiliki cara hidup yang lebih ramah lingkungan dan mengukuhkan pandangan positif terhadap paradigma hidup berkelanjutan.

Hal ini sejalan dengan beberapa penemuan ilmiah yang mengatakan bahwa konsumsi berbasis pengalaman, yang secara khusus merujuk pada perjalanan Manusia dalam bereksplorasi melihat hal-hal lain diluar kesehariannya dan berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan melancong memberikan bukan hanya kepuasan hidup, kebahagiaan, dan juga memenuhi rasa haus yang tidak dapat ditawarkan oleh jenis konsumsi benda-benda (tangible products). Merujuk pada aspek tersebut, sektor Pelancongan bukan hanya semakin seksi dimata Pelancong tetapi juga telah mengundang banyak pihak dari ekosistem Suppliers untuk bergerak menyediakan keperluan-keperluan yang dapat dijadikan sebagai fondasi bisnis berkelanjutan.

Sebagai akibat dari literasi pihak Suppliers didalam ekosistem sektor Pelancongan, Pemasaran menjadi ujung tombak yang diharapkan mampu mengakomodir pihak Suppliers didalam ekosistem sektor Pelancongan. Tujuan utamanya untuk memekarkan peluang dari permintaan pasar (demand) yang cenderung mulai memiliki literasi yang menitikberatkan liburan sebagai aspek konsumsi berbasis pengalaman (pelancongan). Permasalahan yang kemudian muncul adalah ketika suatu Bangsa berambisi untuk mengkoordinir sektor Pelancongan dengan strategi konvensional yang diadaptasi dari spektrum Pemasaran Internasional. Yang menjadi persoalan penting adalah bagaimana men-citra-kan keberagaman aspek bangsa dengan satu tagline, untuk kemudian memayungi berbagai destinasi, beragam jenis atraksi, varian pluralistik topografi dan kultur yang sangat berwarna. Contoh paling nyata adalah wujud dari berbagai destinasi di Indonesia memiliki bukan hanya atraksi yang melekat dengan jenis Pelancongan ringan yang melekat dengan dayatarik keindahan namun juga Indonesia sebagai bangsa berkembang sebetulnya juga (banyak) melekat dengan jenis Pelancongan Gelap (dark tourism). Boleh dikatakan bahkan Pelancongan Gelap yang melekat dengan aspek suram nan gelap justru lebih berpotensi untuk membedakan Indonesia. Dengan demikian, bagaimana kedua aspek ini dapat dipadamkan (disatukan/diseragamkan) dengan tagline Wonderful Indonesia?

Suatu entitas dikatakan bagus akan menjadi lebih Agung jika yang mengatakan adalah pihak lain. Berpijak pada diskursus kritis, hal yang patut dikritisi adalah kecenderungan untuk menyeragamkan aspek berwarna. Tentu aspek berwarna dapat diseragamkan, namun apakah aspek berwarna cocok untuk diseragamkan? Selain itu, unsur pemaksaan atas penyeragaman biasanya hanya akan membawa citra yang artifisial, yang akan memadampakan bunga api rasa ingin tahu orang awam. Pariwisata Suram kurang dapat diasosiasikan dengan positif konotasi dari padanan kata-kata indah, karena unsur kesuramanlah yang ingin dijadikan pijakan sebagai pencitraan dari jenis Pelancongan Suram. Selain itu, unsur keberagaman varian atraksi yang melekat dengan topografi destinasi juga kontradiktif jika dipadamkan dengan tagline tunggal.

Bintang Handayani, Ph.D adalahDosen dan Peneliti Senior di President University, Cikarang, Indonesia. Kajian penelitiannya berkisar pada Pencitraan Pariwisata Gelap, Penggunaan Teknologi pada situs kematian, Citra Merek Pelancongan dan Personifikasi Bangsa, serta studi Media & Komunikasi.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Veolia

Senin, 24 Juni 2019 - 21:05 WIB

Veolia Water Technologies Establishes Asia Pacific Headquarters in Kuala Lumpur

Veolia Water Technologies, a leading solutions provider for both water and wastewater treatment, is pleased to announce the formation of its regional headquarters in Kuala Lumpur. The move from…

Suasana Konferensi Pers menyambut Harkopnas 2019 yang bakal diselenggarakan pada 12-14 Juli

Senin, 24 Juni 2019 - 20:59 WIB

Ini Alasan Harkopnas 2019 Diadakan di Purwokerto

Penetapan Purwokerto sebagai kota penyelenggara acara puncak Harkopnas 2019 adalah keputusan bernilai sejarah yang menarik.

Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde (Foto Dok Industry.co.id)

Senin, 24 Juni 2019 - 20:00 WIB

IMF: Perang Dagang AS-Tiongkok Tak Ada Pihak yang Diuntungkan

Ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok tidak akan menguntungkan pihak mana pun dalam jangka panjang, Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde…

Ilustrasi Ekspor (ist)

Senin, 24 Juni 2019 - 19:45 WIB

Pemerinah Bakal 'Nendang' Ekspor Lewat Insentif Fiskal

Pemerintah terus melakukan terobosan kebijakan yang dapat menggairahkan iklim usaha di dalam negeri sehingga turut memacu pertumbuhan ekonomi. Salah satu langkah strategisnya, yang dalam waktu…

LinkedIn

Senin, 24 Juni 2019 - 18:10 WIB

LinkedIn: Tiga Rising Skills Ini Pengaruhi Inovasi dan Transformasi Perusahaan di Indonesia

LinkedIn, jaringan profesional terbesar di dunia, meluncurkan Laporan Future of Skills 2019, yang mengidentifikasi 10 rising skills (peningkatan keterampilan) yang paling tinggi di antara…