INDUSTRY.co.id, Jakarta-Ekonom Core Indonesia Prof. Dwi Andreas Santosa, dalam CORE Economic Review 2020, mengatakan ketahanan pangan saat ini bukan merupakan solusi karena bukan hanya ekstensifikasi, tetapi juga intensifikasi. Sementara itu, rencana pemerintah ekstensifikasi di kalimantan sudah pernah dilakukan dan ternyata gagal.
Prof Dwi Andreas menegaskan, konversi kepemilihan lahan di Indonesia menjadi problem, lahan beralih dari kepemilikan petani ke bukan petani. Hal ini sangat-sangat berisiko, (sebab) Ketika lahan jatuh ke tangan bukan petani hanya (akan) menjadi bahan spekulasi; sangat masif di Pulau Jawa yang merupakan sentra produksi pangan nasional.”
“Kita dengar bersama bahwa sekarang ini sedang dikembangkan lagi ex lahan gambut 1 juta hektar. Kenapa pengembangan ini dilakukan? Karena dulu pernah dibangun. Impiannya sangat besar, tetapi hasilnya kita tahu persis. Kita tahu persis perjalanan sejarahnya: gagal total,”ujarnya.
Lalu kemudian di masa SBY dikembangkan lagi, food estate, kata Prof. Dwi Andreas Santosa, ceritanya sama, sama persis: gagal total. Kenapa gagal? Karena pengembangan food estate ini mengingkari scientific yang harus dipenuhi ketika kita mengembangkan food estate, yakni kelayakan tanah dan agroklimat, kelayakan infrastruktur, kelayakan sosial dan ekonomi, dan kelayakan teknologi. Sering kali, yang saya amati, faktor yang dipenuhi hanya satu, dua, bahkan maksimum tiga. Ketika keempat faktor ini tidak dipenuhi, maka jawabannya sudah pasti gagal.”
Menurut Prof Dwi Andreas Santosa, penurunan lahan pertanian sebanyak 7 juta hektar, sehingga perlu ada perluasan (lahan). Proyek di Kalimantan sejarahnya gagal, termasuk transmigrasi. Kebijakan ini harus berdasarkan kajian ilmiah, sehingga akan dipilih spot-spot yang sesuai dengan kriteria. Dari 165 ribu hektar yang direncanakan, masih ada sekitar 20 ribu hektar yang memiliki jaringan irigasi yang cukup baik, sehingga masih ada optimisme untuk mengembangkan proyek tersebut, meskipun tidak semua cocok.
“Sektor pertanian bisa menjadi penyelamat ekonomi. Kemungkinan terjadi kemarau basah, sehingga pertanian tumbuh positif tahun ini. Di samping itu, harga di pasar global juga mulai membaik, sehingga akan mendorong kenaikan pertumbuhan sektor pertanian,”ujarnya.