Riset Bagi Kemajuan Bangsa

Oleh : Joni Welman Simatupang | Selasa, 11 April 2017 - 14:05 WIB

 Joni Welman Simatupang
Joni Welman Simatupang

 

Tulisan singkat ini merupakan suara hati penulis mengenai betapa pentingnya riset atau penelitian bagi kemajuan bangsa. Memang sudah seharusnya bangsa kita bisa mengejar ketertinggalan (10 years behind?), khususnya di bidang sains dan teknologi dengan penelitian dan pengembangan yang memadai sebagai buah dari investasi dan kesabaran.

Pemerintahan Joko Widodo mungkin perlu mengubah paradigma dan skala prioritas riset yang selama ini masih menjadi masalah utama yang belum terselesaikan.

Bagaimana kita bisa mengejar ketertinggalan itu? Kita bisa belajar dari negara-negara lain yang lebih maju, sebagai contoh Taiwan. Kurang lebih tujuh tahun saya tinggal di Taipei, menuntut ilmu sampai ke jenjang doktoral dan sambil mempelajari mengapa negara ini begitu berkembang dalam bidang sains dan teknologi.

Apa yang membuat Taiwan bisa sedemikian maju, jika memang 30-40 tahun yang lalu, kondisi Taiwan masih sama dengan Indonesia? Jika pada masa itu masyarakatnya masih kurang disiplin (menurut kesaksian profesor saya): membuang sampah sembarangan, lalu lintas yang semraut, dan tidak punya budaya antri, serta industri ekonominya yang masih mengandalkan teknologi rendah (labor-intensive industry) sebagai contoh dalam menciptakan alat-alat untuk mainan anak-anak (plastic toys).

Kini sudah tidak begitu lagi. Negara kecil ini telah bertransformasi menjadi salah satu negara yang dijuluki sebagai macan Asia (One of The Four Asian Tigers).

 

Transfer Ilmu dan Teknologi

Sesungguhnya, apa yang telah terjadi? Saya mengambil contoh negara Taiwan. Ternyata, banyak dari mahasiswa yang telah dikirim oleh pemerintah Taiwan untuk menuntut ilmu ke benua Amerika (USA) sampai ke jenjang doktoral, dan diharapkan pulang kembali untuk membangun bangsanya. Dan ternyata tidak sedikit dari mereka yang kembali ke Taiwan pada masa itu (lebih dari 50%) berprofesi menjadi dosen dan peneliti baik di kampus-kampus maupun di berbagai institusi penelitian yang sudah terbentuk, seperti Academia Sinica-1928 dan Industrial Technology Research Institute (ITRI)-1973, semacam Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)-1967 dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)-1974 di Indonesia.

Apa hasilnya? Di awal tahun 90-an, Taiwan bertransformasi menjadi sebuah negara dengan industri berteknologi tinggi (a nation with a high-tech industry). Sesungguhnya, ITRI-lah yang memiliki peran penting dalam melakukan perubahan tersebut. Ilmuwan-ilmuwan Taiwan yang bekerja di lembaga tersebut berhasil mengubah mimpi-mimpi mereka menjadi kenyataan: di tahun 1976, ITRI (Industrial Taiwan Research Institute) sukses dalam mentransfer ilmu tentang pembuatan wafer semikonduktor dan proses fabrikasi IC (integrated circuit) dari Silicon Valley, California ke Taiwan, kemudian pada tahun 1980 dan 1987 berturut-turut, ITRI berhasil menginisiasi berdirinya UMC (United Microelectronics Corporation) dan TSMC (Taiwan Semiconductor Manufacturing Company), dua perusahaan komersial raksasa Taiwan di bidang industri semikonduktor yang sangat terkenal dan ditakuti di dunia. Sehingga, ada slogan yang mengatakan: “Taiwan adalah Silicon Valleynya Asia.”

Saya mengamati, betapa seriusnya para ilmuwan Taiwan mempelajari teknologi maju di negara lain, kembali ke negaranya, berkumpul dan membangun jaringan untuk bersama-sama berusaha mewujudkannya di negara sendiri. Bukankah juga Indonesia tidak kekurangan ilmuwan-ilmuwan kelas dunia? Andy Noya dalam acara Kick Andy pernah mewawancarai 25 ilmuwan kelas dunia Indonesia, salah satunya adalah Nelson Tansu, yang sekarang menjadi profesor di Lehigh University, USA.

Menurut pemikiran saya, BPPT bisa melakukan sinergi dan membangun jaringan (berkolaborasi) dengan I4 (Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional) atau Komunitas Ilmuwan Diaspora dalam melakukan transfer ilmu dan teknologi secara konsisten dan kontinu ke Indonesia.

Bantuan Dana Riset

Keseriusan pemerintah Taiwan dalam memberikan skala prioritas yang sangat tinggi bagi dunia riset sains dan teknologi patut diacungkan jempol. Dana yang digelontorkan untuk riset setiap tahun sangat besar. Bayangkan, pemerintah Taiwan melalui NSC (Nasional Science Council)-semacam LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) menggelontorkan dana sebesar USD 40-50 billion setiap tahunnya untuk pengembangan riset bagi sekitar 33 kampus negeri yang ada di seluruh Taiwan.

Sebuah jumlah yang sangat besar bukan? Lalu, bagaimanakah pendistribusian dana tersebut dilakukan? Sebagai contoh saja, di tahun 2007, alokasi dana yang diberikan oleh lembaga NSC Taiwan adalah sebesar USD 1,293.3 million di mana 70,7% nya (913.8 million) dialokasikan untuk mendukung riset akademik, 15,7% (213.7 million) untuk promosi pengembangan sains dan teknologi, dan 13,6% (175.8 million) untuk pembangunan Science Parks. Taiwan memiliki tiga Science Parks: Southern Taiwan, Central Taiwan, dan Hsincu (North) Science Based Parks.

Bagaimana dengan Indonesia? Sangat berbeda, di negara kita sepertinya riset belum menjadi priotitas. Kita masih berkutat dengan masalah yang sama. Indonesia selalu bertekad mengejar pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan, tetapi lupa bahwa kunci dari pertumbuhan yang tinggi itu adalah inovasi yang ditopang oleh penelitian sains dan teknologi yang memadai. Kebijakan pemerintah masih belum terarah dalam memprioritaskan anggaran untuk dana riset dan rekayasa.

Di tahun 2007, Dana APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) untuk sektor pendidikan hanya sebesar 11,8%. Nilai itu setara dengan Rp. 90,10 triliun dari total nilai anggaran Rp.763,6 triliun. Dan bagaimana jumlah itu didistribusikan? Apakah sesuai dengan kebutuhannya, yakni porsi yang terbesar adalah untuk mendukung riset akademik? Mengapa belum terwujud pembangunan Science Based Parks di negara kita? Bagaimana dengan jumlah publikasi paper ilmuwan Indonesia di jurnal internasional, khususnya di bidang teknik dan rekayasa?

Tahun 2012, Taiwan menduduki ranking 11 dunia, sedangkan Indonesia hanya di ranking 63. Padahal saat itu Indonesia memiliki 38 ribu peneliti, dan 1300 diantaranya berada di LIPI, sedangkan 7997 ada di lembaga-lembaga penelitian pemerintah seperti BPPT, dan non-pemerintah, dan sisanya ada di kampus-kampus dan organisasi-organisasi lainnya (The Jakarta Post 15/12/2012). Bahkan dari 40 ribu jurnal akademik internasional yang tersedia di dunia, publikasi Indonesia adalah yang paling rendah di antara negara-negara Asia Selatan seperti Malaysia, Singapura, Thailand, dan Vietnam.

Dan secara nasional, dari 177 jurnal Indonesia yang telah terakreditasi secara ilmiah, hanya 22 jurnal yang dimiliki oleh LIPI. Berapa jurnal yang dimiliki oleh BPPT? Mungkin tidak lebih dari 10. Sangat sedikit, bukan?

Memang, angka-angka tersebut belum tentu sepenuhnya valid karena masih bersifat survei yang terbatas, namun setidaknya angka-angka tersebut bisa memberikan indikasi betapa masih kurangnya perhatian atau keseriusan pemerintah kita dalam mendukung pengembangan sains dan teknologi untuk kemajuan bangsa, dan pada gilirannya bahkan bisa meningkatkan perekonomian kita menjadi lebih baik.

Semoga Presiden Joko Widodo dapat melihat permasalahan ini dalam perspektif yang tepat dan menetapkan agenda prioritasnya melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi (sebagai penjabaran dari Nawa Cita) dalam membuat kebijakan-kebijakan yang semakin baik dan tepat sasaran demi kesejahteraan bangsa kita di masa mendatang.

*Penulis Joni Welman Simatupang adalah Alumnus National Taiwan University of Science and Technology (NTUST) , merupakan Staf Pengajar di Program Studi Teknik Elektro dan Direktur Lembaga Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (LRPM) Universitas President, Cikarang-Jawa Barat.

  

 

Komentar Berita

Industri Hari Ini

BNI Syariah Salurkan Pembiayaan Sindikasi Cimanggis Cibitung Tollways Rp 400 Miliar

Rabu, 24 April 2019 - 23:26 WIB

BNI Syariah Salurkan Pembiayaan Sindikasi Cimanggis Cibitung Tollways Rp 400 Miliar

BNI Syariah turut berkontribusi dalam pembangunan infrastruktur. Salah satunya adalah dengan berpartisipasi dalam pembiayaan sindikasi pembangunan proyek jalan tol.Terbaru, BNI Syariah ikut…

Iffan Suryanto-President Director Electrolux Indonesia, bersama Barli Asmara-Indonesia Fashion Designer dan Chandra Yudasswara-Electrolux Chef.

Rabu, 24 April 2019 - 23:18 WIB

Electrolux100YearsOfBetterLiving Wujudkan Hidup Lebih Baik bersama Electrolux

Tepat satu abad sudah Electrolux mendampingi pelanggan di seluruh dunia dengan berbagai inovasinya, membantu membentuk kehidupan yang lebih membahagiakan dan berkelanjutan bagi ratusan juta…

Direktur Utama Bank, BTN, Maryono, sedang memberikan kuliah umum di kampus Universitas Andalas di Padang, Sumatera Barat, Rabu (24/04/2019)

Rabu, 24 April 2019 - 22:38 WIB

Bank BTN Berharap Dunia Kampus dapat Beradaptasi dengan Teknologi Digital

PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN), atau Bank BTN, menilai dunia pendidikan perlu dibekali pengetahuan yang sesuai dengan kebutuhan zaman sehingga lulusannya mampu beradaptasi dengan kemajuan…

Sriyono pengrajin kain pantai Sukoharjo yang mendunia

Rabu, 24 April 2019 - 22:09 WIB

Kisah Sukses Sriyono Pengrajin Kain Pantai Sukoharjo yang Mendunia

Di Kabupaten Sukoharjo banyak pelaku UMKM yang sukses membangun usahanya setelah mendapat pinjaman bunga lunak dari LPDB melalui BPR Kartarsura Makmur.

Hoshino Resorts Aomoriya

Rabu, 24 April 2019 - 22:00 WIB

Hoshino Resorts Aomoriya Terpilih Jadi Salah Satu dari 20 Ryokan Terbaik di Jepang

Perusahaan Manajemen Hotel, Hoshino Resorts melalui salah satu cabangnya, Hoshino Resorts Aomoriya, dinobatkan untuk pertama kalinya dalam "Top20 Ryokans in Japan by International Travelers…