INDUSTRY.co.id - Jakarta, Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga menjelaskan alasan terkait dana talangan yang diberikan Pemerintah kepada sejumlah Badan Usaha Milik negara (BUMN), mayoritas menurutnya, terkait pembayaran piutang pemerintah kepada BUMN.

Advertisement

“Memang betul tahun lalu diletakkan di APBN Kita. Kalau kita lihat lagi perusahaan perusahaan penerima PMN ini, misalnya PT Hutama Karya (Persero) yang mendapatkan PMN untuk membangun jalan tol Trans Sumatera. Alasan kenapa mendapatkan PMN adalah karena tidak ada swasta yang mau untuk membangun jalan tol di Sumatera, oleh karena itu butuh pancingan agar investor tertarik investasi di sana,” Arya Sinulingga, dilansir dari program Live Market Review IDX , Selasa kemarin (9/6/2020).

Adapun rincian bantuan pemerintah untuk BUMN saat pandemi Covid-19 di antaranya adalah untuk pencairan sebanyak Rp108,48 triliun dialokasikan untuk Pencairan piutang, kemudian senilai Rp22,27 triliun dan Rp19,65 triliun dialokasikan untuk Penyertaan Modal Negara (PMN).

Advertisement

Berikutnya, mengenai daftar penerima dana bantuan dari pemerintah saat pandemi untuk sejumlah BUMN yakni untuk Pencairan Piutang senilai Rp108.48 triliun di antaranya PT PLN (Persero), kemudian BUMN Karya, PT KAI, Kimia Farma, Bulog, Pertamina, dan Pupuk Indonesia.

Sementara itu, perusahaan yang menerima Penyertaan Modal Negara dalam rangka mengatasi dampak dari Pembangunan Ekonomi Nasional (PEN) adalah Hutama karya, Penanaman Nasional Madani, Bahana Pembinaan Usaha, dan Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC).

Advertisement

Berikutnya adalah daftar BUMN penerima bantuan dana talangan sebesar Rp19,65 triliun yakni Garuda Indonesia, PT. KAI, Perumnas, PT Krakatau Steel Tbk, dan Perkebunan Nusantara.

Sedangkan, rincian BUMN yang tetap merugi walaupun sudah menerima PMN diantaranya PT Krakatau steel Tbk, PT PAL, PT Dirgantara Indonesia, PT Sang Hyang Seri, Perum Bulog, PT Dok Koja Bahari, dan PT Pertani.

Advertisement

Meski BUMN tersebut tetap merugi, tapi sejumlah BUMN telah mendapatkan suntikan dana lagi ataupun PMN yang direalisasi sebagai pembangunan ekonomi nasional. 

“Krakatau steel misalnya, ini kan bisnis kita menyangkut bahan baku. Kalau bahan baku kita yang hulu ini dimatikan, yang rugi nanti Indonesia,” imbuh Arya.

Kedua, ditambahkannya, Krakatau Steel sudah berhasil kita restrukturisasi. “Tahun ini pada kuartal pertama, mereka untung sampai Rp1 triliun setelah 8 tahun. Jadi wajar saja kalau kita kasih lagi penjaminan dana talangan,” terangnya.