Efek Corona, Permintaan Nenas Banasari Makin Meningkat

Oleh : Wiyanto | Selasa, 12 Mei 2020 - 07:08 WIB

Kebun Nanas (FotoDok Industry.co.id)
Kebun Nanas (FotoDok Industry.co.id)

INDUSTRY.co.id - Blitar - Pandemi Covid-19 yang melanda hampir seluruh dunia, tak selamanya membawa dampak negatif bagi masyarakat. Sebaliknya pada situasi seperti saat ini justru menjadi momentum keberuntungan bagi sebagian masyarakat, salah satunya petani buah nenas di kawasan lereng timur Gunung Kelud Blitar Jawa Timur.

Permintaan nenas Banasari dari daerah tersebut tidak pernah sepi, terlebih pada saat situasi pandemi Covid-19. Harga jualnya pun terbilang bagus dan menguntungkan petani.

"Setiap kali panen, nenas Banasari langsung ludes diserap pasar," ujar Andrias, Ketua Kelompok Tani Mulyo Dusun Tegalrejo Desa Semen Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, Senin (11/5/2020).

Andrias mengungkapkan bahwa di tengah Pandemi Covid-19, permintaan nenasnya meningkat signifikan. Varietas Banasari sudah dilepas oleh Kementerian Pertanian sejak 2015 lalu.

"Jadi nama Nenas Banasari sendiri diambil dari akronim Blitar-Nenas-Semen-Gandusari, yang mencirikan nenas unggul spesifik lokasi setempat," beber Andrias.

Keunggulan jenis nenas Benasari, lanjut Andrias, diantaranya bisa dipanen hingga 8 kali dalam 4 tahun. Ukuran buahnya pun cukup besar serta rasanya yang manis asem segar dengan kadar brix 14-15.

“Gambarannya, kalau nenas jenis queen biasa, grade A nya hanya seberat 7 ons keatas, maka untuk Nenas Banasari bisa 1,3 kilogram keatas,” imbuhnya.

Menurut Andrias, harga jual di tingkat petani saat ini cukup bagus. Harga Nenas Banasari saat ini untuk grade A Rp 10.000/biji, grade B Rp 8.500/biji , Grade C Rp 7.000/biji, Grade D dan E di kisaran Rp 2.000 – Rp 3.000 per biji.

“Harganya bagus, menguntungkan petani. Penjualannya juga mudah karena langsung diambili mitra-mitra pedagang,” katanya.

Andrias menyebutkan bahwa hampir setiap hari ada panen nenas di daerah tersebut. Pada musim panen biasa pihaknya bisa menjual 1 pick-up per hari. Sementara saat memasuki panen raya yakni pada bulan puasa dan Agustus bisa menjual hingga 1 truk besar per harinya.

“Untuk grade A biasanya disetor ke supermarket di Surabaya. Yang grade B untuk pasar Malang Raya, grade C untuk pasaran lokal. Yang grade D dan E sudah diserap untuk industri olahan minuman nenas segar yang sudah banyak berkembang disini. Jadi setiap kali panen nyaris langsung ludes terjual,” kata Andrias.

Untuk menjaga agar harga nenas stabil, kelompok tani yang dikoordinir Andrias sudah menerapkan manajemen pola tanam atau sistem siklus. Dalam satu hektar lahan rata-rata petani menanam 19.000 rumpun Nenas Banasari, dengan ongkos produksi dari awal tanam hingga panen pertama diperkirakan sekitar Rp 67 juta.

“Kalau diambil rata-rata panen pertama 18.000 biji dengan harga per bijinya Rp 6.500, untungnya kan sudah lumayan itu. Sudah balik modal plus untung. Untuk panen selanjutnya, petani tinggal merawat dan menikmati panen,” ungkapnya antusias.

Diakuinya, selama ini bantuan dari pemerintah terutama Kementerian Pertanian dan Dinas Pertanian setempat turut membantu petani meringankan beban biaya produksi.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan, Kabupaten Blitar, Wawan Widianto menyebut pengembangan nenas di daerahnya telah berlangsung cukup lama.

“Secara agroklimat, kawasan lereng Gunung Kelud memang sangat cocok untuk pengembangan nenas. Jenis yang sekarang banyak dikembangkan yaitu Queen Ponggok di lereng barat dan Smooth Cayenne Banasari di lereng sisi timur atau Kawan Nari, Kawasan Nenas Banasari. Kami terus dorong produksi dan fasilitasi pemasarannya,” ujar Wawan.

Menurut Wawan, kedua varietas nanas ini memiliki potensi pasar yg berbeda, dimana nanas banasari banyak dipasarkan ke pasar modern atau supermarket sedangkan nanas queen ponggok banyak kepasar lokal tradisional.

"Untuk ekspor masih dijajaki," tukasnya.

Sementra itu Direktur Buah dan Florikultura Kementerian Pertanian, Liferdi Lukman saat dikonfirmasi di Jakarta menyebut nenas sebagai komoditas unggulan ekspor nasional.

“Selain untuk pemenuhan kebutuhan pasar domestik, kita terus dorong pengembangan nenas berorientasi ekspor. Saat ini Indonesia menjadi salah satu produsen sekaligus pengekspor nenas terbesar dunia. Untuk jenis nenas spesifik lokal seperti Nenas Banasari Blitar kita tetap dukung pengembangannya,” katanya.

"Tidak hanya itu, Ditjen Hortikultura telah memfasilitasi penyusunan SOP budidaya nenas Kediri dan bersama-sama dengan Dinas dan petugas lapang secara intensif mendampingi petani dalam menerapkan teknologi budidaya sesuai kaidah GAP dan SOP agar buah nenas yang dihasilkan tetap terjaga mutunya, terutama dari sisi ukuran dan rasa, “ tambah Liferdi.

Lebih detil Liferdi menjelaskan bahwa, jika ingin menghasilkan buah yang berukuran seragam, petani harus menggunakan benih yang berukuran seragam pula.

"Jarak antar tanaman juga dapat mempengaruhi ukuran buah, untuk menghasilkan ukuran buah yang besar, petani nenas Kediri menanam dengan populasi 40 ribu batang per hektar, “ ujar Liferdi yang dulu pernah sebagai peneliti di Balitbu-Solok itu.

"Lalu, untuk meningkatkan rasa manis dapat ditambahkan pupuk dengan unsur Kalium tinggi seperti KNO3, “ tambah Liferdi.

Data BPS menyebut produksi nenas nasional tahun 2019 mencapai 2.196.456 ton atau naik 21,65% dibanding tahun sebelumnya.

Sentra nenas tersebar di Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan hingga Nusa Tenggara Barat. Sementara ekspor nenas sepanjang tahun 2019 mencapai 236 ribu ton atau sekitar Rp 2,85 Trilyun yang didominasi bentuk olahan atau nenas kalengan.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

BCA

Kamis, 28 Mei 2020 - 20:30 WIB

IHSG Finish di Zona Hijau, Saham Bank BCA Naik 6,65 Persen

Pada akhir perdagangan Kamis (28/5/2020), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) finish di zona hijau sore ini. Pasar modal Indonesia ditutup naik 74,6 poin atau 1,60% ke level 4.716,18

Direktur Utama BNI Syariah Abdullah Firman Wibowo (Doc: BNI Syariah)

Kamis, 28 Mei 2020 - 20:04 WIB

BNI Syariah Siap Perkuat Bisnis Remittance

PT Bank BNI Syariah masuk BUKU 3 dan optimis dapat meraih bisnis internasional seperti remittance. Modal inti BNI Syariah di atas Rp5 triliun.

Ilustrasi Pergerakan Saham

Kamis, 28 Mei 2020 - 20:00 WIB

Naik, PT Jasuindo Tiga Perkasa Tbk Cetak Penjualan Rp1,44 Triliun Sepanjang 2019

Emiten PT Jasuindo Tiga Perkasa Tbk (JTPE) cetak penjualan sebesar Rp1,44 triliun hingga periode 31 Desember 2019 naik dari penjualan Rp1,27 triliun hingga periode 31 Desember 2018.

Ilustrasi inflasi

Kamis, 28 Mei 2020 - 19:59 WIB

Inflasi Mei 2020, Diperkirakan Rendah di Level 2,21 Persen

Ramadhan kali ini 1441 H atau 2020, tingkat inflasi tergolong rendah karena permintaan juga rendah. Inflasi Mei 2020 selama Ramadhan ini diperkirakan 2,21 persen year on year atau 0,09 persen…

PT Bibit Tumbuh Bersama (Bibit)

Kamis, 28 Mei 2020 - 19:48 WIB

PT Bibit Minta Maaf ke Sinarmas Asset Management dan Bongkar Susunan Direksi

PT Bibit Tumbuh Bersama (Bibit) merombak struktur direksi setelah Wellson Lo mengundurkan diri dari jabatan Presiden Direktur. Platform digital penjual reksa dana tersebut kini dipimpin Sigit…