INDUSTRY.co.id, Jakarta-Banyak Ketua RT, Ketua RW dan Kepala Desa/Lurah mulai pusing karena disalah-salahkan warga. Warga marah karena tidak dapat bantuan dan kemarahan itu ditimpakan kepada perangkat di tingkat bawah.

Advertisement

Warga mulai kelaparan, melakukan tindak kriminal dan antarwarga mulai saling curiga. Jika ini tidak segera diatasi, konflik horizontal dan kejahatan akan terjadi secara massif.

Salah satu cara mengatasi persoalan ini, menurut Ah Maftuchan, Pengamat Kebijakan Publik di The PRAKARSA, adalah dengan mengubah skema bantuan tunai, dari targeting (menyasar kelompok tertentu) menjadi universal (menyasar semua warga/semesta).

Advertisement

Menurutnya, bantuan tunai tanpa syarat untuk semua warga (semesta) efektif untuk mengatasi dampak sosial-ekonomi dari pandemi virus korona. Bantuan tunai tanpa syarat akan menciptakan kemandirian masyarakat dalam menentukan pilihan-pilihan konsumsinya.

Selain itu, bantuan tunai tanpa syarat akan menjadi salah satu sumber pendapatan dasar yang dapat digunakan untuk kegiatan konsumtif dan produktif secara bersamaan.

Advertisement

Bantuan tunai semesta dapat menjadi salah satu mekanisme distribusi sumber daya ekonomi secara lebih adil dan merata dengan cara-cara yang bermartabat.

Selain itu, ini akan menjadi langkah untuk mengkonsolidasikan sumber daya fiskal dan program perlindungan/bantuan sosial yang sudah ada.

Advertisement

Pendekatan semesta, kata dia,  akan mempercepat dan menyederhanakan proses penyaluran bantuan tunai sehingga akan tepat dan menghindari “exclusion error” secara total.

“Untuk itu, saya mengusulkan bantuan tunai tanpa syarat semesta yang saya namakan “JAMINAN PENGHASILAN SEMESTA (JAMESTA)”. Silakan jika mau dinamakan dengan nama lain,”ujarnya.

JAMESTA merupakan bantuan penghasilan dasar tanpa syarat bagi semua warga dengan skema:

•       Ditujukan bagi semua individu atau semesta;

•       Individu sasaran adalah seluruh individu usia produktif (15 - 64 tahun) dan usia lansia (65 tahun ++). Total individu sasaran adalah 203 juta jiwa;

•       Diberikan minimal selama 3 bulan (April – Juni 2020);

•       Tiap individu akan memperoleh uang tunai sebesar Rp500.000 per-jiwa per-bulan selama 3 bulan;

•       Total anggaran yang dibutuhkan hanya sebesar Rp.304,5 Triliun.

Skema di atas masih belum “total-universal basic income” karena masih mengecualikan anak-anak usia 0-14 tahun. Meskipun skema ini masih “quasi-universal basic income”, namun sudah mendekati semesta. Skema ini saya ajukan dengan mempertimbangkan bahwa anak-anak akan berada di bawah tanggungan keluarga.

Besaran JAMESTA Rp500.000/individu memang tidak ideal, ini semata-mata untuk menemukan “titik temu” antara yang ideal dengan yang riil, dengan pertimbangan: (i) kondisi keuangan yang dimiliki pemerintah; dan (ii) pembulatan ke atas dari Garis Kemiskinan per kapita September 2019 Rp.440.538/kapita/bulan.

Meskipun skema ini belum ideal, namun saya yakin ini skema yang paling mendekati ideal karena akan menyelesaikan banyak hal yang ruwet dan menyelamatkan ratusan juta warga dari problem sosial-ekonomi dan kesehatan secara bersamaan.