INDUSTRY.co.id - JAKARTA — Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) mengajak mahasiswa Indonesia menghadirkan inovasi yang mampu meningkatkan produktivitas kelapa sawit, kakao, dan kelapa tanpa menambah luasan lahan. Ajakan tersebut disampaikan dalam Web Seminar Call for Proposal Lomba Riset Tingkat Mahasiswa Tahun 2026–2027 sebagai bagian dari upaya mendorong riset yang menjawab kebutuhan nyata sektor perkebunan.

Kegiatan dibuka oleh Direktur Penyaluran Dana Sektor Hilir BPDP, Mohammad Alfansyah. Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya keterlibatan generasi muda dan perguruan tinggi dalam menghasilkan riset yang relevan bagi pengembangan industri perkebunan sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Mahasiswa memiliki ruang yang sangat besar untuk menghadirkan perspektif baru dan solusi yang berani. Melalui lomba ini, kami berharap lahir inovasi yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga dapat menjawab persoalan nyata serta meningkatkan kesejahteraan pekebun sawit, kakao, dan kelapa,” ujar Mohammad Alfansyah.

Program Lomba Riset Tingkat Mahasiswa merupakan bagian dari dukungan BPDP terhadap penelitian dan pengembangan komoditas perkebunan. Melalui program ini, mahasiswa didorong menghasilkan gagasan yang kreatif, inovatif, aplikatif, dan berpotensi dikembangkan lebih lanjut untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, keberlanjutan, serta kesejahteraan pekebun.

Dalam paparannya bertajuk Riset Inovatif untuk Masa Depan Industri Perkebunan Indonesia, anggota Tim Penilai Lomba Riset BPDP, Dr. Bandung Sahari, mengungkapkan bahwa sekitar 41 persen areal perkebunan kelapa sawit dikelola oleh pekebun rakyat. Sementara itu, lebih dari 90 persen perkebunan kakao dan kelapa juga berada di bawah pengelolaan pekebun rakyat.

Menurut Bandung, besarnya porsi tersebut menjadikan peningkatan produktivitas pekebun rakyat sebagai salah satu kunci masa depan industri perkebunan nasional. Namun, peningkatan produksi tidak lagi dapat mengandalkan perluasan lahan karena harus sejalan dengan perlindungan lingkungan, pengendalian konversi lahan, serta komitmen pembangunan rendah karbon.

“Pertanyaan penting yang perlu dijawab melalui riset adalah bagaimana meningkatkan produktivitas sawit, kakao, dan kelapa tanpa menambah luasan lahan, sekaligus memastikan inovasi tersebut tetap terjangkau dan dapat diterapkan oleh pekebun rakyat,” ujar Bandung.

Ia menjelaskan, tantangan produktivitas pekebun rakyat mencakup akses terhadap benih unggul, pupuk, pembiayaan, praktik pembibitan, pengendalian penyakit, hingga penerapan praktik budidaya yang baik. Tantangan serupa juga dihadapi pekebun kakao dan kelapa, mulai dari tanaman yang telah tua, dampak perubahan iklim, serangan organisme pengganggu tanaman, mutu hasil panen, hingga keterbatasan akses terhadap teknologi dan pasar.

Karena itu, mahasiswa diharapkan tidak hanya menyusun gagasan yang menarik secara akademis, tetapi juga menghasilkan proposal riset yang berangkat dari persoalan nyata, memiliki analisis kesenjangan yang kuat, menggunakan metodologi yang tepat, serta menawarkan solusi yang dapat diterapkan di lapangan.

BPDP membuka peluang inovasi di berbagai bidang, mulai dari pengembangan varietas unggul tahan iklim, perbaikan kesehatan tanah, pemupukan presisi, pengendalian hama dan penyakit yang ramah lingkungan, pengelolaan air, mekanisasi, hingga pemanfaatan Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan (AI), dan data geospasial. Selain itu, riset juga dapat mencakup bidang pascapanen, ketertelusuran rantai pasok, pemanfaatan limbah, ekonomi sirkular, pengurangan emisi gas rumah kaca, serta penguatan kelembagaan dan kapasitas pekebun.

“Riset harus mampu menjadi jembatan antara pengetahuan di perguruan tinggi dan kebutuhan nyata industri serta pekebun. Ukuran keberhasilannya bukan hanya publikasi, melainkan juga seberapa besar solusi tersebut dapat memberikan dampak,” tambah Bandung.

Sementara itu, Kepala Divisi Penyaluran Dana Riset BPDP, Rahmat Widiana, memaparkan mekanisme pengajuan proposal. Ia menjelaskan bahwa peserta merupakan mahasiswa aktif jenjang sarjana atau diploma dari perguruan tinggi negeri maupun swasta di Indonesia. Setiap kelompok terdiri atas tiga hingga lima mahasiswa dengan pendampingan satu dosen pembimbing.

“Kami mencari proposal yang mampu menunjukkan dengan jelas persoalan yang ingin diselesaikan, kebaruan solusi yang ditawarkan, dan manfaat yang dapat dihasilkan. Gagasan yang baik perlu diterjemahkan menjadi rancangan riset yang terukur, realistis, serta memiliki peluang untuk diterapkan dan dikembangkan lebih lanjut,” kata Rahmat Widiana.

Penilaian proposal akan mencakup analisis kesenjangan, kualitas dan kreativitas riset, kebermanfaatan, serta prospek pengembangan hasil penelitian. Adapun ruang lingkup riset meliputi budidaya, tanah dan lahan, pascapanen dan pengolahan, pangan dan kesehatan, bioenergi, biomaterial dan oleokimia, pengolahan limbah dan lingkungan, hingga sosial, ekonomi, manajemen, bisnis, dan teknologi informasi.

Melalui Lomba Riset Tingkat Mahasiswa Tahun 2026–2027, BPDP berharap lahir inovasi yang mampu meningkatkan hasil per hektare, menekan biaya produksi, menjaga kesehatan ekosistem, meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim, serta memperkuat kesejahteraan pekebun rakyat tanpa membuka lahan baru.