INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Sebanyak 20 pendidik terpilih sebagai penerima Mentari National Awards for Educators (MNAE) 2026 dari total 770 pendaftar yang berasal dari 228 kota/kabupaten dan 679 sekolah di Indonesia.
Penghargaan yang diselenggarakan Mentari Group tersebut diberikan kepada pimpinan sekolah dan pendidik yang dinilai menunjukkan dedikasi, kontribusi, serta praktik nyata dalam menghadirkan inovasi di bidang pembelajaran, kepemimpinan sekolah, dan pemanfaatan teknologi.
Dari 20 penerima penghargaan, sebanyak 10 pendidik menerima Mentari Changemaker Awards, lima penerima Mentari Leadership Awards, dan lima penerima Mentari Educator Awards.
Executive Director Mentari Group Natalina Rimba mengatakan, penghargaan tersebut diharapkan dapat mendorong para pendidik untuk terus mengembangkan dan membagikan inovasi yang telah dilakukan di lingkungan sekolah masing-masing.
“Selamat kepada seluruh penerima MNAE 2026. Semoga penghargaan ini menjadi apresiasi atas kontribusi Bapak dan Ibu dalam memajukan pendidikan Indonesia, sekaligus mendorong untuk terus mengembangkan dan membagikan inovasi yang telah dilakukan agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi pendidikan,” ujar Natalina Rimba.
Kapokja Dikdasmen BAN PDM 2023–2026 Andri Nurcahyani menilai apresiasi terhadap praktik baik yang dilakukan pendidik penting agar pengalaman dari berbagai sekolah dapat menjadi sumber pembelajaran yang lebih luas.
“Guru dan kepala sekolah di berbagai daerah memiliki cara dan pendekatan yang beragam dalam menjawab tantangan pendidikan di lingkungan masing-masing. Praktik-praktik tersebut penting untuk dikenali dan diapresiasi karena menunjukkan upaya nyata pendidik dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dan pengelolaan sekolah,” ujar Andri dalam konferensi pers MNAE 2026 di Jakarta.
Salah satu penerima Mentari Changemaker Awards, Muhammad Izhar Mahendra Surya Nugraha dari SMP Nation Star Academy Surabaya, mengembangkan program “Creating Eco-Conscious Learners through Sustainable Science”. Program tersebut menggunakan pendekatan project-based learning (PjBL) melalui proyek pembuatan bioplastik dari material biodegradable.
Dalam pembelajaran tersebut, siswa tidak hanya mempelajari konsep pencemaran plastik, tetapi juga menganalisis dampak lingkungan, mengenal material biodegradable, hingga merancang dan membuat prototipe bioplastik. Siswa kemudian mengevaluasi karakteristik produk, seperti tekstur, fleksibilitas, daya tahan, serta potensi terurai.
“Sebagai guru IPA, saya percaya bahwa pembelajaran sains seharusnya tidak hanya berfokus pada menghafal konsep. Siswa perlu mengalami pembelajaran sains secara bermakna dan menerapkan pengetahuan ilmiah untuk menyelesaikan permasalahan di dunia nyata,” ujar Mahendra.
Inovasi pembelajaran berbasis teknologi juga dikembangkan Desi Susanti dari SMA Negeri 1 Sendawar, Kutai Barat, Kalimantan Timur, yang menerima Mentari Educreator Awards. Ia menghadirkan “Detektif Sains”, model pembelajaran yang mengubah pembelajaran fisika menjadi aktivitas penyelidikan.
Model tersebut dikembangkan dari “Detektif Sains 1.0” pada 2024 menjadi “Detektif Sains 2.0” pada 2025 dengan memanfaatkan Soundcard Oscilloscope dan chatbot AI. Penerapannya disebut menghasilkan tingkat ketuntasan materi hingga 100% sekaligus mendorong keterlibatan siswa, literasi digital, dan kemampuan berpikir kritis.
Desi juga memperluas penyebaran praktik pembelajaran tersebut melalui lebih dari 76 video pembelajaran di kanal YouTube @ibudesifisika, serta berbagai pelatihan dan komunitas guru.
“Praktik baik seharusnya tidak berhenti di satu ruang kelas. Karena itu, saya mencoba membagikan pengalaman tersebut melalui platform digital, pelatihan, dan komunitas guru agar dapat dipelajari dan dikembangkan oleh pendidik lain,” ujar Desi.
Sementara itu, penerima Mentari Leadership Awards dari Sekolah Lentera Harapan Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, Meildy Louisa Kese, mengembangkan program literasi sebagai respons terhadap tantangan kemampuan membaca, menulis, dan berbicara siswa setelah pandemi.
Melalui Gerakan Sekolah Menulis Buku (GSMB), program tersebut berkembang menjadi kegiatan tahunan. SMA Lentera Harapan Labuan Bajo telah menghasilkan lima buku, sedangkan tingkat SMP menghasilkan empat buku yang mencakup puisi, cerpen, esai, dan opini.
Program tersebut kemudian diperluas melalui festival literasi, lomba desain sampul, peluncuran dan pameran buku, serta talkshow bersama duta literasi siswa. Karya siswa juga diarahkan agar memiliki dampak di luar lingkungan sekolah. Salah satunya melalui penanaman lebih dari 200 anakan bambu yang didukung dari hasil penjualan buku karya siswa.
“Literasi tidak hanya tentang kemampuan menulis, tetapi bagaimana siswa mampu menggunakan gagasannya untuk melakukan sesuatu yang berdampak. Karena itu, program kami terus dikembangkan agar karya dan kemampuan literasi siswa dapat terhubung dengan aksi nyata,” tutur Meildy.
Penerima MNAE 2026 berasal dari berbagai daerah, mulai dari Jakarta, Surabaya, Pekanbaru, Bekasi, Banyuwangi, Purwakarta, dan Medan hingga Labuan Bajo serta Kutai Barat. Keragaman tersebut menunjukkan perbedaan konteks dan kebutuhan yang menjadi dasar para pendidik dalam mengembangkan praktik pembelajaran maupun pengelolaan sekolah.
Mentari Group menyebut MNAE 2026 menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas. Penghargaan tersebut diarahkan untuk memperkuat peran pendidik dalam pengembangan ekosistem pendidikan sekaligus mendorong penyebaran praktik inovatif yang relevan dengan kebutuhan sekolah dan siswa.
Mentari Group sendiri berdiri sejak 2001 sebagai penyedia solusi pendidikan terintegrasi berbasis kompetensi yang mencakup tiga pilar, yakni materials, manpower development, dan measurement. Perusahaan tersebut menyediakan materi pembelajaran, program pengembangan guru, serta sistem pengukuran kompetensi bagi guru, murid, maupun profesional.
Dengan jangkauan layanan di 38 provinsi, Mentari Group didukung 21 kantor cabang, tiga Agen Nasional, sembilan toko buku fisik, 22 toko e-commerce, dan 16 mitra penerbit. Dalam pengembangan kompetensi pendidikan, perusahaan melayani lebih dari 10.500 institusi peserta pelatihan dan sekitar 49.000 peserta pelatihan setiap tahun.