Budaya Pembiaran

Oleh : Reza A.A Wattimena | Senin, 03 April 2017 - 20:26 WIB

Reza A.A Wattimena, Dosen Hubungan Internasional, President University, Peneliti di PresidentCenter for International Studies (PRECIS)
Reza A.A Wattimena, Dosen Hubungan Internasional, President University, Peneliti di PresidentCenter for International Studies (PRECIS)

INDUSTRY.co.id - Alkisah, seorang pria muda duduk menonton televisi. Ia mendapat berita soal orang-orang yang menderita, karena bencana alam gempa bumi di kota lain. Ia berkata pada dirinya sendiri, “Biarlah, yang penting aku aman di rumahku sendiri ini.” Dengan perasaan lega, ia pun lanjut menghibur diri dengan nonton acara-acara lainnya di televisi.

Keesokan harinya, ia mendapat kabar, bahwa sepupunya menderita sakit parah. Keluarga berkumpul untuk memberikan dukungan. Namun, ia tidak ikut serta. Ia berpikir, “Ah biarkanlah. Yang penting, aku nyaman dan aman di rumahku tercinta ini.”

Tak lama kemudian, tetangganya datang untuk meminjam motor, guna membeli keperluan anaknya di toko yang letaknya agak jauh dari rumah. Ia pun menolak, karena merasa tidak perlu membantu. Apalagi, motornya masih baru. Ia berpikir, “Siapa suruh ga punya motor. Udah gitu, mau pinjam motorku yang baru ini lagi. Big NO!”

Suatu hari, rumahnya mengalami musibah kebakaran. Ia pun harus kehilangan semua harta bendanya. Karena tak memiliki tabungan, ia pun memohon bantuan kepada semua kerabatnya. Ia pun kesulitan, karena tak seorang pun keluarga ataupun kerabatnya tergerak membantu.

 

Pembiaran

Inilah cerita tentang pembiaran yang menular dari satu orang ke orang lainnya. Pembiaran adalah sikap tak peduli, ketika masalah terjadi, dan orang lain tertimpa penderitaan. Pembiaran juga adalah sikap tak peduli di hadapan berbagai kesalahan dan kejahatan yang terjadi. Masalahnya, pembiaran adalah boomerang, karena ia akan juga menyerang balik orang yang membiarkan.

Jika satu kesalahan dibiarkan, maka ia akan menjadi kebiasaan. Orang tak lagi melihat hal tersebut sebagai suatu kesalahan. Inilah yang disebut Hannah Arendt, seorang pemikir Jerman, sebagai banalitas kejahatan (Banalität des Bösen). Jika kebiasaan sudah menyebar, ia akan menjadi apa yang disebut Anthony Giddens, seorang pemikir Inggris, sebagai bagian dari kesadaran praktis (practical consciousness) masyarakat tersebut.

Dengan kata lain, kebiasaan tersebut akan menjadi budaya. Dalam arti ini, budaya adalah seperangkat nilai dan aturan yang dihayati oleh sebuah kelompok. Budaya, menurut Charles Taylor, seorang pemikir Kanada, bisa secara sederhana dipahami sebagai bentuk-bentuk kehidupan (forms of life). Jika sikap tak peduli telah menjadi budaya, maka ia akan semakin sulit untuk diubah.

Pembiaran juga memperbesar suatu masalah. Kesalahan kecil dapat langsung ditanggapi dengan tepat, sehingga masalah bisa cepat selesai. Namun, jika kesalahan kecil didiamkan, maka ia akan semakin besar, dan melahirkan masalah baru. Pada akhirnya, masalah kecil ini akan menciptakan krisis di banyak aspek kehidupan yang amat sangat sulit untuk diurai dan diselesaikan.

 

Salah Paham

Sikap tak peduli melahirkan tindak membiarkan. Ini terjadi, karena orang salah memahami arti dari kehidupan ini. Mereka berpikir, mereka bisa hidup sendiri dan nyaman di dalam ketidakpedulian mereka. Mereka juga berpikir, bahwa mereka bisa membiarkan berbagai kejahatan dan kesalahan terjadi di sekitar mereka, tanpa ada pengaruh apapun ke hidup mereka.

Pembiaran juga terjadi, karena sikap meremehkan. Orang meremehkan sebuah masalah kecil, dan menganggapnya tak ada. Masalah tersebut lalu menjadi berulang, dan menciptakan beragam masalah lainnya. Sikap tak peduli dan meremehkan, dalam arti ini, adalah sumber dari segala petaka. 

Ini adalah kesalahan berpikir. Orang yang hidup di dalam kesalahan berpikir akan mengundang petaka tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga orang-orang di sekitarnya. Maka dari itu, kesalahan berpikir tidak bisa didiamkan. Ia harus diubah, demi terciptanya kebaikan bersama.

Kita harus melihat hidup sebagai sebuah jaringan yang saling terhubung satu sama lain. Di dalam wacana-wacana terbaru, kehidupan dilihat sebagai keterhubungan yang ekstrem. Perubahan di satu hal akan secara langsung mengubah hal-hal lainnya. Jika melihat hidup seperti itu, maka sikap tak peduli dan membiarkan akan lenyap secara otomatis.

Orang lalu terdorong untuk membantu orang lain, sesuai dengan kemampuannya. Orang juga lalu terdorong untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang ada. Ia sadar, bahwa kebaikan orang lain adalah kebaikannya juga. Isolasi adalah sebuah ilusi.  

 

Hukum, Keadilan dan Keberanian Sipil

Sikap membiarkan, meremehkan dan tak peduli bisa dihilangkan, jika kita menerapkan kepastian hukum. Hukum, aturan dan undang-undang dibuat untuk menata kehidupan bersama. Tentu saja, tidak ada hukum yang sempurna. Walaupun begitu, penerapannya sedapat mungkin harus mencapai tingkat kepastian yang cukup tinggi.

Untuk memastikan, bahwa hukum dan aturan berjalan dengan baik, kita memerlukan jajaran penegak hukum yang kuat dan adil. Kekuatan tanpa keadilan akan berubah menjadi penindasan. Keadilan tanpa kekuatan hanya akan menjadi cita-cita luhur tanpa kenyataan. Keduanya saling membutuhkan satu sama lain.  

Pada titik ini, kita juga memerlukan apa yang disebut Gerd Meyer, seorang pemikir Jerman, sebagai keberanian sipil (Bürgermut). Dalam arti ini, keberanian sipil adalah tindakan aktif dari warga negara untuk menyuarakan pendapat kritis mereka di dalam berbagai persoalan bersama. Pendapat kritis ini lalu diikuti dengan tindakan yang tepat, guna menyelesaikan masalah yang ada. Bentuk konkretnya adalah dengan berani menegur, ketika melihat kesalahan, atau melaporkannya kepada pihak yang berwajib.

Di sisi lain, salah satu bentuk keberanian sipil adalah dengan tidak meremehkan masalah. Kita perlu tanggap terhadap berbagai masalah yang muncul, baik kecil ataupun besar. Semua krisis di muka bumi berawal dari kesalahan kecil yang didiamkan. Sikap meremehkan, atau sikap anggap enteng, akan melahirkan kejahatan dan masalah besar yang sebelumnya tak ada.

Hanya dengan keberanian sipil yang tinggi, bangsa Indonesia bisa mewujudkan kebaikan bersama (Bonum Commune). Kebaikan bersama, di dalam ilmu Hubungan Internasional, terkait erat dengan perdamaian dan kemakmuran untuk semua pihak. Inilah tujuan tertinggi dari semua ajaran agama dan ilmu pengetahuan di muka bumi ini. Semuanya dimulai dengan kepedulian kita terhadap orang-orang terdekat di dalam hidup kita, dan tak meremehkan masalah, sekecil apapun itu…

 

Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

Komentar Berita

Industri Hari Ini

PTPP-Hyundai Sepakat Tingkatkan Kerja Sama Sektor Konstruksi(Foto Rino)

Kamis, 20 Juni 2019 - 06:31 WIB

PTPP-Hyundai Sepakat Tingkatkan Kerja Sama Sektor Konstruksi

PT PP (Persero) Tbk (“Perseroan”) salah satu perusahaan konstruksi dan investasi terkemuka di Indonesia bersama dengan PT Hyundai Engineering & Construction (“Hyundai E&C”) melakukan…

PATRIA mendapatkan apresiasi penghargaan “The 5th Outstanding Corporate Innovator Indonesia Award”

Rabu, 19 Juni 2019 - 21:56 WIB

PATRIA Raih Penghargaan The 5th Outstanding Corporate Innovator Indonesia Award

Sebagai perusahaan engineering & manufacturing yang fokus akan inovasi, PT United Tractors Pandu Engineering (PATRIA) selalu berusaha mengembangkan bisnisnya dengan masuk ke sektor-sektor baru…

Presiden Jokowi dan Presiden Donald Trump di KTT G20 (Foto Setpres)

Rabu, 19 Juni 2019 - 21:00 WIB

Presiden Jokowi akan Bahas Tiga Topik di KTT G-20

Mengenai KTT negara-negara yang tergabung dalam Group 20 (G-20), di Osaka, Jepang, 28-29 Juni mendatang, Presiden Jokowi mengatakan, ingin mengangkat, membicarakan yang pertama mengenai persoalan…

Pasukan Perdamaian PBB (Foto Ist)

Rabu, 19 Juni 2019 - 19:30 WIB

Satuan Batalion Prajurit TNI Laksanakan Misi Perdamaian PBB

Satuan Batalyon Infanteri 141/AYJP terpilih menjadi satuan tugas misi perdamaian PBB.

Pengerukan Sendimen ditepi sungai Citarum oleh PT. South Pacific Viscose

Rabu, 19 Juni 2019 - 19:08 WIB

Investor Austria Apresiasi Pemerintah Indonesia Atas Pemberian Izin Pengerukan Sendimen Ditepi Sungai Citarum

Pada pekerjaan pengerukan tersebut, PT. South Pacific Viscose yang merupakan bagian bisnis Lenzing AG dari negara Austria bekerjasama dengan PT. Barokah Jaya untuk pekerjaan di sungai serta…