INDUSTRY.co.id - Pariwisata di Indonesia yang sempat menjadi primadona atau menjadi salah satu penyumbang terbesar devisa negara terbesar, sekarang sedang mengalami kesulitan untuk mendatangkan wisatawan dikarenakan dampak dari Convid-19.
Mengutip dari beberapa berita yang ada di Indonesia, seperti yang diberitakan oleh UNWTO (United Nation World Tourism Organization), penurunan sebesar sembilan sampai dua belas persen akan terjadi pada bulan Januari sampai Maret.
Penurunan terbesar terdapat di Bali yang sejak Febuari 2020 mengalami penurunan pemasukan, dikarenakan mayoritas wisatawan yang datang adalah berasal dari China, dan semenjak penerbangan langsung (direct flight) dari Wuhan ke Bali ditutup, maka secara otomatis pariwisata Bali mengalami penurunan yang signifikan.
Pada keadaan normal, satu tempat wisata seperti di Tanjung Benoa mendapatkan sekitar 10 sampai 15 juta rupiah, sedangkan sejak Febuari 2020, yang terjadi adalah 1 sampai 1,5 juta rupiah.
Penurunan di industri pariwisata di Indonesia juga dirasakan oleh karyawan hotel, banyak hotel yang melakukan unpaid leave atau cuti tidak berbayar antara satu sampai dua minggu, dikarenakan penurunan pendapatan kamar.
Keadaan ini seharusnya dapat dilakukan untuk menaikan kekuatan internal dari karyawan seperti mengadakan pelatihan yang berguna untuk menghasilkan sumber daya manusia yang lebih siap dengan keadaan ke depan.
Industri pariwisata setelah epidemi akan mengalami peningkatan yang cukup tajam, keadaan ini seperti yang pernah terjadi dengan epidemi SARS pada tahun 2002, dengan acuan dari UNWTO bahwa keadaan yang terjadi sekarang dengan adanya virus Corona disesuaikan dengan keadaan ketika terjadi SARS di beberapa negara dan mempengaruhi industri pariwisatanya.
Pada epidemi SARS yang terjadi di beberapa negara seperti Hong Kong, Taiwan, dan Amerika Serikat pada tahun 2002 mengalami penurunan yang signifikan, akan tetapi setelah dinyatakan tidak adanya epidemi SARS, peningkatan terjadi sekitar 8 sampai 10 persen, dan beberapa industri pariwisata yang tidak siap dengan kenaikan tersebut akan mengalami kebingungan untuk membuat wisatawan, terutama wisatawan asing, untuk merasa puas dan akan kembali lagi ke negara tersebut.
Epidemi dengan skala yang lebih luas akan menjadikan pandemic. Sehingga menurut teori yang pernah dikemukakan oleh Mao, Ding, & Lee (2009), menjadikan sebuah acuan untuk industri pariwisata yang akan dapat memprediksi kenaikan jumlah wisatawan asing.
Rumus regresi yang dikemukan adalah dengan memprediksi kemampuan konsumen membeli bahan pokok, nilai tukar mata uang local dengan mata uang internasional, dengan jumlah penurunan wisatawan pada beberapa periode waktu.
Sebagai contoh, kenaikan harga beras sejak 31 Desember 2019 sampai sekarang mengalami kenaikan antara 4,48 sampai 5,58 persen, sehingga kemampuan membeli konsumen terhadap bahan pokok akan mengalami penurunan, sedangkan nilai tukar mata uang asing mengalami kenaikan menjadi sekitar Rp. 15.724 (tulisan dibuat pada tanggal 16 April 2020).
Angka penurunan wisatawan asing dari Januari ke Febuari 2020 menurun sekitar 30 persen, sedangkan Febuari ke Maret, dari beberapa data yang penulis dapatkan, menurun sekitar 18-20 persen, sehingga penurunan wisatawan asing yang datang ke Indonesia secara keseluruhan menurun sekitar 48 sampai 50 persen.
Keadaan ini merupakan bagian dari tahap pertama dari teori Mao, Ding, dan Lee. Tahap ke-dua, tiga dan empat masih akan berlanjut, dan mengikut alur SARS yang sudah ada, maka akan berlanjut sampai enam sampai delapan bulan ke depan.
Tetapi setelah masa period ke empat, terdapat lonjakan wisatawan, baik wisatawan asing maupun wisatawan domestik. Jika UNWTO melakukan rancangan parisiwata seperti ependemi SARS, maka Asia, khususnya Indonesia akan mengalami kenaikan sebesar 20 – 30 persen seperti yang sudah terjadi pada beberapa negara Asia dalam kurun waktu 10 – 12 bulan ke depan.
Melihat keadaan seperti ini, pariwisata di Indonesia harus siap baik dari sumber daya manusia maupun infrastruktur pariwsata seperti jalan, pemeliharan beberapa destinasi wisata, dikarenakan jika terjadi peningkatan wisatawan asing, maka pariwisata Indonesia sudah siap dengan berbahasa asing, atau melakukan pelayanan yang lebih baik.
Selain perbaikan atau pemeliharan dari beberapa di atas, perlu adanya strategi yang sebaiknya dilakukan oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif adalah, mengedepankan promosi mengenai keamanan dari virus, dan dan memperbaiki, menambah atau melakukan beberapa pembenahan mengenai tempat informasi pariwisata, dan keamanan akan tempat tersebut dari virus di beberapa titik kedatangan wisatawan, seperti di bandara, pelabuhan, dan beberapa pos tempat atraksi wisata, baik secara kedatangan wisatawan international maupun wisatawan domestik.
Penulis adalah Felix Goenadhi, S. Psi., M. Par, Dosen Bisnis Administrasi dan Koordinator Konsentrasi Hospitality and Tourism Business President University