INDUSTRY.co.id - Jakarta – PT Logindo Samudramakmur Tbk (LEAD) berminat masuk ke bisnis pengangkutan gas alam cair (Liquified Natural Gas/LNG). Bisnis tersebut akan dilakukan perseroan melalui kerjasama dengan sejumlah mitra strategisnya.
“Saat ini, kami baru menjajaki kemungkinan untuk menjalani bisnis baru tersebut. Pasalnya, bisnis baru tersebut adalah bagian dari strategi bisnis perseroan untuk mempertahankan kinerja bisnisnya dalam jangka panjang,” papar Eddy Kurniawan Logam, Direktur Utama LEAD, di Jakarta, Kamis (30/03/2017) petang.
Eddy mengemukakan, keinginan manajemen LEAD untuk menjalankan bisnis pengangkutan LNG karena cadangan gas bumi Indonesia saat ini jauh lebih melimpah dibandignkan cadangan minyak bumi. Karena itu, masa depan energi Indonesia akan sangat tergantung pada gas bumi sehingga manajemen LEAD berniat untuk serius masuk ke bisnis tersebut.
Di sisi lain, demikian Eddy, pemerintah saat ini cukup serius untuk mendorong produksi LNG dengan mambangun sedikitnya 33 Fasilitas Penyimpanan dan Pencairan Gas (Floating Storage and Regasification Unit/FSRU) di seluruh Indonesia. Untuk mendukung kegiatan penyimpanan LNG itu, maka akan banyak kapal-kapal pengangkut LNG yang dibutuhkan untuk mendistribusikan gas alam ke FSRU tersebut.
“Kami mengamati bisnis ini cukup menarik, sehingga kami berkeinginan untuk masuk ke bisnisi tersebut nanti. Kami sekarang akan banyak berusaha, banyak belajar, dan akan mengikuti tender penyediaan kapal, bahkan unit regasifikasinya,” papar Eddy.
Kendati demikian, Eddy mengakui, kapasitas LEAD masih sangat terbatas untuk masuk ke bisnis tersebut. Itu karena proses produksinya jauh lebih rumit dibanding industri minyak bumi yang selama ini dijalankan perseroan. Karena itu, manajemen LEAD berupaya menjajaki kerjasama dengan para mitra yang lebih berpengalaman dan memiliki modal yang cukup kuat. Meski demikian, Eddy belum mengungkapkan lebih rinci mitra mana saja yang sedang dijajaki perseroan.
Seperti diketahui, LEAD selama ini menjalankan bisnis penyewaan kapal untuk mendukung kegiatan pengeboran minyak bumi. Pendapatan LEAD belakangan ini berfluktuasi karena sangat tergantung pada kondisi industri minyak mentah. Akibat penurunan kinerja bisnis di sektor minyak bumi, pendapatan LEAD susut hingga 31% pada 2016 lalu.***