Saham JELI Kembali Terkoreksi, Investor IPO Rugi 33%

JAKARTA — Saham PT Niramas Utama Tbk. (JELI), produsen makanan penutup merek INACO, kembali mencatatkan pelemahan pada perdagangan hari ini, Rabu (30/7/2026). Saham JELI terpantau di level Rp595 per saham, turun signifikan dari posisi puncaknya di Rp1.755.

Dengan harga saat ini, investor yang membeli saham JELI saat Initial Public Offering (IPO) pada 7 Juli 2026 lalu di harga Rp900 per saham kini menanggung kerugian sekitar 33,89%.

Perjalanan Harga Saham JELI Sejak IPO

Saham JELI sejatinya mencatatkan debut yang impresif di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada hari pertama perdagangan, saham ini langsung menyentuh Auto Reject Atas (ARA) sebesar 25% berkat tingginya minat investor ritel.

Namun, euforia tersebut tak bertahan lama. Pada 10 Juli 2026, saham JELI anjlok 14,81% hingga menyentuh Auto Reject Bawah (ARB) di level Rp1.495. Koreksi berlanjut pada 13 Juli 2026 dengan penurunan 14,72% ke Rp1.275. Sejak saat itu, tren pelemahan terus berlanjut hingga menyentuh level Rp595 di perdagangan hari ini.

Jika dihitung dari level puncak Rp1.755, saham JELI sudah terkoreksi 65,98% hanya dalam waktu kurang dari sebulan.

Sentimen dan Prospek Bisnis Niramas Utama

Meski harga saham tertekan, manajemen JELI tetap optimistis terhadap kinerja perseroan. Direktur PT Niramas Utama Tbk., Adhi Lukman, menyebutkan bahwa perseroan menargetkan pertumbuhan pendapatan sekitar 26% pada 2026 dan menyiapkan kebijakan dividen tunai dengan rasio maksimal 30% dari laba bersih.

Di sisi fundamental, labа bersih JELI tercatat tumbuh 235% pada tahun buku 2025, meskipun pendapatan mengalami penurunan. Perseroan berfokus pada ekspansi usaha dan optimalisasi produktivitas pabrik.

Hal yang Perlu Diperhatikan Investor

Saham JELI termasuk dalam sektor Makanan dan Minuman serta tergolong saham Syariah. Investor yang masuk di harga IPO perlu mempertimbangkan volatilitas tinggi yang masih berpotensi terjadi mengingat saham ini baru listing kurang dari sebulan.

Disclaimer: Artikel ini bersifat informasi dan bukan merupakan rekomendasi investasi. Investor disarankan melakukan analisis mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.