INDUSTRY.co.id - Jakarta, Sebuah bangunan berdesain modern di Jalan Abdul Majid Raya, Cipete, Jakarta Selatan, belakangan menarik perhatian masyarakat. Banyak yang mengira bangunan tersebut merupakan hotel butik atau apartemen berlayanan. 

Namun, bangunan itu merupakan Rukita Deluxe Nismara Abdul Majid, proyek coliving premium terbaru yang dikembangkan Rukita.

Hunian tersebut menawarkan tarif sewa mulai Rp6,3 juta hingga Rp8 juta per bulan. 

Meski berada di segmen premium, seluruh unit dilaporkan telah terisi penuh dalam waktu sekitar satu bulan sejak mulai beroperasi.

Pencapaian tersebut mencerminkan masih tingginya minat terhadap hunian premium di kawasan dengan akses transportasi publik yang baik, khususnya di Jakarta Selatan. 

Bagi kalangan profesional muda, eksekutif, hingga pelaku usaha, faktor lokasi, kenyamanan, dan kemudahan mobilitas menjadi pertimbangan utama dalam memilih tempat tinggal.

Menurut VP of Marketing Rukita, Lika Aprilia Samiadi, kebutuhan masyarakat urban kini telah berkembang, tidak lagi sekadar mencari hunian yang strategis.

"Saat ini masyarakat urban tidak hanya mencari tempat tinggal yang strategis, tetapi juga ruang hidup yang memberikan kenyamanan ekstra dan privasi tinggi. Tren flat residence di dalam hunian coliving menjadi jawaban bagi mereka yang menginginkan fleksibilitas coliving namun dengan fasilitas layaknya apartemen pribadi," ujar Lika.

Salah satu tipe yang ditawarkan adalah Flat Residence seluas 25,1 meter persegi yang dirancang menyerupai apartemen studio. 

Setiap unit dilengkapi dapur pribadi, ruang tamu, kulkas, microwave, hingga coffee maker sehingga penghuni memperoleh ruang yang lebih privat dibanding konsep coliving pada umumnya.

Selain itu tersedia pilihan Superior Queen berukuran 15,9 meter persegi dan Executive Queen seluas 19,2 meter persegi. 

Seluruh kamar telah dilengkapi furnitur, kasur queen size, pendingin ruangan, kamar mandi dalam dengan water heater, Wi-Fi privat, serta layanan kebersihan dan laundry secara berkala.

Fasilitas pendukung lainnya meliputi rooftop, area komunal, dapur bersama, lift, area parkir, serta area komersial di lantai dasar yang diisi tenant kuliner. 

Lokasinya juga hanya sekitar 300 meter atau dua menit berjalan kaki dari Stasiun MRT Haji Nawi, sehingga memudahkan akses menuju kawasan bisnis SCBD, Sudirman, Thamrin, Fatmawati, hingga koridor TB Simatupang.

Di balik pengembangan proyek tersebut, Rukita menerapkan konsep Build to Rent (BTR) dengan mengubah bangunan lama menjadi aset hunian yang dirancang khusus untuk pasar sewa. 

Perusahaan menangani seluruh proses mulai dari studi kelayakan, perencanaan finansial, desain arsitektur, interior, hingga operasional setelah bangunan selesai.

Lika mengatakan salah satu tantangan utama proyek ini adalah menghadirkan bangunan premium dengan investasi yang tetap efisien bagi pemilik properti.

"Tantangan terbesarnya adalah menciptakan bangunan premium dengan besaran investasi yang tetap budget-friendly bagi pemilik properti. Kami bangga proyek ini selesai tepat waktu, penghuni betah, dan pemilik properti puas karena asetnya langsung full booked dalam satu bulan," kata Lika.

Rukita menyebut proses transformasi bangunan hingga grand launching diselesaikan dalam waktu sekitar 18 bulan dengan pendekatan desain yang disesuaikan terhadap karakter aset dan kebutuhan pasar. 

Perusahaan juga mengadopsi sejumlah prinsip keberlanjutan melalui penyediaan ruang hijau dan optimalisasi pencahayaan alami.

Keberhasilan okupansi penuh dalam waktu singkat dinilai menjadi indikator bahwa segmen coliving premium di lokasi strategis masih memiliki permintaan yang kuat. 

Di sisi lain, pengelolaan operasional, kualitas layanan, dan diferensiasi produk tetap menjadi faktor penting untuk menjaga tingkat hunian dan nilai investasi dalam jangka panjang.

 

.