INDUSTRY.co.id - Jakarta - Pergerakan IHSG kembali melemah secara teknikal break out support FR161.8% dikisaran 4362 dan berpotensi menguji support selanjutnya di kisaran 4200 yang juga menjadi support lower bollinger bands. Indikator Stochastic gagal mengkonfirmasi menjadi pola golden-cross yang sempat crossing diarea oversold dan RSI yang bergerak menjenuh pada momentum bearish diarea yang sangat rendah pada oscillatornya.

Advertisement

"Sehingga peluang rebound IHSG masih belum terlihat dan potensi pelemahan lanjutan apabila tidak mampu break out kembali diatas 4362 dengan rentang pergerakan 4200-4362," ujar analis Reliance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi di Jakarta, Kamis (19/3/2020).

Saham-saham yang telah melemah signifikan dan dapat dicermati secara teknikal diantaranya; ANTM, ASII, BBNI, BBRI, BMRI, KLBF, MIKA, TLKM dan UNVR.

Advertisement

IHSG (-2.83%) ditutup melemah 126.07 poin kelevel 4330.67 dengan indeks sektor infrastruktur (-3.85%) dan konsumsi (-3.77%) memimpin pelemahan. Saham JSMR (-6.85%), TBIG (-6.81%) dan ISAT(-6.80%) menjadi penekan pelemahan. Wabah pandemic yang mulai meningkat di Indonesia menjadi faktor utama pelemahan IHSG. Terdapat 227 kasus dan 19 orang meninggal menurut data yang terkena wabah pandemic di Indonesia. Pemerintah Indonesia berjanji untuk meningkatkan upaya stimulus yang bertujuan untuk mengatasi krisis virus korona sebanyak $1.8 Miliar dan beberapa ekonom sekarang memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan semakin lemab dengan pertumbuhan 4.5%-4.7% pada kuartal pertama sehingga membuat Indonesia berpotensi pada jalur pertumbuhan terlemah sejak 2009. Investor asing melakukan aksi jual dengan tercatat sebesar 258.47 miliar rupiah.

Bursa Eropa mayoritas dibuka pada zona negatif. Indeks Eurostoxx (-2.79%), FTSE (-3.28%) dan DAX (-3.39%) dibuka langsung merosost lebih dari tiga persen diawal sesi perdagangan dengan semua sektor industri dizona merah. Bank dan perusahaan energi memimpin penurunan mengiringi outlook dari penurunan pinjaman ekspansi usaha dan permintaan. AS kembali merencanakan pemberian stimulus sebesar $1.2 Triliun yang bertujuan untuk mencegah dampak buruk dari krisis yang tampaknya akan menjerumuskan banyak ekonomi dunia kedalam resesi. Investor menanti data inflas d Eropa, Kebijakan bank sentral Australian dan Data pengangguran di AS.

Advertisement