Penggunaan Teknologi Kolaboratif Robot Banyak Diminati Dunia Industri di Indonesia

Oleh : Asep Rohmattullah, Mahasiswa MM.Tech President University | Rabu, 04 Desember 2019 - 05:33 WIB

Asep Rohmattullah, Mahasiswa MM.Tech President University
Asep Rohmattullah, Mahasiswa MM.Tech President University

INDUSTRY.co.id, World Robotics Report 2018 yang dikeluarkan Federasi Robotika Internasional (International Federation of Robotics/IFR) menunjukkan nilai penjualan tahunan global 16.500.000.000 USD di 2018-rekor baru. 422.000 unit dikirim secara global dalam 2018-peningkatan 6 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Prakiraan IFR pengiriman di 2019 akan surut dari tingkat rekor di 2018, tetapi mengharapkan pertumbuhan rata-rata 12 persen per tahun dari 2020 untuk 2022.

Asia adalah pasar robot industri terbesar di dunia. Pada 2018, ada gambar campuran untuk tiga pasar Asia terbesar: instalasi di China dan Republik Korea menurun, sementara Jepang meningkat pesat. Secara total, Asia tumbuh sebesar 1%. Instalasi robot di pasar terbesar kedua, Eropa, meningkat sebesar 14% dan mencapai puncak baru untuk tahun keenam berturut-turut. Di Amerika, tingkat pertumbuhan mencapai 20% lebih dari tahun sebelumnya yang juga menandai tingkat rekor baru untuk tahun keenam berturut-turut.

Bidang industri yang diprediksi oleh IFR akan semakin banyak mengadopsi cobot antara lain adalah industri otomotif, plastik, perakitan elektronik dan peralatan mesin. Industri-industri ini merupakan sektor utama di Asia Tenggara, di mana Universal Robots pun melihat suatu traksi yang kuat.

Di wilayah Asia, IFR memperdiksikan pertumbuhan robot yang kuat dan berkesinambungan, yang laporan terbaru menunjukkan kenaikan pasokan robot tahun ini sebesar 18 persen, sementara instalasi diperkirakan akan meningkat sebesar 15 persen. Tiongkok diperkirakan tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan robot, dan akan memperluas dominasinya dengan hampir 40 persen dari pasokan robot global diinstalasi di Tiongkok pada tahun 2019.

Dengan semakin ketatnya persaingan di semua industri, perusahaan-perusahaan Indonesia semakin menargetkan untuk mengembangkan beragam produk dan layanan baru yang akan membedakan mereka dari para pesaing.  Di sinilah otomatisasi bisa membantu, robot membantu mengurangi tekanan pada operasional harian industri manufaktur, sementara proses produksi dapat dilalukan dengan lebih cepat, lebih murah dan lebih akurat.

Selain pertimbangan finansial, peningkatan keterampilan karyawan juga merupakan elemen penting yang harus diutamakan. Robot kolaboratif atau cobot, adalah generasi baru mobile robot yang lebih ringan dan lebih mobile yang dapat bekerja dengan aman berdampingan dengan pekerja manusia berkat kemajuan dalam teknologi sensor dan vision.  Cobot-cobot tersebut fleksibel dan mudah diprogram, mampu menjalankan aplikasi berdasarkan program seperti mengangkat dan meletakkan, merawat atau melakukan penandaan terhadap mesin.

Dengan ini, pekerja manusia memiliki kesempatan untuk meng-upgrade keterampilan mereka dengan mudah menggunakan teknologi yang membantu menjalankan tugas repetitif secara lebih cepat dengan tingkat presisi yang sempurna.

Sebagai contoh, dalam industri manufaktur, cobot bisa diprogram untuk mengerjakan pekerjaan rutin dan berulang seperti perakitan, pengecoran dan pemasangan baut – semua ini merupakan pekerjaan yang memakan waktu dan membutuhkan prosedur dengan standar tinggi. Dengan cobot, komponen dari lini produksi tertentu bisa dinilai oleh sistem untuk pengecekan kualitas, ditarik atau diteruskan ke destinasi selanjutnya. Cobot juga membebaskan pekerja dari pekerjaan berulang, sehingga mereka memiliki kesempatan untuk lebih memainkan peran sebagai pengawas atau manajemen proyek. Mereka juga memiliki peluang untuk dapat meng-upgrade keterampilan mereka. Hal seperti ini akan memberi kesempatan kepada para pekerja di Indonesia untuk mengembangkan keterampilan profesional mereka yang akan bermanfaat dalam jangka panjang.

Teknologi canggih saat ini menawarkan banyak kesempatan untuk menyederhanakan proses produksi yang dapat digunakan sektor manufaktur. Karyawan akan terus memainkan peran penting sebagai rekan kerja kolaboratif dengan kehadiran robot industri, terutama cobots, yang mengawasi dan memastikan bahwa pekerjaan berjalan lancar dan aman, tetapi proses ini dicapai dengan sangat akurat dan lebih cepat. Dan pemilik perusahaan yang sudah membangun Smart Factory akan segera menyadari perlunya mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi.

Peralihan menuju otomatisasi akan disertai dengan berbagai tantangan, tetapi penting untuk melihat ini sebagai suatu transisi yang optimis untuk meningkatkan rantai nilai. Dan jika kita melihat lebih dekat ke UKM di Indonesia, yang merupakan 99,95% dari seluruh perusahaan di negara ini, cobot memberikan berbagai keuntungan ini dengan pengembalian modal yang lebih cepat dibandingkan robot industri tradisional, sehingga menjadikannya cocok untuk semua perusahaan terlepas dari skala atau jenis industrinya. Sehingga Cobot merupakan  bagian dari kemajuan teknologi yang telah diciptakan untuk mendukung perusahaan untuk berkembang dalam bisnisnya di bawah kondisi ekonomi yang selalu volatil.

 

 

 

 

 

 

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Pertamina Lubricants (Ist)

Senin, 21 September 2020 - 18:40 WIB

Kemenperin Apresiasi Pertamina Lubricants jadi Pelopor Penerapan SNI Pelumas

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memberikan apresiasi untuk PT Pertamina Lubricants yang telah menjadi pelopor dalam penerapan standarisasi produk dan penggunaan produk bersertifikat Standar…

Robert Alberts Pelatih Persib Bandung (Foto Dok PR)

Senin, 21 September 2020 - 18:00 WIB

Pelatih PERSIB Robert Alberts Soroti Transisi Permainan

Setiap pertandingan kami selalu berpikir untuk memperbaiki segala hal. Tentu saja soal transisi bertahan-menyerang masih terlihat lambat

Azis Syamsudin Wakil Ketua DPR RI

Senin, 21 September 2020 - 17:27 WIB

UAE dan Bahrain 'Rangkul' Israel, DPR: Indonesia Tak Akan Berubah, Tetap Bersama Rakyat Palestina

Wakil Ketua DPR RI M. Azis Syamsuddin menyoroti normalisasi hubungan Uni Arab Emirates (UAE) dan Bahrain dengan Israel.  Azis menekankan bahwa posisi Indonesia tidak mengubah dukungan terhadap…

Ilustrasi industri semen. (Merdeka/Dwi Narwoko)

Senin, 21 September 2020 - 17:20 WIB

Lindungi Industri Semen, Kemenperin Bakal Tingkatkan Serapan Pasar Dalam Negeri

Kemenperin terus mendorong peningkatan serapan pasar domestik. Apalagi, semen merupakan salah satu komoditas yang strategis bagi Indonesia.

Ketua Umum ILUNI UI Andre Rahadian

Senin, 21 September 2020 - 17:15 WIB

Alumni UI Beri Rekomendasi Komunikasi Protokol Kesehatan Efektif

Alumni Universitas Indonesia (UI) dari berbagai latar belakang memberikan rekomendasi terkait komunikasi protokol kesehatan yang efektif yang disampaikan melalui Focus Group Discussion (FGD)…