INDUSTRY.co.id - Jakarta– PT Intan Baruprana Finance Tbk (IBFN), yang merupakan perusahaan pembiayaan investasi dan modal kerja untuk sektor produktif menyatakan kesiapannya untuk memacu pembiayaannya lebih agresif di tahun ini. Tahun ini, IBFN menargetkan pembiayaan dapat tembus hingga Rp 200 miliar.
Presiden Direktur IBFN, Carolina Dina Rusdiana dalam siaran pers yang dierima Jumat (9/2/2019) menjelaskan, untuk tahun 2019 Perseroan akan terus giat menyalurkan pembiayaan ke berbagai sektor usaha produktif sambil terus mencari peluang pendanaan tambahan, baik dari perbankan ataupun non-perbankan.
“Dengan adanya penambahan modal dari INTA Grup, keberhasilan Right Issue I, penguatan manajemen, penyaluran pembiayaan secara prudent serta intensifikasi recovery pembiayaan bermasalah, IBFN akan mampu meningkatkan kinerja serta meraih kepercayaan dari para pemangku kepentingan”
Untuk mendukung target tersebut, IBFN juga mengambil berbagai keputusan antara lain efisiensi serta mengembalikan izin unit bisnis syariahnya kepada OJK pada tanggal 24 Agustus 2018 yang kemudian disetujui oleh OJK dalam suratnya tanggal 3 Desember 2018.
Langkah ini ditempuh sejalan dengan fokus usaha IBF saat ini untuk meningkatkan pembiayaan dan pencarian pendanaan sambil memperbaiki kualitas asset.
“Sejalan dengan perkembangan kondisi usaha IBF yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir, kami harus melakukan banyak efisiensi, salah satunya dengan sukarela mengembalikan izin usaha unit syariah kami ke OJK. Ke depan, jika kondisi IBFN sudah jauh lebih membaik, kami akan membuka peluang kembali untuk masuk ke pembiayaan secara syariah tersebut.” pungkas Dina.
Sekilas PT Intan Baruprana Finance, Tbk (IBFN)
PT Intan Baruprana Finance, Tbk (IBFN) merupakan perusahaan pembiayaan yang memberikan solusi pembiayaan sesuai dengan kebutuhan pendanaan investasi maupun modal kerja nasabah. IBFN didukung dengan jaringan pemasaran group usaha PT Intraco Penta Tbk (INTA) di lebih dari 40 lokasi di Indonesia, menawarkan total solusi pembiayaan secara fleet financing untuk berbagai jenis alat berat, mesin industri, truck dan bus, serta barang modal lainnya pada sektor industri infrastruktur, konstruksi, transportasi darat, pertambangan, minyak dan gas, pertanian dan perkebunan.