INDUSTRY.co.id - Jakarta, Ditengah nasib Brexit yang masih samar-samar, menyebabkan posisi May sebagai Perdana Menteri terancam. May harus menghadapi mosi tidak percaya yang digulirkan kubu oposisi Partai Buruh.
Namun ditengah hal tersebut yang patut menjadi perhatian adalah stimulus China dalam meningkatkan prospek mata uang Asia. Turbulensi baru-baru ini di pasar AS berpusat di sekitar prospek pertumbuhan global dan terutama perlambatan ekonomi yang juga di alami China.
Perusahaan broker terkemuka asal Inggris yang sudah memiliki pengalaman selama lebih dari 20 tahun di industri trading, London Capital Group (LCG), lewat Head of Research-nya, Jasper Lawler mengatakan, dalam pandangan kami, dolar dan ekuitas AS “mengejar” dengan kesulitan yang dirasakan pada perkembangan pasar mata uang dan ekuitas pada tahun 2018 yang lalu.
"Kini saham AS menggerakkan pasar, dengan dipimpin oleh Netflix dan beberapa saham teknologi," kata Jasper melalui siaran persnya di Jakarta, Rabu (23/1).
Menurutnya, Netflix melonjak 6,5% setelah berjanji untuk menaikkan harga keanggotaan bulanan sebesar 18%. Sedangkan Amazon, Facebook, dan Apple bergerak positif sekitar 2%.
"Ini persis seperti dengan prediksi dan analisis kami pada bulan Desember 2018. Tentunya China juga tak mau ketinggalan untuk memperbaiki kondisi pasarnya," terangnya.
Pada hari Selasa (15/1) yang lalu, Kementerian Keuangan China berjanji untuk memotong tarif pajak untuk menurunkan beban untuk kategori Small Medium Enterprise (SME) atau yang tergolong bukan pengusaha arau perusahaan besar.
Ini mengikuti pengumuman akan adanya penurunan suku bunga dan lebih banyak belanja pada sektor infrastruktur dalam menanggapi data ekonomi China yang kian lambat akhir-akhir ini.
“Jika upaya stimulus pemerintah China berjalan, hal tersebut harusnya dapat menjadi hal positif untuk pertumbuhan ekonomi dan nilai mata uang di seluruh Asia. Dolar AS pada tahun 2018 berhasil ditopang oleh pemotongan pajak perusahaan atas keputusan Presiden Donald Trump, yang juga sangat membantu melindungi ekonomi AS dari ekspektasi untuk pertumbuhan global yang lebih lambat," tutur Jasper.
Menurut Jasper, stimulus fiskal terbaru yang digadang oleh pemerintah China ini juga dapat mengimbangi latar belakang kondisi pasar global yang lebih lemah.
"Dengan lebih sedikit uang yang masuk ke kas pemerintah melalui pajak, perusahaan-perusahaan dapat memberikan opsi yang berbeda kepada konsumen. Jika pemotongan pajak ini berhasil makan hal ini dapat meningkatkan konsumsi domestik dan kondisi dari ekonomi eksportir regional akan merasakan manfaat akan hal ini," imbuhnya.
Akan tetapi Jasper juga mengatakan bahwa keraguan tentang efektivitas stimulus pemerintah China kali ini lebih besar dari kucuran stimulus yang dilakukan sebelumnya.
“Sebagian besar, mata uang Asia Timur terjepit di antara perkembangan di AS dan China, yang saat ini berada di tengah perang dagang (meski saat ini proses gencatan sedang berlangsung). Perang perdagangan telah mengurangi permintaan global dan ekonomi Asia yang berorientasi ekspor menjadi terdampak," ujar jasper.
Perlu dicatat bahwa pemotongan pajak sekarang berada di garis depan upaya stimulus dari pemerintah China. Kelonggaran kebijakan moneter dan belanja infrastruktur telah dilakukan dan mungkin mendekati batasnya. Sistem keuangan yang sangat leverage, bubble properti dan potensi arus keluar mata uang membuat banyak pemotongan suku bunga dari Bank Sentral China (PBoC) menjadi sulit.
Selain itu, beban utang China yang besar membuat pengeluaran infrastruktur menjadi lebih berisiko daripada sebelumnya. Tetapi investor tentunya menjadi berbunga-bunga dengan komitmen pemerintah dan PBoC untuk menggulirkan stimulus demi menjaga laju perekonomian
Sejak Oktober 2018, ada peningkatan nyata dalam kinerja mata uang Asia. Perubahan itu berarti, sebagai sebuah kelompok, mata uang Asia telah mengalami loss selama 12 bulan terakhir.
“Menurut pengamatan saya Federal Reserve (Fed) lebih dovish dan hasil gencatan senjata dalam perdagangan AS-China akan menunjukkan lingkungan yang lebih baik untuk memperkuat mata uang di kawasan Asia. Saat ini, untuk Asia perdagangan mata uang asing, Rupiah Indonesia telah mencapai tingkat tertinggi mengawali tahun 2019 ini (hal ini juga sesuai dengan hasil analisa kami pada bulan Desember 2018),” jelas Jasper.
Target defisit anggaran yang lebih rendah dan kenaikan suku bunga 175 basis point (BPS) atau setara dengan 1,75% di sepanjang 2018 sebenarnya cukup stabil untuk kinerja Rupiah yang lebih baik terhadap mata uang Asia lainnya.
“China adalah negara dengan perekonomian terbesar di Asia. Jika ekonomi China tetap kokoh, maka negara-negara lain juga akan tangguh termasuk Indonesia,” tutup Jasper.