Sisa Ruang Profesi Wartawan

Oleh : Amir Machmud NS | Selasa, 22 Januari 2019 - 08:29 WIB

Amir Machmud NS (Foto Dok Suarabaru)
Amir Machmud NS (Foto Dok Suarabaru)

INDUSTRY.co.id - Kegelisahan konstruktif Ganjar Pranowo tentang masa depan media, saya tangkap dari ungkapan-ungkapannya saat menerima audiensi pengurus Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Jawa Tengah, 2 Januari lalu. Dia terutama menanyakan, jaminan kesejahteraan seperti apa yang bisa diberikan oleh para pengelola media terhadap manusia profesional wartawan?

Pertanyaan tersebut pernah disampaikan Gubernur Jawa Tengah itu kepada pengurus PWI Pusat dalam sebuah diskusi menjelang Kongres 2018. Keberpihakan pada masalah ini, menurut dia, perlu menjadi komitmen organisasi profesi dan serikat perusahaan media untuk mendorong terciptanya rasa "aman" bagi wartawan dalam menjalani tugas profesinya. Juga supaya ada standar yang menjauhkan dari pikiran-pikiran yang membuat performa mereka tidak kredibel.

Wacana tentang masa depan profesi wartawan rasanya patut diapungkan sebagai arus diskusi menjelang peringatan Hari Pers Nasional, 9 Februari 2019 nanti. Pertanyaan awal, sebagai ungkapan kegelisahan, pernah saya diskusikan dengan Ketua Bidang Organisasi PWI Pusat, Firdaus Banten dalam sebuah Uji Kompetensi Wartawan (UKW), "Masih cukup berprospekkah profesi dunia jurnalistik dari sisi jaminan ketercukupan ekonomi?"

Tak mudah menjawab gambaran tersebut. Pertama, bagaimanapun media -- dengan topangan sumber daya manusia profesi jurnalis -- masih harus ada seiring dengan naluri kebutuhan manusia akan informasi. Kedua, faktanya kini sebagian kebutuhan informasi itu bisa diakses melalui browsing mesin pencari penyedia apa pun info yang dikehendaki. Ketiga, dengan aneka platform media sosial, sekarang “setiap orang bisa menjadi wartawan untuk dirinya sendiri dan orang lain".

Tiga gambaran itu memang masih menyisakan ruang eksistensial bagi wartawan dengan media arus utamanya, namun apakah cukup memberi garansi keleluasaan ruang kehidupan dari sisi kesejahteraan?

Saya akan secara dini memagari, jangan hanya bicara tentang idealisme. Sikap ini menjadi ruh kehidupan para pemilih profesi wartawan, akan tetapi konteks realitas zaman tidak mungkin menuntut idealisme yang buta akan penopang kredibilitas sikap tersebut. Ekspresi idealisme hanya akan kredibel manakala seseorang merasa "aman" dalam kebutuhan dasar hidupnya, dan ini adalah opini sepatutnya yang berlaku sekarang. Bagaimanapun, wartawan bukan "pertapa" atau orang yang memilih ber-zuhud dalam hidupnya demi memperjuangkan keyakinan profetik.

Bukankah dunia jurnalistik juga mencatat sejumlah "kisah sukses" wartawan yang bermigrasi menjadi anggota legislatif, kepala daerah, staf ahli pejabat publik, komisioner penyelenggara pemilu, pebisnis non-media, juga ragam pekerjaan lain? Sebagian dari kisah sukses itu, bagaimanapun, mulanya ditopang oleh eksistensi profesi kewartawanan.

 

Jaminan di Sisa Ruang

Lalu bagaimana memasuki lorong pilihan profetik itu dengan memberikan keyakinan masih ada jaminan sisa ruang hidup?

Dinamika kehidupan manajemen bisnis media -- khususnya media cetak dan sebagian online -- secara nyata kita lihat sekarang sebagai "jihad" mempertahankan diri. Pada sisi lain kita juga melihat pelbagai platform media sosial tampak "meriah" dengan promosi produk dan jasa yang seolah-olah mewartakan bahwa iklan-iklan yang hengkang dari media cetak, justru bermigrasi ke media sosial, dan tidak serta merta beralih orientasi sebagai lahan bisnis media online.

Sebenarnya terdapat peluang kalkulasi teknis-kolaboratif yang bisa memberi keuntungan finansial menjanjikan antara media-media digital dengan berbagai platform media sosial. Jadi peluang tetap ada, meskipun model, pola, dan perilaku advertising ini, yang kita tangkap di banyak media online, seperti menomorduakan hakikat nilai berjurnalistik. Dengan perkembangan bentuk adaptasi sajian iklan itu, apakah produk jurnalistik nantinya akan sepenuhnya terartikulasikan seperti hanya "numpang lewat" menemani ingar-bingar wajah advertisment business?

Pertanyaan lanjutannya, apakah perilaku bermedia pada saatnya memang bakal menomorsekiankan ritus-ritus "spiritualitas jurnalistik"? Artinya, sikap berjurnalistik kelak akan sekadar menjadi mitos idealistik ketika praktik semesta media lebih tergantung pada "jualan" berbasis klickers (viewers) dengan kiat-kiat pendekatan yang lebih teknis ketimbang mengarusutamakan nilai-nilai berjurnalistik.

Sekarang ini, yang dibutuhkan oleh profesi wartawan adalah pengelaborasian sisa ruang untuk dimasuki dengan membawa keyakinan akan ada prospek kesejahteraan yang bisa diraih. Masalahnya, bagaimana manajemen bisnis media berkreasi memberi jaminan ruang kehidupan profetik sebagai "manusia", yang bisa dikolaborasikan dengan ruang ekspresi nilai-nilai jurnalistik. Bentuk inilah yang bakal saling menopang mewujudkan "manusia wartawan yang kredibel".

Amir Machmud NS, wartawan Suara Merdeka, Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Dirut Bank BTN, Maryono, sedang memberikan penjelasan mengenai kondisi sektor properti pasca pilpres 2019 di Jakarta.

Rabu, 22 Mei 2019 - 23:58 WIB

BTN SIAPKAN RP14,58 TRILIUN SAMBUT LIBUR IDUL FITRI 1440 H

Jakarta-Untuk menjamin tercukupinya kebutuhan dana tunai bagi nasabah menjelang dan sesudah Hari Raya Idul Fitri 1440 H, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk menyiapkan dana sebesar Rp 14,58…

Segarkan Tubuh dan Jiwa dengan Varian Baru Fayrouz Kurma

Rabu, 22 Mei 2019 - 23:53 WIB

Segarkan Tubuh dan Jiwa dengan Varian Baru Fayrouz Kurma

Segarkan Tubuh dan Jiwa dengan Varian Baru Fayrouz Kurma

Manajemen PT Blue Bird Tbk [kiri- kanan] Andeka Putra (Chief Information Officer), Andrianto Djokosoetono ( Direktur) Noni Purnomo (CEO) Sigit P. Djokosoetono Purnomo Prawiro (Direktur) Sandy Permadi (Chief Finance Officer )

Rabu, 22 Mei 2019 - 23:02 WIB

Bluebird Tunjuk Noni Purnomo sebagai Direktur Utama PT Blue Bird Tbk

Jakarta-Sesuai keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang dilaksanakan oleh PT Blue Bird Tbk pada hari Rabu, 22 Mei 2019, di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta; Noni Purnomo…

Perayaan Idul Fitri (Foto Dok Industry.co.id)

Rabu, 22 Mei 2019 - 21:00 WIB

Tujuh Perayaan Idul Fitri di Seluruh Dunia

Hari Raya Idul Fitri, hari raya keagamaan yang menandai berakhirnya bulan suci Ramadan, dirayakan oleh umat Islam di seluruh dunia. Kali ini, Agoda, salah satu agen perjalanan online yang paling…

Wiranto, Menkopolhukam (Foto Dok Industry.co.id)

Rabu, 22 Mei 2019 - 20:00 WIB

Wiranto: Aparat Keamanan akan Bertindak Tegas

Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Wiranto menyebutkan pemerintah sudah mengetahui dalang dari aksi kerusuhan yang terjadi pada Selasa malam (21/5/2019) hingga Rabu dini hari…