INDUSTRY.co.id - Jakarta, Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya meproyeksikan sektor pariwisata Indonesia masih akan prospektif pada 2019 ditengah ketidakpastian perekonomian global dan pesta demokrasi dalam negeri.

Advertisement

Hal tersebut disampaikan Menpar Arief Yahya saat memberikan pidato kuncinya dalam ajang Indonesia Tourism Outlook (ITO) 2019 yang digelar oleh Forum Wartawan Pariwisata (Forwapar) di Hotel Borobudur, Jakarta (27/11).

Ia menyatakan bahwa deregulasi di Indonesia dalam rangka untuk menarik wisatawan mancanegara (wisman) dan investor difokuskan pada dua kebijakan yakni "ease of entering Indonesia" dan "ease of doing business" (FDI).

Advertisement

"Ada tiga hal yang dilakukan pemerintah untuk kemudahan masuk ke Indonesia yakni kebijakan bebas visa, menyederhanakan aturan bagi masuknya kapal pesiar asing atau yacht, dan mencabut asas cabotage untuk cruise asing," katanya.

Ditambahkan Menpar, pihaknya juga akan terus menerapkan strategi pemasaran yang tepat untuk menyasar segmen pariwisata milenial dan menerapkan promosi yang selalu go digital.

Advertisement

Disisi lain dilakukan pula dukungan terhadap pengembangan usaha rintisan pariwisata, mempermudah akses melalui program nomadic tourism, serta menargetkan pengembangan 100 destinasi digital yang instagramable di seluruh Indonesia.

Dikesempata  yang sama, Destination Marketing North Asia TripAdvisor Gary Cheng mengatakan, Indonesia masuk peringkat keempat di antara 25 destinasi top dunia bahkan nomor satu top destinasi di Asia versi TripAdvisor.

Advertisement

"Wisatawan melakukan perjalanan berdasarkan search juga menunjukkan misalnya untuk wisatawan Eropa lebih banyak memilih Thailand kemudian Indonesia, wisatawan Amerika memilih Jepang, China, dan Indonesia, wisatawan Timur Tengah memilih Thailand, Filipina, dan Indonesia. Sementara wisatawan Asia memilih Jepang dan Indonesia," katanya.

Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia menjadi preferensi bagi banyak wisatawan dari berbagai belahan dunia sehingga potensi dan peluang tersebut perlu dioptimalkan tahun depan terutama pada segmen milenial yang menyukai destinasi yang otentik dan penuh petualangan.

Sementara itu, Deputi Bidang Pemasaran I Kemenpar Ni Wayan Giri Adnyani mengatakan, pada 2019 Indonesia menggelar pesta demokrasi sehingga sedikit banyaknya tahun politik akan berdampak kepada sektor pariwisata. 

Menurutnya, kerentanan pariwisata terhadap isu sektor keamanan dan stabilitas ekonomi menjadi salah satu penyebab utama.

"Ini menunjukkan bahwa pariwisata tidak berdiri sendiri dan diperlukan kerja sama pentahelix dari seluruh pihak di Indonesia untuk membangun pariwisata maju," kata Ni Wayan. 

Pada kesempatan yang sama Managing Director Grab Indonesia Ridzki Kramadibrata mengatakan pihaknya mampu menjaring inbound dari tujuh negara lainnya tempat Grab berada.

"Dengan kehadiran di 8 negara menjadi kekuatan Grab untuk kampanye Wonderful Indonesia," ungkap Ridzki. 

Oleh karena itu, pihaknya membuka peluang kerja sama untuk mempromosikan pariwisata ke publik yang lebih luas demi menjaring lebih banyak wisatawan tahun depan.

Pengamat ekonomi Faisal Basri mengatakan pariwisata hendaknya jangan terlalu mengacu pada target kuantitas. "Buat apa banyak tapi belanja sedikit," katanya.

Terlebih saat ini ketika rupiah terdampak berbagai faktor eksternal yang membuatnya terus berfluktuasi dan diproyeksikan sesuai RAPBN 2019 berkisar Rp15.000 perdolar AS.

"Dari sini maka yang paling besar untuk bisa memajukan pariwisata adalah pariwisata mancanegara. Tapi wisatawan domestik lebih kalang kabut," imbuh Faisal. 

Ia mencatat sektor pariwisata mengalami surplus devisa 4 miliar dolar AS sementara sektor lain justru defisit. Potensi inilah yang menurut dia harus dioptimalkan melalui strategi yang berkelanjutan. 

Sektor pariwisata menurut dia sangat dibutuhkan kontribusinya terhadap PDB sehingga pemerintah akan mendukung penuh kebutuhan industri dengan kecenderungan merespon positif khususnya dari perspektif regulasi.

"Tahun pemilu tidak ada alasan pariwisata turun, saya tetap optimistik. Dari beberapa pengalaman tidak berpengaruh," pungkasnya.