INDUSTRY.co.id, Jakarta, Indonesia berpotensi menjadi produsen kolagen terbaik dan halal, menyusul ditemukannya formula pengolahan kolagen dari sisik ikan Lemuru oleh Sri Rachmania Juliastuti MT. Perempuan Banyuwangi yang akrab disapa Astutik ini menemukan formula tersebut setelah melakukan riset untuk tesis S2-nya di Teknik Kimia ITS Surabaya.
“Kebetulan saya dan istri tinggal di wilayah kecamatan, kabupaten, penghasil ikan laut terbesar di Indonesia. Yaitu di ujung timur Pulau Jawa, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur,” kata Ali Mustofa AMd, suami dari Astutik MT sang penemu formula, mengawali perbincangan suatu pagi di Jakarta, Sabtu 8 Agustus 2026.
Hadir pula dalam perbincangan Kyai Kharismatik pendiri Nurul Wathon, sekaligus pemimpin Pondok Pesantren Mansyaul Huda, Banyuwangi, KH Suyuti Toha atau yang akrab disapa Mbah Yai, dan Dewan Pembina Jamaah Dzikir Nurul Wathon Mayjen TNI (Purn) Herianto Syahputra.
CEO PT Mega Amina Mustofa Andalan inti mengungkapkan dirinya dan Astutik menyadari bahwa banyak industri perikanan dengan para nelayan yang luar biasa di sekitar rumah mereka.
Mereka melihat bahwa ada bahan yang tidak dimanfaatkan dan dibuang begitu saja. Kemudian Astutik bersama suaminya, Ali, meriset, meneliti, dan sebagainya, sekaligus dijadikan tesis ujian S2 Astutik untuk meraih gelar MT di ITS Surabaya.
“Alhamdulilah istri lulus magna cumlaude dengan nilai IPK 3,94. Hasil riset itu ‘Pengolahan Kolagen dari Limbah Sisik Ikan Lemuru’ kami patenkan,” jelas lulusan Teknik Elektro Politeknik Negeri Malang, ini.
Ali menambahkan jurnal internasional mengenai kolagen sisik ikan Lemuru juga sudah terbit, demikian pula hasil laboratorium dalam mapun luar negeri juga sudah ada. Hal itu mendorong keinginan mereka untuk memproduksinya.
“Negara kita kan maritim dengan ¾ luas wilayahnya adalah laut sehingga sangat berpotensi untuk mengolah sisik ikan lemuru menjadi kolagen,” ucapnya.
Ali berharap kolagen bukan sekadar bisa menjadi produk andalan bangsa, mengingat hingga saat ini Indonesia masih impor kolagen untuk kepentingan estetik (industri farmasi), farmasi (industri kesehatan), juga nutraceutical.
Di sisi lain, ia mengatakan, ada preseden baik bagi para periset atau peneliti. “Apa yang kami alami ini memberikan semangat baru bagi para periset, peneliti, dan inventor-inventor bahwa hasil riset itu bisa diaplikasikan ke dalam industri atau dimplementasikan dalam wujud produk,” jelasnya.
Sejalan itu, sambung Ali, muncul sebuah komoditas baru, ekosistem baru, mengingat Indonesia memiliki banyak pulau dengan lautnya, yang bermanfaat bagi masyarakat sekaligus memberikan nilai ekonomi.
Produksi dengan alat sederhana
Ali mengatakan dirinya bersama Astutik melakukan riset selama 2023, dan 2024 mendapatkan hak paten dari Kementerian Hukum dan HAM terkait dengan metode rumus proses pembuatan kolagen dari sisik ikan Lemuru, dan HAKI.
Dari 2024 hingga saat ini pihaknya mengaplikasikan alat manual sederhana untuk bisa mengolah sisik ikan Lemuru. Dengan alat tersebut, ia menghasilkan kolagen sekitar 5-10 persen dari bahan baku.
“Dengan alat canggih saya bisa mengolah 1 ton per bulan. Hari ini dengan alat sederhana itu kami mengolah 3 kwintal per bulan. Kalau untuk bahan baku (sisik ikan lemuru) hingga saat ini tidak terbatas mengingat tidak ada pihak yang mengolahnya,” terang Ali.
Saat ini, Ali yang bersama Astutik mendirikan PT Mega Amina Mustofa Andalan dengan pabrik seluas 3500 m2 dan 6 karyawan untuk memproduksi kolagen, mengharapkan terjalinnya kerja sama dengan pihak lain untuk bisa mengembangkan produk turunan kolagen.
Perusahaannya kini tengah membuka peluang kerja sama dengan berbagai model kemitraan. Agar produk mereka bisa dimanfaatkan oleh banyak orang. Mengingat kolagen bisa diturunkan ke banyak produk.
“Kami ingin kolagen kami diturunkan ke produk minuman seperti jus buah berkolagen, melalui kerja sama dengan daerah sentra penghasil buah. Misalnya, Medan dengan jeruknya, Malang dengan apelnya, sekitar Kediri nanas, dan daerah lainnya,” katanya berharap.
Ali dan Astutik berharap bisa segera mendapatkan mitra. Mereka menargetkan tahun ini juga perusahaannya dapat memroduksi minuman buah berkolagen dalam kemasan.
Ali sudah menyiapkan merek minuman tersebut Mega Aminoa. “Mega itu nama anak kami, Aminoa itu karena minuman ini mengandung amino dan ibu saya bernama Aminah jadi amino dan Aminah saya gabung menjadi Aminoa,” jelasnya seraya tersenyum.
Terbaik dan Halal
Terakhir, Ali menegaskan bahwa kolagen yang diproduksinya merupakan kolagen terbaik dan tentu saja halal karena hasil dari sisik ikan Lemuru.
Ia menjelaskan kolagen merupakan protein yang dibutuhkan manusia yang berfungsi untuk menjaga kulit (kencang, kenyal, lembap, dan mencegah kerutan), menyehatkan sendi (menendukung kekuatan tulang rawan serta mengurangi nyeri sendi), memperkuat tulang (komponen penting dalam struktur dan kepadatan tulang), serta membantu pemulihan (mempercepat proses penyembuhan luka pada jaringan tubuh).
Kolagen bisa dihasilkan dari bahan hewani ataupun nabati. Kolagen hewani diolah dari daging sapi, ayam, babi, dan ikan dan hasil penelitian laboratorium menyatakan bahwa kolagen dari ikan adalah yang terbaik. “Maka bisa dipastikan produk kolagen kami yang dari sisik ikan Lemuru ini terbaik dan tentu saja halal,” tandasnya.