INDUSTRY.co.id - Jakarta, Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI) memulai rangkaian kegiatan besar di wilayah timur Indonesia pada Agustus 2026. Dua agenda utama digelar di Maluku Utara dan Maluku Tengah, yakni ekspedisi paralayang Fly The Spice Islands serta program pengabdian masyarakat Universitas Indonesia Membangun Nusa (UIMN) 2026.

Ekspedisi Fly The Spice Islands melibatkan 10 orang yang terdiri atas tiga pilot dan tujuh anggota pendukung. Sementara itu, UIMN 2026 di Desa Wailulu, Kecamatan Seram Utara Barat, Kabupaten Maluku Tengah, melibatkan 11 anggota.

Kedua kegiatan telah resmi dimulai. UIMN 2026 dibuka melalui seremoni di Desa Wailulu pada Selasa, 11 Agustus 2026. Sehari sebelumnya, tim Fly The Spice Islands berhasil merealisasikan penerbangan perdana dari puncak Gunung Gamalama, Maluku Utara.

“Kedua program ini menjadi representasi semangat bertualang anak muda sekaligus wujud kontribusi mahasiswa untuk masyarakat,” tutur Ketua Mapala UI, Salman Muzhaffar.

Menyusuri Jalur Rempah dari Ketinggian

Ekspedisi Fly The Spice Islands membawa misi yang memadukan olahraga petualangan dengan penelusuran sejarah Jalur Rempah di Maluku Utara. Kawasan tersebut sejak berabad-abad lalu dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan rempah dunia.

Dalam ekspedisi ini, tim menargetkan penerbangan dari tiga gunung strategis, yakni Gunung Gamalama, Gamkonora, dan Woka. Ketiganya membentang dari kawasan Ternate, Halmahera, hingga Kepulauan Tidore.

Ekspedisi tersebut sekaligus berupaya membuka catatan baru dalam dunia paralayang Indonesia. 

Hingga pelaksanaan kegiatan, tim belum menemukan dokumentasi penerbangan paralayang dari ketiga puncak tersebut. Karena itu, penerbangan yang dilakukan berpotensi menjadi penerbangan pertama yang terdokumentasi dari titik-titik tersebut.

Metode yang digunakan adalah hike and fly. Para pilot terlebih dahulu mendaki gunung menuju titik lepas landas sebelum menerbangkan parasut dari kawasan puncak.

Penerbangan perdana berlangsung pada Kamis, 6 Agustus 2026, dari puncak Gunung Gamalama. Momen tersebut menjadi salah satu capaian penting dalam rangkaian ekspedisi.

“Lepas dari bebatuan besar di lereng kawah utara rasanya lega, parasut membumbung menjauh dari kawah Gamalama dan disambut pemandangan indah Ternate,” ujar Gendon Subandono, Pilot Paralayang Ekspedisi Fly The Spice Islands.

Tak hanya mengejar capaian olahraga, ekspedisi ini juga diarahkan untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan di bidang pariwisata dirgantara bagi pihak berwenang. Selain itu, tim menyiapkan film dokumenter sebagai bagian dari upaya memperkenalkan dan mengembangkan pariwisata minat khusus di Maluku Utara.

Melalui dokumentasi tersebut, Mapala UI berharap Gunung Gamalama, Gamkonora, dan Woka semakin dikenal sebagai destinasi potensial bagi penggiat paralayang serta wisata petualangan.

Pelaksanaan ekspedisi turut didukung Utusan Khusus Presiden (UKP) Bidang Pariwisata dan Harita Nickel. 

Mapala UI juga menggandeng SENDAL-IKJ (Seni dan Alam Institut Kesenian Jakarta) dan BSM Rental untuk kebutuhan dokumentasi, Mapala Emas Sonyinga Alam (ESA) Fakultas Teknik Universitas Khairun sebagai mitra pencinta alam lokal, serta Basarnas untuk mendukung aspek keselamatan dan penyelamatan.

Dari Kelapa Menjadi Peluang Ekonomi 

Di wilayah lain, tepatnya di Desa Wailulu, Maluku Tengah, Mapala UI menjalankan misi berbeda. Melalui UIMN 2026, para mahasiswa berupaya mengubah potensi kelapa masyarakat menjadi produk dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Program tersebut resmi dibuka pada Selasa, 11 Agustus 2026 dan dijadwalkan berlangsung sekitar satu bulan. Pelaksanaannya didukung Pemerintah Desa Wailulu serta Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Darussalam, Darmapala Ambon.

Desa Wailulu memiliki potensi kelapa yang cukup besar. Saat panen raya, produksi kelapa masyarakat dapat mencapai sekitar 30 ton. Namun, besarnya produksi tersebut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan pendapatan petani.

Selama ini, sebagian besar kelapa diolah menjadi kopra, yakni daging kelapa yang dikeringkan. Harga kopra yang relatif rendah dan fluktuatif, ditambah ketergantungan terhadap tengkulak sebagai perantara, membuat pendapatan petani kelapa tidak selalu stabil.

Kondisi tersebut mendorong UIMN 2026 memperkenalkan alternatif pengolahan kelapa menjadi tepung kelapa. Produk tersebut dinilai memiliki nilai tambah dan peluang pasar yang lebih beragam dibandingkan kopra.

“Sebagai mahasiswa selain punya kewajiban di dalam kelas kita juga punya kewajiban di luar kelas, salah satunya untuk berdampak pada masyarakat Indonesia. Maka dari itu, UIMN hadir sebagai wadah pengabdian masyarakat dengan tujuan menambah nilai komoditas lokal untuk meningkatkan pendapatan ekonomi lokal,” ujar Nivand, Project Officer UIMN 2026.

Program tidak berhenti pada pengenalan produk. Rangkaian kegiatan dirancang mulai dari sosialisasi inovasi, praktik pengolahan kelapa menjadi tepung, demonstrasi pengolahan tepung kelapa menjadi produk pangan siap konsumsi, hingga pembentukan komunitas kerja.

Mapala UI juga akan menyerahkan aset produksi kepada masyarakat. Langkah tersebut diharapkan dapat menjaga keberlanjutan kegiatan ekonomi setelah masa pengabdian mahasiswa berakhir.

Sasaran program mencakup tiga kelompok utama, yakni petani kelapa sebagai pemasok bahan baku, komunitas masyarakat yang terlibat dalam produksi, serta pelaku UMKM lokal yang berperan dalam pemasaran produk.

Dengan skema tersebut, UIMN 2026 tidak hanya menargetkan transfer keterampilan, tetapi juga membangun ekosistem usaha yang dapat memberikan nilai tambah bagi komoditas lokal.

“Harapan beta, selesai dari kegiatan ini, bukan selesai juga hasilnya. Namun, ibu-ibu PKK maupun UMKM menjadikan dia (tepung kelapa) sebagai salah satu produk unggulan yang ada di Negeri Wailulu,” ucap Muslim Tounussa, Bapak Raja Negeri Wailulu.

Petualangan yang Berjalan Bersama Pemberdayaan

Dua kegiatan Mapala UI tersebut memperlihatkan pendekatan berbeda dalam menjawab tantangan di wilayah timur Indonesia. Fly The Spice Islands membawa eksplorasi dan olahraga petualangan ke lanskap Maluku Utara, sementara UIMN 2026 berfokus pada penguatan potensi ekonomi masyarakat di Maluku Tengah.

Keduanya juga menjadi bagian dari kolaborasi lintas instansi. Dalam keberangkatan tim menuju Maluku Utara dan Maluku Tengah, Mapala UI mendapat dukungan dari EIGER Adventure, jenama perlengkapan luar ruang asal Bandung, Jawa Barat.

Brand Partnership Manager EIGER, Eva Fitri Yeni, menilai kegiatan Mapala UI menunjukkan bahwa aktivitas petualangan dapat berjalan beriringan dengan kontribusi sosial.

“Inisiatif Mapala UI menunjukkan bagaimana generasi muda mampu menghubungkan petualangan dengan kontribusi sosial. Peran kami adalah memastikan mereka punya dukungan yang dibutuhkan. EIGER senang bisa mendampingi langkah ini sebagai bagian dari perjalanan mereka. Kegiatan ini membuktikan bahwa petualangan bisa berjalan seiring dengan pemberdayaan masyarakat,” ujar Eva.

Bagi Mapala UI, perjalanan ke Maluku bukan sekadar ekspedisi dan pengabdian. Dari langit Gamalama hingga hamparan kelapa di Wailulu, rangkaian kegiatan tersebut menjadi upaya untuk mempertemukan semangat menjelajah dengan gagasan tentang kebermanfaatan yang dapat ditinggalkan setelah para mahasiswa kembali pulang.