INDUSTRY.co.id, Jakarta-Tim bulutangkis beregu putra Indonesia akhirnya mengakhiri penantian 28 tahun dengan merebut medali emas Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Di Ichinomiya City Sports Gymnasium, Nagoya, Jepang, Kamis (24/9/2026), Merah Putih menundukkan China 3-2 dalam final yang berlangsung dramatis, sekaligus menyumbangkan emas pertama bagi kontingen Indonesia di ajang multievent terbesar Asia itu.

Perjalanan tim Indonesia nyaris berakhir lebih awal. Setelah tertinggal 0-2 pada dua partai pertama, asa Merah Putih tampak menipis. Namun, momentum berbalik ketika Alwi Farhan turun di partai ketiga tunggal putra.

Berhadapan dengan Li Shi Feng, Alwi tampil gigih dalam tiga gim yang berlangsung ketat. Ia menang 23-21, 15-21, 21-16, sekaligus memangkas ketertinggalan menjadi 1-2 dan menjaga harapan Indonesia tetap hidup. Kemenangan itu menjadi pembuka jalan bagi comeback dramatis tim beregu putra Tanah Air.

Tekanan berpindah ke partai penentu. Mohammad Zaki Ubaidillah, yang akrab disapa Ubed, tampil di partai kelima tunggal putra melawan Weng Hongyang dari China. Dengan permainan tenang namun tajam, Ubed berhasil menutup pertandingan dengan skor 23-21, 21-13.

Kemenangan dua gim langsung itu memastikan Indonesia unggul 3-2 dan membawa pulang medali emas. Sorak sorai penonton dan delegasi Indonesia pecah seketika. Bendera Merah Putih berkibar di puncak tiang, sementara bendera China dinaikkan di posisi kedua tanpa diiringi lagu kebangsaan—sebuah pemandangan langka di final beregu bulutangkis Asian Games.
Jika Alwi Farhan adalah pahlawan yang membuka jalan dengan kemenangan krusial di partai ketiga, Ubed adalah eksekutor yang menutup drama dengan kemenangan penentu di partai kelima. Keduanya menjadi simbol ketangguhan mental tim Indonesia yang tidak menyerah meski sempat tertinggal 0-2.

“Ini hasil kerja keras seluruh tim. Kami tidak pernah berhenti percaya meski tertinggal. Alwi sudah memberi semangat, dan saya hanya mencoba menyelesaikan tugas di partai terakhir,” kata Ubed seusai pertandingan, sebagaimana dikutip sejumlah media.

Pengakuan PBSI dan Pemerintah

Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) mengapresiasi kinerja positif tim beregu putra dan putri yang tampil sesuai harapan pada Asian Games 2026. Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga Taufik Hidayat juga terlihat berswafoto dengan sejumlah pebulutangkis putra Indonesia usai seremoni pemenang di Ichinomiya City Municipal Gymnasium.

Sementara itu, Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir menyebut raihan emas tim bulutangkis sebagai bukti bahwa Indonesia mampu sejajar dengan negara-negara kuat di Asia. “Ini menunjukkan bahwa dengan kerja keras dan strategi yang tepat, kita bisa bersaing di level tertinggi,” ujar Erick dalam keterangan resminya.

Akhir Penantian Panjang

Kemenangan ini mengakhiri penantian 28 tahun Indonesia atas medali emas beregu putra Asian Games. Terakhir kali, tim Merah Putih meraih emas pada Asian Games 1998 di Bangkok, Thailand. Sejak itu, Indonesia hanya mampu meraih perak dan perunggu di edisi-edisi berikutnya.

Dengan torehan ini, bulutangkis kembali menjadi penyumbang emas pertama bagi kontingen Indonesia di Asian Games 2026, sekaligus mengukuhkan tradisi panjang cabang olahraga itu sebagai salah satu andalan Tanah Air di kancah Asia.

Catatan Perjalanan Final

Berikut urutan hasil pertandingan final beregu putra Asian Games 2026 antara Indonesia dan China:

Ganda putra: Indonesia kalah dari China (skor tidak disebutkan secara rinci dalam laporan media).
Tunggal putra (partai kedua): Indonesia kembali kalah, membuat skor sementara 0-2.
Tunggal putra (Alwi Farhan vs Li Shi Feng): Indonesia menang 23-21, 15-21, 21-16. Skor sementara 1-2.
Ganda/Tunggal (partai keempat): Hasil tidak disebutkan secara eksplisit, namun skor akhir menunjukkan Indonesia dan China imbang 2-2 sebelum partai kelima.

Tunggal putra (Mohammad Zaki Ubaidillah vs Weng Hongyang): Indonesia menang 23-21, 21-13. Skor akhir 3-2.
Kemenangan dramatis ini bukan sekadar soal medali. Ia adalah bukti bahwa di atas net, mental juara bisa lahir dari situasi paling terpuruk sekalipun. Dan di Nagoya, Alwi Farhan serta Mohammad Zaki Ubaidillah menuliskan namanya sebagai dua pahlawan yang membawa pulang emas setelah hampir tiga dekade penantian.