INDUSTRY.co.id - Jakarta - Harga saham PT Jaya Bersama Indo Tbk (DUCK), operator restoran jaringan restoran Chinese food bermerek Duck King, langsung melejit 49,5% ke posisi Rp755 per saham pada perdagangan perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (10/10/2018).
Sebelumnya, harga DUCK yang ditetapkan pada Penawaran Umum Perdana Saham (PUPS) adalah Rp505 per saham
Dalam PUPS tersebut, perseroan menawarkan 513.330.000 lembar saham kepada investor publik dengan harga Rp505 per saham. Itu setara dengan 40% dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan setelah PUPS.
Dengan demikian, total modal tambahan yang diperoleh perseroan lewat PUPS ini mencapai Rp259,23 miliar. Menurut prospektus, perseroan akan mengalokasikan 80% dari dana hasil PUPS tersebut untuk ekspansi usaha, membuka gerai baru dan merenovasi gerai yang ada. Sisanya 20% untuk modal kerja.
Adapun gerai baru yang akan dibuka di sejumlah kota besar Indonesia adalah di Jawa, Bali, Sulawesi dan Kalimantan. Selain itu, Perseroan juga akan berekspansi ke luar negeri dengan menyasar pasar di Vietnam, Kamboja, dan Myanmar.
PUPS tersebut memperoleh respon positif dan antusiasme dari masyarakat yang besar. Itu terlihat dimana saham tersebut mengalami kelebihan permintaan (over subscribe) lebih dari 80 kali. Itu karena kinerja keuangan perseroan yang baik dan harga penawaran saham yang menarik yaitu valuasi Price Earning Ratio (PER) pada 2018 sebesar 5,8 kali dengan asumsi menggunakan proyeksi laba bersih 2018.
Perseroan menjadi emiten ke-43 yang tercatat di BEI tahun 2018 atau emiten ke-606. Dalam aksi korporasi ini, Perseroan menunjuk PT CGS-CIMB Sekuritas Indonesia, PT Danareksa Sekuritas dan PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia sebagai penjamin pelaksana emisi efek.
Menurut Dewi Tio, Direktur DUCK, perseroan mengadakan program Employee Stock Allocartion (ESA) dengan mengalokasikan 0,006% dari jumlah penerbitan saham yang ditawarkan atau sebanyak 30.000 saham. Selain itu, Perseroan juga menerbitkan opsi saham untuk program Management and Employee Stock Ownership Program (MESOP) sebanyak-banyaknya 10% dari jumlah modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO atau sebanyak-banyaknya 128.333.000 lembar saham.
Pada 2003, perseroan membuka restoran pertama di Senayan Trade Centre, Jakarta. Perseroan fokus pada masakan tradisional Tiongkok, tanpa daging dan lemak babi. Adapun hidangan utamanya adalah bebek Peking panggang.
Restoran yang dikelola perseroan tumbuh sebagai merek berkualitas internasional, yang didukung oleh koki berkualitas dan berpengalaman di Asia. Selain itu menjadi salah satu jaringan restoran yang paling cepat berkembang dan diakui, dengan 35 gerai tersebar di sembilan kota di Indonesia.
Perusahaan memiliki tiga merek utama, yaitu The Duck King, Fook Yew, dan Panda Bowl, serta tujuh sub-merek dari The Duck King untuk menangkap permintaan di segmen konsumen kelas menengah yang sedang tumbuh di Indonesia.
Secara grup, Perseroan mempekerjakan hampir 2.000 karyawan dengan 70 koki terlatih dari Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Tiongkok. Mereka dilengkapi dengan kualifikasi standar internasional dan pengalaman yang bereputasi panjang di industri F&B Tiongkok.
Di sisi lain, perseroan akan meningkatkan pangsa pasar dengan konsep restoran atau merek baru, meningkatkan kesadaran konsumen terhadap merek Perseroan melalui pemasaran aktif dan promosi, serta melalui keunggulan operasional.
Pada 2017, perseroan membukukan kenaikan pendapatan sebesar 23,4% dari Rp436 miliar pada 2016 menjadi sebesar Rp538 miliar pada 2017. Adapun EBITDA naik 118,2% dari Rp62 miliar pada 2016 menjadi Rp134 miliar pada 2017. Margin EBITDA mencapai 24,9%. Sedangkan net margin 2017 sebesar 13,5%, dengan perolehan laba bersih sebesar Rp72 miliar.
Sementara itu, Total Aset meningkat 18,3% dari Rp447 miliar pada 2016 menjadi Rp529 miliar pada 2017. Total Ekuitas naik 32% dari Rp241 miliar pada 2016 menjadi Rp318 miliar pada 2017. Total Kewajiban naik 2,3% dari Rp206 miliar pada 2016 menjadi Rp211 miliar pada 2017.
Sedangkan current ratio naik dari 1,9 kali menjadi 2,2 kali. ROE turun dari 36,7% menjadi 22,6%. ROA turun dari 19,7% menjadi 13,6%; dan debt to equity ratio (DER) stabil, yakni sebesar 0,2 kali. (Abraham Sihombing)