INDUSTRY.co.id - Jakarta, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dan induk usahanya, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (Indofood), membukukan pertumbuhan kinerja operasional sepanjang semester pertama 2026.
Kenaikan penjualan dan laba usaha berhasil dipertahankan meski pelemahan nilai tukar rupiah berdampak pada meningkatnya rugi selisih kurs yang belum terealisasi, sehingga menekan laba bersih kedua perusahaan.
ICBP mencatatkan penjualan neto konsolidasi sebesar Rp41,86 triliun hingga 30 Juni 2026, meningkat 11 persen dibandingkan Rp37,60 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Laba usaha juga naik 8 persen menjadi Rp9,15 triliun dari Rp8,48 triliun, dengan marjin laba usaha tetap terjaga di level 21,9 persen.
Namun, laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun 33 persen menjadi Rp3,70 triliun dari Rp5,54 triliun.
Penurunan tersebut terutama dipicu oleh meningkatnya rugi selisih kurs yang belum terealisasi dari aktivitas pembiayaan akibat depresiasi nilai tukar rupiah.
Di sisi lain, indikator kinerja operasional tetap menunjukkan perbaikan. Core profit ICBP meningkat tipis 1 persen menjadi Rp5,40 triliun dibandingkan Rp5,37 triliun pada semester pertama tahun lalu.
Direktur Utama dan Chief Executive Officer ICBP, Anthoni Salim, mengatakan perseroan tetap mampu menjaga kinerja positif meskipun menghadapi dinamika pasar yang semakin kompleks.
"ICBP membukukan kinerja yang positif di paruh pertama tahun 2026 meski dihadapkan pada situasi pasar yang semakin dinamis. Di tengah situasi pasar yang masih penuh ketidakpastian, kami tetap waspada. Kami akan terus menyelaraskan produksi dengan kebutuhan pasar serta mengelola biaya secara efektif dan efisien untuk menjaga profitabilitas dan arus kas," ujar Anthoni Salim.
Sementara itu, PT Indofood Sukses Makmur Tbk juga membukukan pertumbuhan penjualan dan laba usaha sepanjang semester pertama 2026.
Penjualan neto konsolidasi meningkat 9 persen menjadi Rp65,53 triliun dari Rp59,84 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Laba usaha Perseroan naik 14 persen menjadi Rp13,29 triliun dibandingkan Rp11,69 triliun pada semester pertama 2025.
Marjin laba usaha tetap berada di kisaran 20,3 persen, mencerminkan kemampuan perusahaan menjaga efisiensi operasional di tengah tantangan ekonomi global.
Meski demikian, laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun 19 persen menjadi Rp4,72 triliun dari Rp5,84 triliun.
Penurunan tersebut terutama disebabkan meningkatnya rugi selisih kurs yang belum terealisasi dari kegiatan pendanaan seiring pelemahan rupiah.
Di luar dampak fluktuasi nilai tukar, kinerja inti Perseroan masih menunjukkan tren positif. Core profit Indofood meningkat 7 persen menjadi Rp6,18 triliun dari Rp5,78 triliun pada semester pertama tahun sebelumnya.
Anthoni Salim menegaskan Perseroan akan tetap berfokus pada pertumbuhan jangka panjang dengan menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan profitabilitas.
"Di tengah ketidakpastian global yang terus berlangsung, Indofood membukukan kinerja yang solid pada semester pertama di tahun 2026 ini. Kami tetap fokus mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan, menjaga keseimbangan antara pangsa pasar dan tingkat profitabilitas, serta mempertahankan posisi neraca yang sehat," kata Anthoni Salim.
Kinerja semester pertama tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan operasional ICBP dan Indofood masih mampu dipertahankan di tengah tekanan eksternal.
Meskipun laba bersih terdampak volatilitas nilai tukar, kedua perusahaan tetap menjaga profitabilitas operasional melalui pengendalian biaya, efisiensi produksi, serta disiplin dalam pengelolaan arus kas dan struktur keuangan.