INDUSTRY.co.id - Jakarta - Publikasi terbaru Bank Pembangunan Asia (ADB) menyatakan kawasan Asia telah memiliki opsi kebijakan yang bermanfaat untuk mengantisipasi gejolak yang dapat merusak momentum pertumbuhan ekonomi.
"Potensi kerentanan ini dapat dikelola jika dipantau dengan erat dan kebijakan yang dirancang dilaksanakan dengan hati-hati," kata Kepala Ekonom ADB, Yasuyuki Sawada dalam pernyataan yang diterima Antara di Jakarta, Rabu (26/9/2018)
Sawada mengatakan kawasan Asia telah berkembang dan merasakan kemakmuran setelah mampu bertahan dari krisis pada periode 1997-1998. Namun saat ini berbagai tantangan seperti normalisasi kebijakan The Fed maupun ketegangan global mulai berpotensi mengganggu pertumbuhan.
Tekanan eksternal yang dapat merusak stabilitas tersebut antara lain tingkat utang yang tinggi, aliran modal yang mudah berubah, depresiasi mata uang yang tajam, harga properti yang melejit serta penularan lintas batas berbagai masalah keuangan.
Namun, kawasan ini mempunyai sejumlah kebijakan fiskal untuk mengatasi guncangan seperti kebijakan fiskal kontrasiklus dengan mengurangi utang dan memperluas basis pajak serta memiliki jaring pengaman sosial untuk melindungi masyarakat rentan.
Selain itu, pemerintah di negara berkembang Asia juga berinvestasi dalam penyangga fiskal seperti dana kekayaan negara (sovereign wealth fund) yang dikelola dengan baik untuk perekonomian yang mempunyai sumber daya berlimpah.
Kebijakan makro yang berhati-hati seperti pembatasan Loan To Value dan Debt To Income juga menjadi opsi yang dipilih negara-negara Asia untuk menstabilkan harga properti.
Otoritas moneter juga telah melakukan upaya untuk menahan volatilitas kurs agar tidak terlalu tinggi. Pilihan kebijakan lainnya adalah menetapkan pengendalian aliran modal untuk mengantisipasi terjadinya perlemahan mata uang.
Langkah-langkah berkelanjutan untuk memperkuat fundamental juga perlu dilakukan antara lain memastikan adanya kebijakan fiskal yang baik, bank sentral yang independen dan terlibat koordinasi kebijakan dalam negeri, sektor keuangan yang dalam, reformasi struktural berorientasi pasar dan jaring pengaman sosial memadai.