INDUSTRY.co.id - Jakarta, Kementerian Perindustrian telah menjajaki kerja sama dengan berbagai lembaga global untuk mengakselerasi penerapan industri 4.0 di Indonesia.
Lembaga tersebut, antara lain Fraunhover IPK, The Boston Consulting Group (BCG) dan International Enterprise Singapore (ESG).
"Kemenperin dan Fraunhover IPK sudah menghasilkan empat poin kesepakatan dalam upaya penguatan kerja sama di bidang litbang," ujar Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI), Ngakan Timur Antara di Jakarta (31/5/2018).
Poin pertama, yaitu pengembangan detail rencana aksi untuk implementasi Making Indonesia 4.0 pada lima sektor industri prioritas. Kedua, merevitalisasi enam balai litbang di lingkungan Kemenperin untuk mendorong implementasi Making Indonesia 4.0 pada lima sektor industri prioritas.
"Keenam balai litbang tersebut, yakni Balai Besar Logam dan Mesin (BBLM) Bandung, Balai Besar Bahan dan Barang Teknik (B4T) Bandung, Balai Besar Teksil (BBT) Bandung, Balai Besar Induttri Agro (BBIA) Bogor, Baristand Surabaya, serta Balai Besar Kimia dan Kemasan (BBKK) Jakarta. Selama ini balai-balai kami masih menjadi rujukan bagi industri di dalam negeri," paparnya.
Poin ketiga, pengembangan program link and match antara politeknik di lingkungan Kemenperin dengan industri. Serta, keempat, pengembangan pusat inovasi dan kebijakan untuk meningkatkan kemampuan industri kecil dan menengah (IKM) dalam implementasi industri 4.0.
Sementara itu, Kemenperin juga tengah melakukan penjajakan kerja sama dengan BCG untuk pembangunan model factory sebagai pusat inovasi berbasis industri 4.0," kata Ngakan.
Kehadiran model factory ini diharapkan dapat membantu transformasi perusahaan manufaktur di indonesia baik dari segi model bisnis maupun operasional dengan memanfaatkan teknologi terkini, proses digital yang mutakhir dan sistem manajemen yang terintegrasi.
"Sedangkan, dengan ESG, Kemenperin sepakat membentuk working group (WG) industri makanan dan minuman yang terdiri dari Kemenperin, ESG, serta beberapa industri makanan dan minuman di Indonesia dan Singapura," tuturnya.
Kelompok kerja tersebut akan bertugas melakukan assessment dan pemetaan teknologi industri makanan dan minuman di indonesia serta melakukan diskusi teknis lebih mendalam terkait ruang lingkup kerja sama Indonesia dan Singapura dalam rangka mempercepat implementasi Making Indonesia 4.0 pada sektor industri makanan dan minuman di Tanah Air.
"Kami optimistis, apabila semua program dan kebijakan dijalankan secara terintegrasi, target Indonesia menjadi 10 besar negara ekonomi terkuat di dunia pada tahun 2030 bisa tercapai," tegas Ngakan.
Pada kuartal pertama tahun 2018, industri pengolahan nonmigas masih memberikan kontribusi terbesar dengan mencapai 17,95 persen terhadap PDB nasional.
Selain itu, industri pengolahan nonmigas mampu tumbuh sebesar 5,03 persen pada kuartal I/2018 atau meningkat dibanding periode yang sama tahun 2017 sekitar 4,80 persen.
Sektor yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah industri mesin dan perlengkapan sebesar 14,98 persen. Kemudian, sektor manufaktur yang kinerjanya juga gemilang atau tumbuh di atas PDB nasional, industri makanan dan minuman yang menempati angka pertumbuhan hingga 12,70 persen, industri logam dasar 9,94 persen, industri tekstil dan pakaian jadi 7,53 persen, serta industri alat angkutan 6,33 persen.
Dengan adanya ekonomi digital, semakin banyak jenis usaha yang tumbuh. Khusus di sektor industri manufaktur, dengan advance robotic dan connectivity akan meningkatkan rantai nilainya dari hulu hingga aftersales.
"Jadi, sekarang dibutuhkan tenaga seperti operator robot dan analisis data. Bahkan, diperkirakan implementasi revolusi industri 4.0 akan menciptakan pertumbuhan tenaga kerja hingga 10 juta orang sampai tahun 2030," tutup Ngakan.