INDUSTRY.co.id - Jakarta, Perjalanan dari Bandar Udara Internasional Kualanamu Deli Serdang menuju Kisaran kabupaten Asahan di tempuh dengan waktu 4  jam. Kendati cuaca terasa panas dan melelahkan, namun perjalanan siang itu terhibur oleh  suguhan pemandangan indah, berupa hamparan perkebunan kelapa sawit, karet, kakao ( coklat ) dan kelapa. Kabupaten Asahan merupakan salah satu sentra perkebunan di Provinsi Sumatera Utara. Bahkan Provinsi Sumatera Utara menjadi penghasil kelapa sawit utama di Indonesia.

Advertisement

Perjalanan ke Ke Kisaran, bagian dari roadshow tim BNI Syariah bersama media, menemui sosok Risdani, Sang Duta Mutiara Bangsa Berhasanah pada perberdayaan masyarakat,  yang meraih apresiasi dari  BNI Syariah. Risdani memiliki dua kelompok usaha kreatif. Dari koran bekas hingga budidaya Lele halal.

Rupanya kedatangan kami pada 5 Desember 2016 itu, sudah dinantikan oleh  Risdani Yasin dan belasan anggota pengrajin lainnya. Bertempat di di gerai miliknya, Dapur Kreasi Daur Ulang Risarepanga, yang asri, kami disambut Risdani dengan penuh ramah.  

Advertisement

Ruangan tamunya itu penuh sesak dengan pajangan beraneka ragam produk cantik, seperti guci, tempat payung, tempat sampah, kotak tisu, souvenir, tas, frame foto dan bingkai kaca, yang semuanya terbuat dari koran bekas.

Ada juga kerajinan dari plastik sasetan bekas nutrisari, kapal api. Tak hanya dari koran, terdapat  juga produk kreatif dari batang (lidi) sawit dan tanaman lainnya. Lebih dari  33 jenis produk kerajinan berbahan kertas, limbah plastik, batang sawit,  sukses disulap Risdani menjadi produk bernilai. “Awalnya saya ragu dengan usaha ini. Tapi ternyata disambut pasar yang luar biasa,”ujarnya memulai ombrolan.

Advertisement

Risdani Yasin, yang profesi utamanya sebagai guru Madrasah Aliyah Kisaran, menuturkan, awalnya sekadar iseng. Di sela sela waktunya mengajar sebagai guru non PNS, ia berpikir bagaimana  mencari penghasilan tambahan termasuk memberdayakan orang-orang di desanya dengan membuat sebuah produk dengan tanpa modal. Lalu berbekal keahlianya dalam bidang seni,  Ia, mulai berusaha mencari bahan baku yang mudah didapat dan diproses menjadi kerajinan tangan.

Melalui perenungan panjang, pilihannya pada eceng gondok. Tapi sayang tumbuhan liar ini sudah jarang di kampungnya, Desa Kisaran, Asahan. Padahal menurut RisdDani, eceng gondok, bahan bakunya bagus, mudah dibentuk karena seratnya mudah dilusuhkan. Tapi, persoalannya, mencari bahan bakunya agak sulit.

Advertisement

Ayah empat anak ini tak putus asa. Ia pun mencoba menggunakan pelepah pisang. Namun, setelah dicoba, Pelepah pisang, kata Risdani,  membutuhkan proses cukup panjang, karena harus direndam dan dikeringkan untuk menghilangkan getah dan kadar air.

Lantaran menemukan jalan buntu menggunakan bahan baku dari tumbuhan, akhirnya Risdani mencoba barang-barang bekas, seperti botol bekas, paralon, styrofoam, dan lainnya.

Istrinya sempat menaruh curiga, karena merasa terjadi keanehan pada dirinya. Pasalnya setiap hari Risdani gemar mencari dan kumpul barang bekas. “Istri sempat marah-marah karena bawa-bawa sampah ke rumah," ujar Risdani, mengenang.

Sejurus perjalanan waktu, dalam proses mencari bahan baku itu, perhatian Risdani pun tertuju pada koran bekas yang menumpuk di kediamannya.

Dia melihat tekstur koran mudah dilusuhkan dan dibentuk, sehingga dapat memenuhi keinginannya untuk membuat pernak-pernik perabotan rumah tangga.

Risdani kemudian menjatuhkan pilihannya pada koran bekas. Bagi dia, koran bekas bila dimanfaatkan secara baik dan benar, bisa menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Pria kelahiran Desa Kisaran, Asahan, 1 Oktober 1973 ini, kemudian membeli koran koran bekas. Satu  kilo gram koran-koran bekas dihargai Rp 2000. Tiap satu kilo gram itu terlebih dahulu dikepang, sehingga memiliki daya rekat yang juga kuat. Dari satu kilo gram koran bekas Rp 2000 itu, harganya bisa naik 15 kali lipat setelah diolah menjadi bahan baku pernak-pernik cantik. Salah satunya  dijadikan Guci, yang nilainya berlipat-lipat, bisa mencapai Rp 125.000 per satu guci . Risdani tidak bekerja sendiri, tapi  membentuk Kelompok kelompok Kerajinan, yang anggotanya Ibu-ibu rumah tangga.

Kelompok kerja kreatif ini menyebar sekaligus memberdayakan penduduk Asahan dan beberapa kota di Sumatera Utara bahkan di seluruh Indonesia. Mula-mula Ridani mengajarkan anggotanya membuat tali berbahan koran yang dihargai Rp500 rupiah per meter, sedangkan untuk membuat tali sepanjang 70 meter hanya membutuhkan 1 kg koran bekas. Model usaha yang ditawarkan cukup diminati. Karena relatif mudah dan dapat dikerjakan sendiri tanpa menggunakan alat khusus. Warga hanya diminta membuat tali berdiameter 1 cm berbahan koran.

Komitmen Risdani,  berapa pun yang dibuat anggotanya, akan dibelinya, karena pasarnya ada. Penghasilan ibu ibu rumah tangga ini  berkisar Rp 500 ribu hingga 2 juta per bulan.

Dari setiap produk kerajinan yang dihasilkan, terlihat layaknya menggunakan bakan baku rotan. Inilah yang membuat ragam produk kreatif Risdani, mengundang decap kagum banyak orang. Hasil karya mereka laris manis bak kacang goreng. Pembelinya tidak hanya diperuntukan pasar lokal tapi sudah menembus pasar ekspor ke Australia, Jerman, Malaysia, Jepang, Newzeland, dan sebagainya.  “Peminat justru lebih banyak dari orang-orang asing,”ujarnya.

Keberhasilan menembus pasar ini, membuat Risdani percaya diri menelurkan kebisaannya itu kepada warga kampungnya, Desa Tanjung Asri Kabupaten Asahan.

Lantaran mampu memberikan keuntungan bagi warga setempat, ajakan Risdani ini pun menyebar luas dan tidak sebatas di Kabupaten Asahan. Tapi  meluas ke provinsi lain, sehingga terbentuklah kelompok usaha di Padang, Makassar, Palembang, dan Wakatobi dengan serapan mencapai 100 orang sebagai penyuplai bahan baku. Untuk menyerap produk buatan rekannya yang tersebar di seluruh Indoneia itu, Risdani sama sekali tidak khawatir karena telah bekerja sama dengan reseller di seluruh kota.

Menurut Risdani, yang yang masuk dalam  Green Teacher Australia, yakni komunitas guru yang peduli pada lingkungan, setelah memulainya pada tahun 2009, ia sudah meraup omzet sekitar Rp300 juta untuk pasar nasional dan Rp100 juta untuk pasar luar negeri. Sementara, dari total omzet itu, keuntungan bersih yang diperolehnya sekitar 25 persen.

Dengan penghasilan yang luar biasa besarnya itu, Risdani  tak berhenti jadi guru. Menurutnya, menjadi guru merupakan bentuk pengabdian. Ia memang memiliki komitmen untuk mendidik siswa secara keilmuan sesuai dengan kepandaian yang dimiliki yakni bidang lingkungan hidup, tapi juga mengajarkan anak asuhnya cara berwirausaha.

Lele Halal

Selain itu, mengelola kelompok kreatis Kertas Koran, Risdani juga menjalankan usaha budidaya lele. Bukan lele biasa. Lele vegetarian dan bersertifikat halal.

Dinamakan Lele halal, karena menurut Risdani,  mengikuti keinginan dan  tuntutan pasar. Pada umumnya lele, bisa dikatakan pemakan segala. Tetapi Risdani mencoba budidaya Lele yang vegetarian sehingga layak di konsumsi. Dengan melihat pasar wilayah Sumatera,  yang mayoritas penduduknya muslim, Solusi Lele halal bagi Resdani adalah peluang.   

Lele adalah sejenis ikan yang hidup di air tawar, mudah dikenali karena tubuhnya yang licin tak bersisik, agak pipih memanjang, serta memiliki “kumis” yang panjang, yang mencuat dari sekitar bagian mulutnya.

Menurut Risdani, sejak benih, lele-lele dibiasakan diberi makan   daun daunan saja. Dalam  tiga bulan lele sudah bisa panen. Lele yang dihasilkan sehat dan jauh dari penyakit, aman dikonsumsi. Karena menjual lele berlabel halal , permintaan pasar pun kian bertambah. Setiap 3 bulan, kelompok usahanya bisa panen 1, 3 ton dan habis terjual dengan kisaran keuntungan Rp 20 juta.

Hanya saja, Lele halal Risdani, berbeda dengan Lele lainnya. Menurut pengakuan seorang pelanggan, lele halal, saat digoreng tidak menyusut atau mengembang. Bila dimakan terasa seperti makan ubi rebus.  Kormensius Barus