INDUSTRY.co.id - JAKARTA — Italia memperkuat upaya memperdalam kerja sama industri mode, kulit, dan alas kaki dengan Indonesia melalui misi dagang yang digelar di sela BTN Indonesia Fashion Week (IFW) 2026. Langkah tersebut diarahkan untuk mendorong transfer teknologi, investasi, hingga penguatan rantai pasok menjelang implementasi Kemitraan Ekonomi Komprehensif Uni Eropa–Indonesia (EU–Indonesia CEPA) yang ditargetkan berlaku pada awal 2027.
Misi dagang yang dipimpin Italian Trade Agency (ITA) Jakarta Trade Office menggandeng ASSOMAC, Assocalzaturifici, dan SACE, serta mempertemukan pelaku industri Italia dengan asosiasi dan pemerintah Indonesia. Rangkaian kegiatan tersebut merupakan kelanjutan dari kunjungan delegasi ke sentra penyamakan kulit Garut, Jawa Barat, pada 27 Juli 2026.
Direktur Jenderal ASSOMAC sekaligus Ketua Delegasi, Agostino Apolito, memaparkan visi menjadikan Garut sebagai proyek percontohan kawasan industri mode dan kulit terpadu yang mengintegrasikan sektor manufaktur, pariwisata, dan budaya.
Menurutnya, peluang tersebut semakin terbuka setelah perundingan EU–Indonesia CEPA rampung dan diharapkan mulai berlaku pada awal 2027, sehingga akses terhadap teknologi, standar internasional, material, dan rantai nilai global menjadi lebih luas.
“Garut berpotensi menjadi laboratorium teritorial bagi kemitraan industri Italia–Indonesia sebagai sebuah distrik mode dan kulit yang memadukan peluang dari CEPA, ambisi pertumbuhan tinggi, standar internasional, dan identitas lokal. Ini bukan sekadar transfer mesin, melainkan membangun ekosistem industri secara utuh, mulai dari teknologi, keterampilan, kelembagaan, hingga investasi,” ujar Agostino.
Dari sisi industri alas kaki, Head of Global Trade Assocalzaturifici sekaligus perwakilan MICAM Milano, Matteo Scarparo, memperkenalkan MICAM Milano sebagai salah satu barometer industri alas kaki dunia yang mempertemukan 794 merek dari berbagai negara dengan lebih dari 20.000 pembeli profesional.
Ia juga memperkenalkan kampanye terbaru bertajuk Shoes First yang menempatkan sepatu sebagai bagian dari identitas budaya dan gaya hidup. Bersamaan dengan itu, Italia juga tengah mengajukan Seni Kerajinan Sepatu Italia (The Art of Italian Footwear) sebagai Warisan Budaya Tak Benda UNESCO.
“Sepatu bukan lagi sekadar barang terakhir yang dikenakan seseorang, melainkan hal pertama yang diingat orang lain. Ubah sepatunya, ubah pula ceritanya. Itulah semangat yang ingin kami bawa dalam setiap dialog dengan mitra baru, termasuk Indonesia,” kata Matteo.
Sementara itu, Relationship Manager SACE untuk Asia Tenggara dan Oseania, Cristina Colussi, mengungkapkan nilai ekspor Italia ke Indonesia mencapai 2,25 miliar euro sepanjang 2025 atau melonjak 80% dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut ditopang antara lain oleh ekspor mesin manufaktur sekitar 120 juta euro, tekstil 40 juta euro, dan produk kulit sekitar 30 juta euro.
Menurut Cristina, Indonesia menjadi salah satu pasar dengan pertumbuhan tercepat bagi ekspor Italia di Asia Tenggara. Untuk memperkuat hubungan bisnis, SACE menawarkan skema pembiayaan Push Strategy berupa pembiayaan tanpa ikatan (untied financing) dengan jaminan hingga 80% guna mempercepat kerja sama antara pemasok Italia dan pembeli di Indonesia.
“Indonesia adalah salah satu pasar pertumbuhan paling dinamis di Asia Tenggara bagi ekspor Italia. Basis manufaktur tekstil, kulit, dan alas kaki di sini menciptakan permintaan nyata terhadap teknologi dan material dari Italia, dan prioritas lokal ini sejalan dengan keunggulan Italia di bidang mesin, material, dan pengetahuan industri,” ujar Cristina.
Di pihak Indonesia, Ketua DPW Jawa Barat Asosiasi Persepatuan Indonesia (APRISINDO), Henny Setiadi, menilai kolaborasi tersebut dapat mempercepat peningkatan daya saing industri nasional melalui adopsi teknologi, peningkatan standar mutu, dan perluasan akses pasar internasional.
“Kolaborasi dengan mitra Italia membuka peluang bagi pelaku industri alas kaki dan kulit Indonesia untuk naik kelas — baik dari sisi teknologi, standar kualitas, maupun akses pasar global. Kekayaan budaya dan keragaman alam Indonesia adalah modal besar yang bisa kami padukan dengan keunggulan teknologi dan jejaring Italia,” kata Henny.
Pertemuan lanjutan antara delegasi Italia dengan perwakilan Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, serta Kementerian Koperasi dan UKM juga membahas tindak lanjut konkret berupa business matchmaking, transfer teknologi, dan peluang investasi antara produsen mesin Italia dengan pelaku industri kulit dan alas kaki Indonesia.
Kolaborasi tersebut juga menjadi pintu menuju partisipasi pelaku industri Indonesia dalam Simac Tanning Tech edisi ke-52 dan MICAM Milano pada September 2026, yang diharapkan semakin memperluas akses produk nasional ke pasar global sekaligus memperkuat integrasi industri alas kaki dan kulit Indonesia dalam rantai pasok internasional.