INDUSTRY.co.id - JAKARTA — Batik tidak lagi sekadar hadir sebagai busana, tetapi menjadi medium yang merekam perjalanan sebuah kota. Pesan itu mengemuka dalam gelaran penutup hari kedua BTN Indonesia Fashion Week (IFW) 2026 bertajuk RAGAMKULTURA JAKARTA, yang menampilkan karya sembilan jenama wastra binaan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) DKI Jakarta.
Melalui koleksi yang terinspirasi dari ikon kota, flora perkotaan, budaya Betawi hingga kisah para perajin perempuan, para penggiat wastra menghadirkan narasi tentang Jakarta sebagai kota dengan ragam kultur yang terus berkembang tanpa meninggalkan akar budayanya.
Perintis Batik Riana, Riana Kusuma Astuti, mengatakan inspirasi koleksinya lahir dari hal-hal sederhana yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah bunga kembang sepatu yang banyak tumbuh di sepanjang jalan Ibu Kota.
"Karena saya bukan desainer. Saya penggiat batik. Jadi ide-ide kreatif itu muncul dari kebiasaan sehari-hari, seperti melihat Kembang Sepatu lalu dijadikan batik lalu dikreasikan sehingga jadi satu cerita tersendiri tentang Jakarta," ujar Riana.
Menurutnya, kembang sepatu menjadi simbol keindahan, keramahan, sekaligus ketangguhan Jakarta untuk terus tumbuh. Motif tersebut dipadukan dengan Tumpal Pasung Betawi yang berakar dari arsitektur tradisional Betawi sebagai lambang kekuatan, perlindungan, dan keseimbangan hidup.
Perpaduan keduanya diterjemahkan dalam koleksi dengan dominasi warna-warna cerah khas Betawi dan rona merah muda yang terinspirasi dari bunga kembang sepatu, dipadukan dengan siluet kontemporer yang tetap menghormati warisan budaya.
Sementara itu, pendiri Batik Marunda, Irma Dharma Sinurat, mengangkat tema Sampir Jakarta, sebuah interpretasi modern dari sampir Betawi yang merepresentasikan kehangatan dan keterbukaan Jakarta sebagai kota yang menerima keberagaman.
"Sampir tidak menutupi, tidak membatasi, melainkan disampirkan hangat di bahu sebagai simbol kota selama berabad-abad memberi ruang bagi siapa saja untuk datang, bertumbuh, dan menjadi bagian dari kisah Jakarta. Kami ingin bercerita tentang betapa indahnya Jakarta lewat sehelai kain, dan itu akan menjadi legacy untuk kota Jakarta," kata Irma.
Ia menjelaskan, setiap helai batik yang ditampilkan merupakan hasil karya perempuan-perempuan penghuni Rusunawa Marunda. Berawal dari program pemberdayaan masyarakat, para ibu rumah tangga tersebut belajar membatik tulis hingga mampu menghasilkan karya yang kini tampil di salah satu panggung mode terbesar di Indonesia.
Motif flora, fauna, landmark hingga keberagaman budaya Jakarta yang mereka hasilkan menjadi identitas batik urban yang relevan bagi generasi muda sekaligus mencerminkan semangat membangun masa depan melalui industri kreatif.
Aspek regenerasi pasar juga menjadi perhatian Batik Mamauty. Perintisnya, Uty Wulandari, tetap mempertahankan karakter kasual dalam koleksinya agar lebih dekat dengan generasi muda sekaligus sejalan dengan tema besar BTN Indonesia Fashion Week 2026, Simetria, yang menekankan keterhubungan antara nilai budaya dan masa depan industri kreatif.
"Jadi pembuatan koleksi ini sesuai karakter saya dengan bahan atau dengan motif lebih beragam, agar menyentuh Jakarta sebagai kota dengan ragam kultur," ujar Uty.
Senada dengan itu, Hardi Lian dari Lian Indonesia mengusung tema Simfoni Jakarta yang terinspirasi dari keberagaman flora di Ibu Kota.
"Saya membuat tema Simfoni Jakarta terinspirasi dari ragam flora Jakarta. Justru keindahannya dari ragam warna, berbeda-beda, sehingga menjadi simfoni bagi kota," kata Lian.
Keseluruhan koleksi Ragamkultura Jakarta memperlihatkan bahwa perkembangan industri fesyen Indonesia kini tidak lagi hanya berbicara mengenai tren, tetapi juga narasi. Monumen Nasional, Ondel-Ondel, Elang Bondol, kembang sepatu, ornamen rumah Betawi hingga lanskap pesisir diterjemahkan menjadi elemen desain yang menghidupkan memori dan identitas Jakarta sebagai kota metropolitan yang dibentuk oleh keberagaman budaya, sejarah panjang, serta masyarakat yang terus bergerak maju.