INDUSTRY.co.id - JAKARTA, Usai mengikuti pelantikan sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Jusuf Hamka yang akrab disapa Babah Alun tidak memilih langsung beristirahat.
Dari Istana, ia justru melanjutkan perjalanan menuju sebuah masjid untuk bertemu dengan ratusan pengemudi ojek online (ojol) yang telah menunggunya. Pertemuan itu menjadi momen syukuran sekaligus perjumpaan dengan orang-orang yang selama ini dekat dengannya.
Ada satu pemandangan yang mencuri perhatian dalam perjalanan tersebut. Babah Alun datang bukan dengan kendaraan mewah, melainkan dibonceng seorang pengemudi ojol.
Setibanya di lokasi, suasana langsung riuh. Para pengemudi yang telah berkumpul menyambut kedatangannya dengan sorakan.
“Baba Alun siapa yang punya? Baba Alun siapa yang punya? Siapa yang punya, yang punya anak ojol,” sorak mereka.
Babah Alun kemudian masuk ke dalam masjid dan duduk bersama para pengemudi. Di hadapan jamaah, ia berbicara tentang amanah baru yang kini berada di pundaknya setelah dipercaya menjadi anggota Wantimpres.
Menurutnya, jabatan tersebut merupakan posisi tinggi dalam pemerintahan. Namun, ia tidak melihatnya sebagai sesuatu yang layak untuk dibanggakan.
“Jabatan ini buat saya bukan sesuatu yang membanggakan, tetapi tugas berat,” ujar Babah Alun.
Ia mengatakan kepercayaan tersebut tidak terlepas dari doa masyarakat, termasuk para pengemudi ojol yang selama ini menjadi bagian dari kehidupannya.
Babah Alun juga menyampaikan pesan Presiden kepadanya agar memperhatikan masyarakat yang selama ini berada di kelompok termarjinalkan.
“Perhatikan masyarakat yang termarjinalkan, di antaranya teman-teman ojol,” kata Babah Alun, mengutip pesan Presiden.
Di hadapan para pengemudi, ia kemudian sedikit membuka cerita tentang perjalanan hidupnya.
Ia menyebut dirinya sebagai “anak jalanan”, seseorang yang tidak menempuh pendidikan tinggi, tetapi kemudian memperoleh kepercayaan untuk mengemban tugas negara.
“Saya ini anak jalanan. Anak yang enggak sekolah tinggi, tetapi karena jujur dan amanah, alhamdulillah Allah kasih berkah,” tuturnya.
Karena itu, Babah Alun meminta para pengemudi ojol tidak sungkan mengingatkan dirinya apabila suatu saat menjalankan tugas tidak sesuai dengan amanah yang diberikan.
“Tolong kalau saya melakukan tugas, ingatkan saya. Kalau saya tidak benar dan melenceng, tidak amanah, silakan marahin saya,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa jabatan tersebut tidak ingin digunakannya untuk mengejar fasilitas maupun keuntungan pribadi.
“Saya tugas tanpa pamrih. Saya tidak mengharapkan fasilitas atau gaji, tetapi insyaallah saya akan selalu setia untuk Merah Putih,” ujarnya.

Babah Alun bahkan meminta para pengemudi ojol turut menjadi mata dan telinga dalam melihat persoalan masyarakat di berbagai daerah.
Menurutnya, informasi dari masyarakat dapat menjadi bahan untuk disampaikan dan dikomunikasikan kepada pemerintah.
“Yang bisa membantu, tunjukkan saya di mana ada daerah-daerah yang termarjinalkan yang membutuhkan, insyaallah saya akan komunikasikan,” katanya.
Sebagai anggota Wantimpres, Babah Alun mengatakan dirinya memiliki tugas memberikan masukan kepada Presiden. Karena itu, ia menekankan pentingnya kejujuran, toleransi, pemberantasan korupsi, serta menjaga persatuan bangsa.
Ketika ditanya mengenai pesan khusus dari Presiden, Babah Alun menyebut beberapa hal yang menurutnya menjadi pegangan dalam menjalankan tugas.
“Tegak lurus pada Merah Putih. Jaga negeri, tidak boleh ada perpecahan. Jaga terus toleransi, pemberantasan korupsi terus digalakkan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya memperhatikan kesejahteraan masyarakat di berbagai penjuru Indonesia.
Suasana pertemuan berlangsung santai. Gaya bicara Babah Alun yang dikenal lugas dan ceplas-ceplos tetap muncul di tengah status barunya sebagai pejabat negara.
Namun, ia menyadari kini ada tuntutan untuk lebih berhati-hati dalam berbicara.
“Saya sekarang udah enggak boleh ngomong nyablak nih,” ujarnya, disambut suasana akrab dari para hadirin.
Meski demikian, ia meminta masyarakat tidak mengartikan perubahan gaya tersebut sebagai perubahan sikap.
“Sekarang bukan berubah, tapi ini tuntutan,” katanya.
Di tengah suasana syukuran, Babah Alun juga menitipkan pesan sederhana kepada para pengemudi ojol. Ia meminta mereka tetap semangat bekerja, menjaga keluarga, lingkungan, dan keamanan negeri.
“Tetap semangat mencari nafkah. Jaga keluarga, jaga warga, kita jaga keamanan negeri kita,” pesannya.
Ia mengingatkan bahwa perpecahan pada akhirnya akan merugikan masyarakat sendiri.
“Sebab banyak orang yang ingin membuat kita pecah. Kalau pecah, ya rugi kita semua,” ujarnya.
Soal Persoalan yang Viral
Ketika ditanya mengenai persoalan yang sempat viral di media sosial terkait laporan terbaru dari pihak odong-odong dan jangkrik kipak, Babah Alun hanya tersenyum santai.
Ia kemudian menyampaikan pesan agar para pengemudi tetap mengedepankan keramahan, termasuk kepada orang-orang yang mungkin sedang berseberangan dengan mereka.
Menurutnya, perselisihan tidak semestinya menghilangkan sikap saling membantu.
Jika suatu saat pihak yang sebelumnya berselisih justru membutuhkan pertolongan, ia meminta para pengemudi tetap memberikan bantuan tanpa memperpanjang persoalan.
“Orang boleh marah sama kita, kita tetap harus ramah sama orang yang marah. Itu baru filosofi Babah Alun,” katanya.
Bagi Babah Alun, kedatangannya menemui para pengemudi ojol setelah pelantikan bukan sekadar kunjungan biasa.
Ia menyebut pertemuan tersebut sebagai bentuk rasa syukur bersama orang-orang yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Ia datang dari Istana setelah dilantik, lalu memilih menemui para pengemudi ojol di sebuah masjid.
Di tempat sederhana itu, suasana jabatan negara bertemu dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Seorang pejabat yang baru saja dilantik datang dengan dibonceng pengemudi ojol, kemudian duduk bersama ratusan orang yang telah menunggunya.
Pada akhirnya, pesan Babah Alun pun kembali pada hal-hal yang sederhana: bekerja dengan semangat, menjaga keluarga, menjaga persaudaraan, dan bersama-sama menjaga Indonesia agar tetap utuh.