INDUSTRY.co.id - Jakarta,  Pelaku usaha kelapa sawit nasional menilai, industri sawit nasional terus mendapat serangan dari negara Barat melalui lembaga swadaya masyarakat lokal maupun asing.

Advertisement

Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Togar Sitanggang mengatakan, segala upaya telah dijelaskan bahwa segala tuduhan tersebut tidak benar. Akan tetapi, menurut Togar, serangan terhadap industri sawit akan terus berlanjut.

"Berbagai tuduhan yang disampaikan kepada industri sawit Indonesia antara lain pertumbuhan perluasan lahan yang meningkat signifikan, sehingga merusak lingkungan hidup, akibat perluasan lahan yang meningkat signifikan maka akan membinasakan binatang liar," kata Togar di Jakarta, Senin (23/1/2017).

Advertisement

Togar menilai, tuduhan tersebut sebenarnya tidak benar karena perkembangan luas areal perkebunan kelapa sawit di dunia dalam beberapa tahun hanya tumbuh 13,39%, sementara kedelai tumbuh 85,45%, bunga matahari 18,05%.

"Ada tuduhan bahwa industri minyak sawit tidak banyak menyerap tenaga kerja, hal itu tidak benar karena jumlah tenaga kerja yang terserap pada industri itu alami peningkatan dari tahun ke tahun, yaitu dari 2,1 juta orang pada 2000 menjadi 8,4 juta orang di 2015," ungkap Togar.

Advertisement

Menurut Togar, kampanye hitam yang dilontarkan negara Barat melalui LSM sebenarnya disebabkan minyak nabati mereka kalah bersaing dengan minyak sawit, sehingga terus menerus menyerang produk hasil perkebunan Indonesia itu. Untuk menangkal kampanye hitam tersebut, dunia usaha bersama pemerintah hendaknya sama-sama terus mengkampanyekan peluang dan potensi sawit secara berkesinambungan.

"Sawit dan produk turunannya, tidak hanya digunakan untuk minyak goreng tapi juga sebagai bahan baku pelengkap industri kesehatan, kosmetika, makanan dan minuman, hingga industri ban. Jadi sebenarnya industri sawit memberikan efek positif bagi manusia," tutur Togar.

Advertisement