INDUSTRY.co.id - JAKARTA – PT Teladan Prima Agro Tbk (TLDN) mencatatkan pertumbuhan kinerja pada semester I-2026 di tengah kenaikan biaya produksi. Emiten perkebunan kelapa sawit ini membukukan pendapatan sebesar Rp2,71 triliun atau tumbuh 6,5% secara tahunan (year on year/YoY), didorong oleh peningkatan volume penjualan dan harga jual rata-rata produk utama, yakni crude palm oil (CPO), palm kernel (PK), dan crude palm kernel oil (CPKO).

Kontributor terbesar pendapatan masih berasal dari penjualan CPO yang mencapai Rp2,32 triliun atau naik 4,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, pendapatan dari penjualan PK tercatat sebesar Rp227,01 miliar, ditopang kenaikan volume penjualan sebesar 5,3% serta peningkatan harga jual rata-rata sebesar 9,3%. Adapun penjualan CPKO menyumbang pendapatan Rp158,02 miliar seiring meningkatnya volume penjualan dan harga jual dibandingkan semester I-2025.

Meski menghadapi kenaikan biaya produksi akibat meningkatnya pembelian tandan buah segar (TBS) dari pihak ketiga serta biaya pemeliharaan kebun, TLDN tetap mampu menjaga profitabilitas. Perseroan membukukan laba kotor sebesar Rp960,50 miliar, EBITDA sebesar Rp904,30 miliar, dan laba bersih mencapai Rp543,65 miliar.

Direktur Utama PT Teladan Prima Agro Tbk Wishnu Wardhana mengatakan, capaian tersebut mencerminkan kekuatan fundamental bisnis perusahaan di tengah dinamika industri sawit.

"Kinerja semester pertama ini menunjukkan fundamental bisnis Perseroan yang tetap kuat. Pertumbuhan pendapatan yang diikuti dengan terjaganya profitabilitas menjadi hasil dari konsistensi kami dalam meningkatkan produktivitas, mengoptimalkan efisiensi operasional, serta menjaga kualitas aset perkebunan di tengah dinamika industri kelapa sawit," ujar Wishnu.

Dari sisi operasional, TLDN juga mencatatkan peningkatan produksi. Produksi TBS dari kebun inti mencapai 552.631 ton atau meningkat 1,5% YoY, sedangkan produksi TBS plasma tumbuh lebih tinggi sebesar 10,5% menjadi 83.382 ton.

Peningkatan tersebut mendorong total volume TBS yang diolah perseroan menjadi 734.369 ton atau naik 4,7% dibandingkan semester pertama tahun lalu. Produksi CPO meningkat 6,6% menjadi 169.881 ton, didukung kenaikan Oil Extraction Rate (OER) menjadi 23,13%. Produksi palm kernel turut naik menjadi 27.622 ton, sementara produksi CPKO mencapai 6.780 ton.

Menurut Wishnu, pertumbuhan operasional tersebut merupakan hasil implementasi praktik perkebunan terbaik secara konsisten, mulai dari optimalisasi program pemupukan, pemeliharaan infrastruktur perkebunan, hingga pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan kebun dan pabrik.

Perseroan juga terus memperkuat implementasi Teladan Productivity Technology Science (TPTS) sebagai platform berbasis data untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi operasional. Selain itu, pengembangan Teladan Green Metrics (TGM) terus dilakukan guna memperkuat pengelolaan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) sebagai bagian dari strategi pertumbuhan jangka panjang.

Memasuki paruh kedua 2026, manajemen tetap optimistis mampu mempertahankan momentum pertumbuhan dengan berfokus pada produktivitas, efisiensi, dan praktik perkebunan berkelanjutan.

"Memasuki paruh kedua tahun 2026, kami akan terus berfokus pada peningkatan produktivitas, efisiensi operasional, serta implementasi praktik perkebunan berkelanjutan. Dengan fundamental operasional yang kuat dan disiplin dalam menjalankan strategi bisnis, kami optimistis dapat terus menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan bagi seluruh pemegang saham dan pemangku kepentingan," tutup Wishnu.