INDUSTRY.co.id - Jakarta, Laba bersih sektor industri perbankan Indonesia diperkirakan tumbuh hingga 15% sepanjang 2018.

Advertisement

Selain biaya pencadangan yang turun, proyeksi naiknya kinerja bank disebabkan oleh stabilnya pendapatan bunga bersih terkait potensi kenaikan suku bunga Bank Indonesia.

Sudah nyaris tiga tahun terakhir, industri perbankan nasional mengalami kontraksi karena kondisi ekonomi global yang berdampak pada perekonomian domestik.

Advertisement

Kredit yang biasanya selalu tumbuh double digit, hingga akhir tahun lalu masih tumbuh dibawah 10%.

Meski memasuki kuartal empat terlihat sinyal perbaikan melalui kenaikan harga komoditas dunia yang stabil naik.

Advertisement

Data yang dirilis oleh Otoritas Jasa Keuangan memperlihatkan, kredit hanya tumbuh 8,35% secara tahunan pada akhir tahun lalu, sejalan dengan rendahnya konsumsi masyarakat yang akhirnya tercermin pada pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan tumbuh hanya 5,1% sepanjang 2017, dibawah target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2017 sebesar 5,2%.

Menurut Senior Analis PT Bahana Sekuritas Henry Wibowo, rendahnya penyaluran kredit pada tahun lalu karena korporasi dan UKM menahan diri untuk melakukan ekspansi usaha sehingga permintaan kredit cukup rendah.

Advertisement

Namun tahun ini, permintaan kredit diperkirakan akan berangsur membaik dengan pertumbuhan sekitar 10% yang terutama berasal dari kredit infrastruktur oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Perkiraan ini sejalan dengan proyeksi Bank Indonesia yang memperkirakan kredit tumbuh sekitar 10% - 12%.

''Permintaan kredit investasi pada tahun ini akan beranjak naik karena tahun ini adalah saat yang pas untuk melakukan berbagai aksi korporasi besar sebelum memasuki Pilpres tahun depan,'' papar Henry beberap waktu lalu di Jakarta.

"Kredit konsumer khususnya yang berasal dari Kredit Pemilikan Rumah (KPR) masih akan tumbuh, diikuti dengan kenaikan kredit modal kerja," tambahnya.

Membaiknya pertumbuhan kredit optimis akan diikuti dengan meningkatnya kualitas kredit yang akan tercermin pada penurunan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL).

Sehingga trend penurunan biaya pencadangan yang disisihkan industri perbankan untuk menutupi kredit bermasalah masih akan terus berlanjut sepanjang 2018.

Apalagi kenaikan harga komoditas yang diperkirakan bertahan pada tahun ini, akan memberi ruang bagi korporasi untuk menyelesaikan kredit bermasalahnya yang masih tersisa.

Turunnya biaya pencadangan akan berdampak positif bagi laba bersih perbankan. 

Sekuritas milik negara ini memperkirakan laba bersih perbankan sepanjang 2018, bakal tumbuh sekitar 14% - 15%, lebih tinggi dari perkiraan rata-rata perusahaan di pasar dengan proyeksi earning per share (EPS) yang tumbuh sekitar 12% - 13%. 

Pendapatan bunga bersih atau net interest margin (NIM) perbankan pada tahun ini diperkirakan tumbuh lebih stabil. 

Dengan ekspektasi Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga acuan BI 7-day Repo Rate pada tingkat 4.25% atau ada kecenderungan naik mengikuti langkah The Fed untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Dengan melihat perkiraan industri perbankan yang akan pulih sepanjang tahun ini, Henry merekomendasikan beli atas saham Bank Mandiri (BMRI) dengan target harga Rp 8.500/lembar, Bank Negara Indonesia (BBNI) dengan target harga Rp 10.000/lembar, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dengan target harga Rp 4.530/lembar dan juga Bank Tabungan Negara (BBTN) dengan target harga Rp 4.500/lembar.

Bank Mandiri, BNI dan BRI akan diuntungkan dari sejumlah proyek infrastruktur yang tengah digenjot oleh pemerintah melalui BUMN konstruksi.

Bahana Sekuritas memperkirakan laba bersih Bank Mandiri akan tumbuh paling tinggi diantara empat bank terbesar lainnya dengan proyeksi sekitar 20% pada tahun ini, didorong oleh akselerasi pertumbuhan kredit dan normalisasi  biaya cadangan.

BNI memiliki eksposure cukup besar untuk membiayai proyek infrastruktur berisiko rendah, serta perbaikan kredit bermasalah dalam dua tahun terakhir menjadi kunci sukses bagi perseroan untuk melaju sepanjang 2018. 

BRI akan terus ditopang kuat oleh dominasi di bisnis kredit mikro dan juga payroll. 

BTN sebagai bank pemerintah yang fokus membiayai perumahan kelas bawah dan menengah, masih akan membukukan kenaikan permintaan KPR pada tahun ini, seiring dengan membaiknya daya beli masyarakat.

Keyakinan mulai terjadinya geliat bisnis perbankan diamini oleh Deputi Komisioner Pengawas Perbankan I Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Boedi Armanto.

Menurutnya ada tiga faktor yang akan jadi pendorong pertumbuhan laba bank tahun ini. Pertama adalah karena pendapatan bunga bersih, pendapatan non bunga atau fee based income dan pendapatan lain.

Meski begitu Boedi menilai pertumbuhan laba bank belum akan mencapai di atas 20% sebagaimana tahun 2014.

Pasalnya kenaikan harga komoditas di 2018 belum setinggi 2014.

“Laba bank tahun ini akan lebih banyak dibantu oleh membaiknya ekonomi dan diperkuat oleh rating layak investasi oleh beberapa lembaga rating luar negeri," ungkapnya.