INDUSTRY.co.id - Jakarta, Membangun kekayaan membutuhkan waktu panjang, disiplin, dan berbagai keputusan finansial yang tepat. Namun, bagi banyak keluarga mapan, tantangan sesungguhnya justru muncul setelah aset berhasil dikumpulkan: bagaimana memastikan nilai kekayaan tersebut tetap terjaga dan mampu memberikan manfaat bagi generasi berikutnya.

Seiring bertambahnya usia dan perubahan fase kehidupan, fokus masyarakat dari kalangan affluent maupun high-net-worth (HNW) dengan pendapatan bruto di atas Rp900 juta per tahun mulai bergeser. 

Jika sebelumnya perhatian tertuju pada pertumbuhan aset, kini menjaga daya tahan kekayaan dan mempersiapkan proses pewarisan yang terencana menjadi prioritas baru.

Perubahan kondisi ekonomi global, inflasi, pelemahan pasar, hingga fluktuasi nilai tukar menjadi faktor yang dapat menggerus nilai kekayaan dalam jangka panjang. 

Dalam horizon 10 hingga 30 tahun ke depan, berbagai dinamika tersebut berpotensi memengaruhi daya beli maupun nilai aset yang diwariskan.

Salah satu strategi yang mulai banyak dipertimbangkan adalah diversifikasi, bukan hanya pada jenis aset, tetapi juga mata uang. 

Dalam satu dekade terakhir, misalnya, nilai tukar dolar Amerika Serikat (USD) terhadap rupiah meningkat sekitar 38 persen, dari Rp13.238 per USD pada Juli 2016 menjadi Rp18.221,65 per USD pada Juli 2026. 

Angka tersebut setara dengan rata-rata pertumbuhan sekitar 3,25 persen per tahun dan menjadi gambaran pentingnya mempertimbangkan risiko nilai tukar dalam perencanaan keuangan jangka panjang.

Certified Financial Planner (CFP) Prudential Indonesia, Priskilla Fachruddin, menilai bahwa perencanaan legacy tidak cukup hanya berfokus pada besarnya aset yang dimiliki.

"Dalam mempersiapkan legacy, memiliki aset saja belum tentu cukup untuk memastikan masa depan keluarga tetap terlindungi. Berbagai perubahan kondisi ekonomi, termasuk inflasi dan dinamika nilai tukar, serta risiko tak terduga dapat memengaruhi rencana finansial yang telah dipersiapkan. Karena itu, keluarga perlu mempertimbangkan diversifikasi, termasuk melalui aset dan perlindungan dalam mata uang USD, agar hasil kerja keras dapat terus memberikan manfaat dan kepastian finansial bagi generasi berikutnya," ujar Priskilla.

Menurutnya, terdapat beberapa langkah yang dapat menjadi acuan dalam menyusun perencanaan legacy.

Pertama, keluarga perlu menetapkan tujuan sejak awal. Legacy tidak semata-mata berbentuk kekayaan, tetapi juga nilai, keberlanjutan bisnis keluarga, kualitas hidup, pendidikan anak hingga cucu, serta dampak yang ingin diwariskan kepada generasi selanjutnya.

Kedua, evaluasi terhadap nilai kekayaan perlu dilakukan secara berkala. Inflasi, perubahan ekonomi, maupun fluktuasi nilai tukar dapat mengurangi nilai riil aset sehingga strategi yang telah disusun perlu disesuaikan dengan perkembangan kondisi ekonomi.

Ketiga, diversifikasi menjadi instrumen penting dalam mengelola risiko. Penyebaran aset ke berbagai instrumen investasi maupun mata uang dinilai mampu membantu menjaga stabilitas portofolio ketika terjadi gejolak ekonomi.

Langkah berikutnya adalah melengkapi perencanaan tersebut dengan perlindungan jiwa. Kehadiran proteksi dinilai dapat menjaga kesinambungan rencana keuangan apabila terjadi risiko yang tidak diharapkan.

Chief Product Officer Prudential Indonesia, Astono Hermawan, mengatakan bahwa perlindungan jiwa dapat menjadi bagian dari strategi mempertahankan manfaat legacy bagi keluarga.

"Guna membantu masyarakat menjaga keberlanjutan rencana yang telah dibangun bagi generasi berikutnya sekaligus mempersiapkan kepastian finansial, Prudential Indonesia menghadirkan Asuransi Jiwa PRUFuture, solusi perlindungan jiwa berbasis USD," kata Astono.

Ia memberikan ilustrasi seorang nasabah bernama Andi berusia 35 tahun yang ingin menyiapkan warisan finansial bagi keluarganya. 

Dengan memilih PRUFuture dan Uang Pertanggungan sebesar USD280.000, Andi dapat membayar premi tahunan sebesar USD7.718 untuk Plan Basic atau USD7.757 untuk Plan Waiver selama lima tahun. 

Plan Waiver juga memberikan manfaat pembebasan premi apabila tertanggung didiagnosis mengalami salah satu dari 60 kondisi kritis selama masa pembayaran premi.

Ilustrasi tersebut menunjukkan bahwa perencanaan legacy dapat dimulai sejak usia produktif sebagai bagian dari strategi menjaga kesinambungan kesejahteraan keluarga.

Pada akhirnya, menjaga kekayaan tidak hanya berkaitan dengan bagaimana aset bertumbuh, tetapi juga bagaimana nilainya tetap bertahan menghadapi berbagai perubahan ekonomi. 

Perencanaan yang matang, diversifikasi yang tepat, serta perlindungan yang memadai menjadi fondasi penting agar hasil kerja keras hari ini tetap memberikan manfaat bagi generasi mendatang.