INDUSTRY.co.id - JAKARTA - Di tengah upaya perguruan tinggi Indonesia mendorong mahasiswanya untuk memiliki pengalaman global, terselip kisah seorang mahasiswi yang berhasil menorehkan jejak riset di tiga negara sekaligus.

Adalah Bianca Haidi, mahasiswi Prodi Teknologi Pangan di i3L University yang sebelumnya dikenal luas sebagai Indonesia International Institute for Life Sciences.

Mahasiswi angkatan 2023 yang tercatat pernah menjalani program di Shanghai Jiao Tong University ini terpilih sebagai Amgen Scholar di The University of Tokyo, Jepang, hingga menjadi exchange student dan peneliti di FH Münster, Jerman.

Dengan rangkaian pengalaman internasional tersebut, Bianca dinobatkan sebagai Top Scholar 2026 i3L University sekaligus peraih Best Oral Presenter Award dalam Amgen Scholars International Symposium.

Lantas, bagaimana cerita Bianca hingga bisa merasakan studi dan riset di tiga negara tanpa harus menambah masa kuliah?

Berawal dari Shanghai Jiao Tong hingga Raih Penghargaan di Tokyo

Kisah Bianca di kancah internasional dimulai dari Shanghai Jiao Tong University, universitas nomor satu di China. Dari sana, ia mendapatkan paparan akademik global yang menjadi fondasi sebelum melangkah ke jenjang riset yang lebih menantang.

Puncak pengalamannya terjadi pada Juni hingga Agustus 2026. Saat itu, Bianca terpilih sebagai Amgen Scholar di The University of Tokyo, universitas nomor satu di Jepang.

Di laboratorium Jepang, ia mengerjakan penelitian mengenai lokalisasi protein menggunakan genetic engineering, bidang yang berada di luar latar belakang utamanya di Teknologi Pangan.

“Pengalaman ini sangat berarti karena penelitian yang saya lakukan berada di luar latar belakang utama saya,” ujar Bianca dalam keterangannya, Kamis (17/9/2026).

Menariknya, di balik capaian tersebut, Bianca sempat mengalami imposter syndrome. Dikelilingi peneliti yang sudah ahli, ia merasa masih harus belajar dari nol dan takut bertanya karena khawatir dianggap tidak kompeten.

Titik baliknya terjadi setelah ia bertanya dengan Gregory A. Llacer, Global Director of the Amgen Scholars Program dan Senior Administrative Affiliate of Harvard College.

Pesan yang ia terima sederhana, jangan ragu bertanya ketika menemukan sesuatu yang belum dipahami.

Sejak itu, Bianca memberanikan diri bertanya kepada profesor pembimbingnya. Pertanyaan itu justru disambut antusias dan membantunya memahami esensi riset yang dikerjakan hingga akhirnya meraih Best Oral Presenter Award.

“Saya semakin percaya bahwa disciplines are frameworks for inquiry, not boundaries to discovery,” kata Bianca.

Kini Teliti Sosis di Jerman dan Ingin Pulang ke Indonesia

Saat ini, perjalanan Bianca berlanjut di FH Münster, Jerman, sebagai exchange student. Di sana, ia meneliti sustainability pangan dengan memanfaatkan brewer's spent grain, hasil samping industri pembuatan bir, yang difermentasi menggunakan Rhizopus oligosporus sebagai substitusi dalam bratwurst sausage.

"Di Jerman, banyak terdapat brewer's spent grain atau hasil samping dari industri pembuatan bir. Dalam proyek riset ini, saya memanfaatkan bahan tersebut melalui proses fermentasi untuk kemudian disubstitusikan ke dalam bratwurst sausage," terang Bianca.

Ke depan, ia berharap pengetahuan lintas negara yang diperoleh dapat dibawa kembali ke Indonesia.

“Ke depannya, setelah studi di Jerman selesai, saya ingin membawa pengetahuan dan pengalaman yang didapatkan ini ke Indonesia. Saya berharap dapat menerapkan konsep maupun teknologi yang saya pelajari untuk mendukung pengembangan industri pangan di Indonesia,” ujar Bianca.

Dukungan Kampus Ciptakan Eksposur Global

Menariknya, seluruh pengalaman lintas negara dari China, Jepang, hingga Jerman tersebut diraih Bianca tanpa harus menambah masa studi.

Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Rektor bidang Pemasaran, Penelitian, dan Inovasi i3L University, Pietradewi Hartrianti, Ph.D.

Menurutnya, capaian Bianca tidak lepas dari sistem kurikulum yang memang dirancang untuk memberikan eksposur global.

"Bianca tidak menambah semester karena sudah included, sistem kurikulum kami memberikan kesempatan mahasiswa untuk mendapatkan overseas exposure sebanyak-banyaknya. Jadi selama kuliah, mereka bisa meraih pengalaman ke banyak negara," ujar Pietra.

Selain itu, pihaknya juga membekali mahasiswanya dengan metode pembelajaran menggunakan bahasa Inggris secara penuh.

"Kami itu universitas yang menggunakan 100 persen bahasa Inggris. Dari penyampaian materi di kelas, presentasi, semuanya full Inggris," ungkap Pietra.

Di tengah padatnya aktivitas akademik lintas negara, Bianca sendiri sejatinya mengandalkan manajemen waktu, disiplin dan dukungan dari academic advisor-nya, Kaprodi Teknologi Pangan, Dr. Hanny Angrainy, M.Sc.

Hanny, sejak awal aktif mendorong Bianca mencoba berbagai peluang kompetisi dan penelitian.

"Saya lihat bakat Bianca itu dari waktu orientasi mahasiswa. Dari cara dia speech, dari cara dia represent herself, ini anak bagus banget. Dan pastinya sekarang saya bangga ya," ujar Hanny.

Menurut Hanny, salah satu yang menonjol dari Bianca ialah keberanian mencoba hal baru.

"Seperti project spent brew itu project dari Bianca sendiri. Dia mengusulkan karena dia punya experience di project lab dan kelas sebelumnya menggunakan food waste. Jadi dia lihat di Jerman kan banyak limbah dari produksi bir, yang bisa dijadikan plant based sausage. Jadi project itu murni dia sodorkan ke profesor di sana, dan profesor di sana senang banget dengan idenya," ungkap Hanny.

Selain itu, keunggulan Bianca lainnya tak lepas dari dukungan kampus i3L, dalam hal ini dukungan fasilitas yang berstandar global.

"Mungkin kami satu-satunya universitas yang applicative course dan laboratoriumnya berstandar internasional ya. Jadi ketika mahasiswa magang atau pertukaran pelajar di luar negeri, mereka itu tidak kesulitan menggunakan alat, mesin, teknologi yang standar industri, yang standar internasional. Dan bekal itu membuat mereka bisa bekerja sama dengan para ahli dan pengajar di luar negeri," tutup Hanny.