INDUSTRY.co.id - Jakarta-Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)  Indikator stochastic terkonfirmasi dead-cross dengan momentum bearish yang cukup kuat sehingga diperkirakan pergerakan akan cenderung kembali menekan dengan rentan 6500-6636.

Advertisement

Lanjar Nafi, analis Reliance Sekuritas Indonesia menyodorkan saham-saham yang masih dapat dicermati diantaranya ASII, BBRI, HRUM, JSMR, UNTR, BRPT, BIPI.


"Break out MA5 IHSG secara teknikal menguji level support MA20 dengan pergerakan bearish berindikasi pola double top. Jika pada perdagangan diakhir pekan ini IHSG tertekan hingga dibawah MA20 (6595) indikasi melanjutkan pelemahan hingga melakukan pengujian support lower bollinger bands dilevel 6500," katanya di Jakarta, Jumat (23/2/2018).

Advertisement

IHSG (-0.76%) ditutup turun 50.34 poin kelevel 6593.06 dengan sektor aneka industri (-1.91%) memimpin pelemahan. Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap USD dan Minimnya sentimen positif membuat IHSG mengiringi pelemahan mayoritas indeks saham di Asia. Investor asing pun tercatat net sell 580.72 Miliar rupiah dengan saham BBRI dan UNTR menjadi top net sell value investor asing.

 

Advertisement

Bursa saham di Eropa dibuka gap down. Indeks Eurostoxx (-0.78%), FTSE (-1.03%) dan DAX (-1.03%) dibuka turun lebih dari 1%. Euro turun 0,1% menjadi $ 1,2272, terlemah dalam hampir dua minggu. Pound Inggris turun 0,2% menjadi $ 1,3889, mencapai posisi terlemah dalam lebih dari satu minggu. Data indeks kinerja manufakturing dan jasa di zona Eropa rilis negatif mayoritas dibawah ekspektasi dengan GDP Inggris melambat. Investor pun menanti pertemuan ECB pada pembahasan kebijakan moneter.

Ekuitas saham di Asia terkoreksi cukup signifikan. Indeks Nikkei (-1.07%), TOPIX (-0.88%) dan Hangseng (-1.48%) ditutup turun sedangkan CSI300 (+2.16%) menguat setelah libur imlek. Kecemasan investor terhadap prospek pertumbuhan inflasi di AS setelah pertemuan The Fed dan data yang dirilis diawal tahun mendukung menjadi faktor utama. MSCI Asia Pacific Index turun 0,9% ke level terendah dalam lebih dari satu minggu pada penurunan terbesar dalam hampir dua minggu.

Advertisement