INDUSTRY.co.id - Jakarta, Meski dunia digital semakin berkembang, tidak mempengaruhi industri makanan dan minuman (mamin) food and baverage (F&B)di Indonesia.
Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto dalam sambutannya di acara Soft Lounching CNBC Indonesia di Raffles Hotel, Jakarta, Kamis (8/2/2018).
Menurutnya, dalam industri tidak ada yang namanya mamin digital, kecuali pemesanannya. "Walaupun ada Amazon, kita masih butuh makanana yang masuk ke dalam perut. Jadi tidak ada yang namanya virtual eating," ujar Airlangga.
Berdasarkan catatan Kemenperin, laju industri mamin pada triwulan III tahun 2017 mencapai 9,46 persen atau di atas pertumbuhan ekonomi nasional sekitar 5,06 persen di periode yang sama.
Airlangga menjabarkan, selama ini industri mamin berkontribusi signifikan kepada pertumbuhan ekonomi nasional, terutama sumbangsihnya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) industri nonmigas. Pada triwulan III/2017, tercatat industri mamin memberikan hingga 34,95 persen atau tertinggi dibandingkan capaian subsektor lainnya.
Kemudian, sumbangan besar lainnya terlihat dari nilai ekspor produk mamin pada tahun 2017 mencapai USD31,8 miliar (termasuk minyak kelapa sawit). Adapun di luar minyak kelapa sawit, sebesar USD11,5 miliar.
Bahkan, kontribusi penyerapan tenaga kerja di sektor manufaktur didominasi oleh industri mamin sebanyak 3,3 juta orang atau sebesar 21,34 persen.
Sementara itu, pada periode Januari-September 2017, nilai investasi industri mamin mencapai Rp27,9 triliun untuk penanaman modal dalam negeri (PMDN), sedangkan nilai investasi untuk penanaman modal asing (PMA) sebesar USD1,4 miliar.
Selain itu, lanjutnya, industri yang tidak bakal diubah menjadi virtual atau digital, yakni capital product termasuk farmasi atau obat-obatan. "Kemudian, capital product termasuk farmasi, masih penting juga. Indonesia secara physically butuh obat, jadi tidak bisa juga diganti sama digital," ujarnya.
Airlangga juga menyebutkan,barang-barang elektronik apa pun dan sampai kapan pun tidak akan bisa digantikan dengan digital. Produk fisik tersebut selama ini melekat pada konsumsi masyarakat Indonesia.
"Kedua, barang elektronik. Semua ini boleh digital, tetapi tanpa physically, handphone, tv, bukan apa-apa. Jadi, elektronik itu masih dibutuhkan ke depannya. Jadi, barang elektronik itu masih penting," tuturnya.