INDUSTRY.co.id - Jakarta- Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menyatakan untuk dapat terus menurunkan tingkat kemiskinan di Tanah Air, inflasi harus dijaga stabil.

Advertisement

"Untuk mendorong penurunan kemiskinan sesuai target, inflasi perlu dijaga tetap stabil terutama inflasi pada komponen makanan," kata Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro saat jumpa pers di Jakarta, Selasa (9/1/2017)

Pada 2018, tingkat kemiskinan ditargetkan mencapai 9,5-10 persen. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per September 2017 realisasi tingkat kemiskinan mencapai 10,12 persen, turun cukup signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya 10,7 persen.

Advertisement

Dari sisi inflasi, untuk tahun ini inflasi ditargetkan berada di rentang 2,5-4,5 persen. Dalam tiga tahun terakhir, inflasi sendiri relatif rendah yaitu 3,35 persen pada 2015, 3,02 persen pada 2016, dan 3,61 pada 2017 lalu.

"Menjaga inflasi sangat penting. Banyak orang yang tadinya tidak miskin, salah-salah bisa jadi miskin karena inflasi," ujar Bambang.

Advertisement

Pada 2017 lalu, inflasi terjaga stabil dalam rentang target 3-5 persen. Dalam kurun waktu Maret-September 2017, inflasi umum dapat dijaga pada tingkat 1,45 persen.

Pemerintah juga berhasil menjaga stabilitas harga pada saat hari raya lebaran, terutama komponen makanan.

Advertisement

Tingkat kemiskinan pada September 2017 yang mencapai 10,12 persen merupakan yang terendah selama hampir dua dekade. Terjadi penurunan kemiskinan sekitar 1,18 juta jiwa penduduk miskin, penurunan paling besar dibandingkan rata-rata penurunank kemiskinan yang hanya kurang dari 500 ribu orang per tahun.

Selain karena inflasi yang terjaga, penurunan kemiskinan tersebut juga disebabkan meningkatnya upah riil buruh tani sebesar 1,05 persen dalam enam bulan terakhir.

"Buruh tani merupakan salah satu tenaga kerja terbanyak yang tergolong miskin. Peningkatan upah riil buruh tani sangat membantu peningkatan kesejahteraan petani. Hal ini mendukung menurunnya kemiskinan di perdesaan," kata Bambang.