INDUSTRY.co.id - Zakat produktif yang dikelola Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) pada 2016 berhasil mengurangi kemiskinan absolut dan meningkatkan kesejaheteraan mustahik. Program zakat produktif telah berhasil meningkatkan pendapatan mustahik hingga 27 persen dalam setahun.

Advertisement

Hal ini terungkap dari hasil Riset Pusat Kajian Strategis BAZNAS (Puskas) yang dipaparkan dalam Seminar Nasional dan Publik Expose Indonesia Zakat Outlook dengan tema Revitalisasi Peran Zakat dalam Mendorong Perekonomian Negara yang Berkelanjutan, di Bogor, Selasa (12/12).

Dalam hasil riset BAZNAS tersebut menunjukkan dampak zakat produktif di 13 wilayah yang telah di survei, selain peningkatan dari aspek ekonomi, pendayagunaan zakat juga berkorelasi positif terhadap peningkatan kondisi spiritual para mustahik.

Advertisement

Hal tersebut disampaikan Deputi BAZNAS, Arifin Purwakananta. Menurut Arifin, sepanjang tahun 2017, BAZNAS telah melakukan berbagai inovasi dalam upaya meningkatkan kesejahteraan mustahik melalui berbagai program-program pemberdayaan.

"BAZNAS di tingkat pusat, provinsi hingga kabupaten/ kota berupaya meningkatkan layanan kepada para mustahik. Kini BAZNAS lebih aktif menjemput bola dan merespon cepat kebutuhan mustahik," kata Arifin.

Advertisement

Sementara itu, ditempat yang sama, Direktur Puskas BAZNAS, Irfan Syauqi Beik juga menjelaskan, bahwa jika dilihat dari nilai rata-rata pendapatan per bulan, para mustahik memiliki kecenderungan peningkatan yang positif dan signifikan yaitu sebesar 27% atau meningkat dari Rp2.660.770/ bulan menjadi Rp3.231.438/ bulan.

Di Kabupaten Sumedang, Irfan mencontohkan, pendapatan keluarga naik hingga 119,20 persen jika dibandingkan dengan pendapatan sebelum program zakat produktif di implementasikan di wilayah ini.

Advertisement

"Rata-rata keluarga penerima manfaat program ini memperoleh pendapatan Rp371.605 per bulan, lebih tinggi dari standar garis kemiskinan Badan Pusat Statistik (BPS) yaitu Rp 354.087," terang Irfan.

"Dan penerima zakat ini merasakan dampak positif dari program yang telah dilaksanakan," sambungnya.

Masih menurut Irfan, dalam program zakat produktif ini, bantuan yang diberikan berbeda-beda di masing-masing wilayah. Di Sukabumi, misalnya, program bantuannya adalah untuk permodalan toko kelontong.

Lalu di Aceh, program bantuan yang diberikan dengan melakukan pembinaan kepada 2.083 mustahik dalam berbagai kelompok usaha, seperti petani, pedagang, peternak dan industri rumahan.

"Sedangkan di Gresik berupa pemberian modal bergilir tanpa bunga untuk pedagang kecil. Ada pula bantuan alat kerja dan bantuan peternakan," ujarnya.

Adapun survey yang di buat untuk mengukur dampak distribusi zakat kepada para mustahik ini menggunakan metode CIBEST.

CIBEST merupakan model yang mengkombinasikan kuadran pemenuhan kebutuhan manusia material dan spiritual.

Survey itu sendiri, menurut Irfan dilakukan di 13 provinsi dengan melibatkan sebanyak 2.656 responden sebagai sample wilayah pada akhir 2016 hingga awal 2017.

"13 provinsi tersebut ialah Jawa Barat, DI Yogyakarta, Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah, Aceh, NTB, Kutai Timur, Gorontalo, Sumatera Barat dan Riau, "jelasnya.

Adapun mengenai hasil kajian model kuadran 4 atau disebut kuadran kemiskinan absolut, Irfan menyebut, dari 13 wilayah yang telah disurvei, 5 wilayah diantaranya telah berhasil mengurangi angka kemiskinan absolutnya.

" yakni wilayah di Jawa Tengah (57%), Bantul dan Sijunjung (5%), Sukabumi (3%) dan Gresik (1%), terangnya.

Sedangkan mengenai spiritual para mustahik, Irfan mengatakan, kondisi awal spiritualnya sudah relatif baik.

"Jadi bila ditambah lagi dengan adanya pemberian bantuan zakat produktif dan pemberdayaan dalam bentuk pengajian, penerapan nilai-nilai keagamaan dalam aktivitas seperti saling mengingatkan untuk salat, puasa, zakat, menyebabkan kondisi spriritual para mustahik menjadi lebih baik lagi, "pungkasnya.