INDUSTRY.co.id - Jakarta- Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan momentum reformasi struktural yang sedang berjalan akan terus dipertahankan dan diperkuat agar kegiatan ekonomi dapat terus tumbuh.

Advertisement

"Momentum reformasi harus dipertahankan dan diperkuat agar Indonesia bisa tumbuh lebih baik dibandingkan negara-negara dengan tingkat ekonomi yang sama," kata Sri Mulyani dalam acara peluncuran Laporan Ekonomi Triwulan Bank Dunia terbaru di Jakarta, Selasa (3/10/2017)

Sri Mulyani menjelaskan pelaksanaan reformasi struktural sangat penting dilakukan untuk mengatasi kesenjangan dalam penyediaan modal, sumber daya manusia maupun kualitas kelembagaan.

Advertisement

Untuk itu, ia meminta para pelaku ekonomi untuk tidak perlu khawatir dengan kemungkinan hilangnya fokus pemerintah terhadap pelaksanaan reformasi struktural, karena Presiden telah meminta jajaran kabinet untuk terus bekerja optimal, meski tahun 2018 merupakan tahun politik.

"Presiden dalam ratas (rapat terbatas) kemarin bilang agar kami untuk tetap fokus dalam melaksanakan reformasi dan saling bekerja bersama, bersinergi, tidak hanya dengan pemerintah daerah, namun juga pengusaha dan pelaku UMKM," ujar mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini.

Advertisement

Menkeu mengatakan pelaksanaan reformasi struktural ini telah membuahkan hasil, yang telah terlihat dari membaiknya peringkat daya saing Indonesia dari posisi 41 ke 36 dalam Global Competitiveness Index 2017-2018 yang dipublikasikan Forum Ekonomi Global (WEF).

"Ini membuktikan kita terus bekerja keras untuk reformasi ini. Namun yang terpenting masyarakat bisa mendapatkan manfaat dari reformasi yaitu untuk penciptaan lapangan kerja, menurunkan angka kemiskinan dan mengurangi kesenjangan," katanya.

Advertisement

Sebelumnya, publikasi Bank Dunia menyatakan salah satu risiko domestik yang bisa dihadapi oleh perekonomian Indonesia di 2018 adalah hilangnya momentum reformasi struktural karena kurangnya komitmen dan proses pelaksanaan di lapangan.

Menurut laporan tersebut, terjadinya pemilihan umum di tingkat daerah maupun pusat bisa membuat peluang reformasi struktural, yang diperlukan untuk pencapaian pertumbuhan ekonomi tinggi, akan semakin sempit.

Jika reformasi struktural ini diabaikan, maka pertumbuhan potensial bisa melambat dan berdampak buruk bagi perkiraan perekonomian Indonesia.

Padahal, Bank Dunia memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh kuat pada kisaran 5,1 persen pada 2017 dan 5,3 persen pada 2018 didukung oleh lingkungan eksternal yang kondusif, faktor fundamental ekonomi yang kuat, serta kemajuan dalam reformasi struktural. (Ant)