Pentingnya Tacit Knowledge Bagi Manajemen Penjualan

Oleh : Ir. Harry Wiyanto MBA MM | Sabtu, 16 September 2017 - 22:00 WIB

Ir. Harry Wiyanto MBA MM
Ir. Harry Wiyanto MBA MM

INDUSTRY.co.id - MANAJEMEN PENJUALAN

Banyak sekali Pakar mendefinisikan tentang Manajemen Penjualan. Menurut American Marketing Association (AMA), Manajemen Penjualan adalah "The planning, direction, and control of personal selling, including recruiting, selecting, equipping, assigning, routing, supervising, paying and motivating as these tasks apply to personal sales force." atau perencanaan, pengarahan, dan pengendalian penjualan tatap muka, termasuk merekrut, memilih, memperlengkapi, menugaskan, menetapkan rute, mengawasi, membayar dan memotivasi karena tugas ini berlaku untuk tenaga penjualan tatap muka."

Pada intinya Manajemen Penjualan adalah aktifitas manajemen mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pemilihan Tenaga Penjualan yang tepat, pengarahan dan pengawasan yang dilakukan untuk mencapai tujuan penjualan.

APA TUJUAN PENJUALAN BAGI PERUSAHAAN ?

Banyak perusahaan menetapkan tujuan penjualannya sendiri sendiri. Biasanya tujuan penjualan suatu perusahaan adalah meningkatkan volume penjualan dari waktu ke waktu, meningkatkan bagian pasar (market share), meningkatkan jumlah pelanggan baru (opening new outlets/customers), melakukan penetrasi ke suatu daerah baru (opening new areas), melakukan multi brand selling, meningkatkan keuntungan (margin/profit), dan lain lain.

BAGAIMANA CARA MENCAPAI TUJUAN PENJUALAN TERSEBUT ?

Banyak strategi dan taktik suatu perusahaan untuk mencapai tujuan penjualan yang diinginkannya. Namun pada tulisan ini kita akan fokuskan cara mencapai tujuan penjualan dari sisi peranan seorang Tenaga penjualan yang diharapkan dapat mencapai tujuan penjualan yang diinginkan.

APA TUGAS SEORANG TENAGA PENJUAL UNTUK MENCAPAI TUJUAN PERUSAHAAN ?

Dahulu kala saat tingkat persaingan antar perusahaan masih belum chaos seperti saat ini tugas seorang Tenaga penjualan hanya menjual (selling) atau ada juga yang menjual dan melakukan tagihan pembayaran (selling and collecting account receivable of customers). Namun saat ini, tugas seorang penjual khususnya di perusahaan consumer goods tidak cukup hanya menjual dan melakukan tagihan (selling and collecting), namun tugas seorang tenaga penjual paling tidak adalah sebagai berikut :

1. Territory Management

Seorang Tenaga Penjualan harus menguasai dan mengetahui segala sesuatu yang ada wilayah tersebut yang berkaitan dengan tugas dan tanggung jawabnya baik itu dari sisi sumber ekonomi yang ada di wilayah itu yang tentu berpengaruh terhadap daya beli, budaya orang/pelanggan di wilayah tersebut yang tentu berpengaruh terhadap sikap dan perilaku membeli, hingga berapa banyak jumlah pelanggan (outlets/customer) yang sudah menjual produk yang dijual oleh Tenaga Penjualan tersebut ataupun pelanggan yang belum menjualnya (potensial) untuk memperkirakan berapa estimasi/target volume penjualan yang bisa dicapai.

2. Outlet Penetration

Berdasarkan penguasaan seorang Tenaga Penjualan tersebut di wilayahnya maka seorang Tenaga Penjualan itu harus mengetahui tentang outlet outlet yang belum membeli produknya dan berusaha agar produknya dibeli dan tersedia (available) di outlet tersebut.

3. Brand Penetration

Jika portfolio produk yang dijual oleh Tenaga Penjualan itu terdiri dari berbagai merek, berbagai jenis (packtype) maka Tenaga Penjualan itu wajib melakukan Brand Penetration (Penetrasi Merek) atau Multibrand Selling sehingga semua merek dan jenis produknya availabe di setiap outlet di wilayahnya.

4. Brand Merchandising

Setelah produk dibeli dan tersedia di outlet, tugas seorang Tenaga Penjualan belum selesai. Seorang Tenaga Penjualan juga harus membantu outlet, memastikan bahwa pelanggan outlet tersebut (konsumen) dapat dengan mudah mengetahui bahwa produk tersebut ada (available), tersusun (display) dengan baik dan rapih, mudah dilihat dari sudut pandang mata konsumen (eye catching and eye level) sehingga pelanggan outlet (konsumen) tertarik untuk membelinya. Biasanya seorang Tenaga Penjualan juga dilengkapi oleh perusahaan dengan POS (Point of Sales) Materilas untuk dipasang di tempat yang strategis di outlet tersebut.

5. Sales Script and Profit Story

Untuk membantu seorang Tenaga Penjualan melaksanakan tugasnya, maka biasanya dilengkapi juga dengan Sales Script dan Profit Story.

Sales Script berisi list dari kemungkinan pertanyaan dan keberatan outlets/pelanggan saat Tenaga Penjualan menjual produknya lengkap dengan jawabannya. Hal ini membuat seorang Tenaga Penjualan lebih siap menghadapi outlet/pelanggannya sehingga bisa mendapatkan hasil penjualannya dengan efektif dan efisien.

Profit Story berisi data data harga produknya dan produk pesaingnya baik harga beli, harga jual dan keuntungan outlet/pelanggan jika membeli produknya. Hal ini memudahkan seorang Tenaga Penjualsn untuk meyakinkan outlets/pelanggan bahwa membeli produknya akan memberikan keuntungan/manfaat baik jangka pendek maupun jangka panjang.

6. Promotion Activities

Seorang Tenaga Penjualan juga wajib menjalankan program promosi yang ada, memonitornya dan memastikan program promosi yang dijalankan berhasil sesuai tujuannya. Seandainya program promosi yang sedang dijalankan tidak sesuai dengan yang diharapkan maka seorang Tenaga Penjualan harus segera melaporkan ke atasannya atau bagian promosi atau bagian yang berwenang di perusahaannya, untuk kemungkinan mengganti program promosi itu dengan yang lebih efektif dan efisien.

7. Product Handling

Seorang Tenaga Penjual juga wajib menjaga produknya yang tersedia di outlet dalam keadaan mutu yang terbaik. Oleh karena itu Seorang Tenaga Penjual biasanya saat mengunjungi outlet, akan cek umur produk, FIFO, penempatan produk dipastikan tidak di tempat yang bisa merusak mutu produk dan lain lain.

8. Reports

Seorang Tenaga Penjualan juga biasanya dilengkapi dengan Kartu Kunjungan Langganan (Customer Call Card) yang isinya lengkap tentang informasi outlet (Basic Outlet/Market Information dan hasil kunjungan serta catatan catatan khusus mengenai apa saja informasi yang didapat saat mengunjungi outlet/pelanggan.

Biasanya seorang Tenaga Penjualan juga dilengkapi dengan format format Laporan Harian/Mingguan dan Bulanan (Daily/Weeky/Monthly Report)

APA ITU TACIT KNOWLEDGE DAN APA PENTINGNYA ?

Menurut Uriarte, Tacit Knowledge is personal. It is stored in the heads of people. It is accumulated through study and experience. It is developed through the process of interaction with other people. Tacit Knowledge grows through the practice of trial and error and the experience of success and failure atau Tacit Knowledge bersifat pribadi. Tersimpan di kepala orang. Hal ini diakumulasikan melalui studi dan pengalaman. Ini dikembangkan melalui proses interaksi dengan orang lain. Tacit Knowledge tumbuh melalui praktik trial and error dan pengalaman sukses dan kegagalan.

Sementara itu, dikenal juga Explict Knowledge yaitu terdiri dari segala sesuatu yang dapat dikodifikasi, didokumentasikan dan diarsipkan. Ini termasuk aset pengetahuan seperti laporan, memo, rencana bisnis, gambar, paten, merek dagang, daftar pelanggan, metodologi, dan sejenisnya. Explicit Knowledge mewakili akumulasi pengalaman organisasi yang disimpan dalam bentuk yang mudah diakses oleh pihak yang berkepentingan dan direplikasi jika diinginkan. Di banyak organisasi, mereka disimpan dengan bantuan komputer dan TI.

Menurut Nonaka dan Takeuchi, Explicit Knowledge can be codified-it is recorded and available and is held in databases, in corporate intranets and intellectual portfolios. Tacit Knowledge exists in peoples minds. It is difficult to articulate in writing and is acquired through personal experience atau Pengetahuan Eksplisit dapat dikodifikasi - dicatat dan tersedia dan disimpan di database, di intranet korporat dan portofolio intelektual. Tacit Knowledge ada di benak orang. Sulit untuk diartikulasikan secara tertulis dan diperoleh melalui pengalaman pribadi.

Setiap Tenaga Penjualan dengan berbagai ragam tugas yang dilaksanakan tentunya mendapatkan banyak sekali pengalaman dan pengetahuan dalam bentuk Tacit Knowledge misalnya sikap dan perilaku pelanggannya, apa yang disuka dan tidak disuka pelanggannya, jam berapa harus bertemu dengan pelanggannya dan lain sebagainya yang sangat berpengaruh kepada prestasinya saat ini yang mungkin tidak diketahui oleh Tenaga Penjualan lain dan semua hanya tersimpan di benak Tenaga Penjualan yang bersangkutan.

Oleh karena itu tidak jarang, suatu perusahaan pusing jika ada Tenaga Penjualan yang handal keluar (resign) , sementara Tenaga Penjualan penggantinya tidak bisa mempunyai prestasi penjualan yang sama bahkan lebih buruk dibanding dengan Tenaga Penjual sebelumnya.

Oleh karena itu Tantangan utama suatu Perusahaan adalah bagaimana merubah Tacit Knowledge menjadi Explicit Knowledge sehingga siapapun Tenaga Penjualan yang menggantikan Tenaga Penjualan yang lain bisa mempunyai prestasi penjualan yang lebih baik karena mengetahui semaksimum mungkin apa yang diketahui Tenaga Penjualan yang digantikannya.

BAGAIMANA CARA MERUBAH TACIT KNOWLEDGE MENJADI EXPLICIT KNOWLEDGE ?

Lkujiro Nonaka dan Hirakata Takeuvchi (1995), menganggap bahwa pengetahuan merupakan suatu hal yang dinamis dan dapat berubah bentuk antara Tacit dan Explicit. Mereka kemudianmengusulkan suatu model dalam proses penciptaan pengetahuan, yang kemudian memungkinan organisasi untuk mengelola proses tersebut secara efektif. Mereka mengajukan empat langkah penciptaan pengetahuan disebut model SECI atau Socialization, Externalization, Combination, dan Internalization.

Socialization : Transfer pengetahuan dari satu individu ke individu lainnya dalam bentuk Tacit Knowledge. Disebutkan bahwa Socialization muncul dari aktivitas berbagi dan menciptakan pengetahuan Tacit melalui pengalaman langsung.

Externalization : Transformasi pengetahuan dari bentuk Tacit ke bentuk Explicit. Dengan externalization, pengetahuan Tacit yang ada dalam diri individu dikeluarkan dan diformulasikan ke dalam media lain yang dapat dengan mudah dipelajari oleh individu lain.

Combination : Mengorganisasi kumpulan Explicit Knowledge ke dalam satu bentuk media yang lebih sistematis, melalui proses penambahan pengetahuan baru, kombinasi dan kategorisasi pengetahuan yang telah terkumpul.

Internalization : Tranformasi pengetahuan dari bentuk Explicit ke bentuk Tacit. Contohnya dengan proses belajar yang kemudian diikuti dengan learning by doing yang lambat laun membentuk pengetahuan baru dalam diri individu.

Satu hal yang perlu diingat, bahwa model SECI yang diusulkan Nonaka-Takeuchi ini juga dapat dianggap sebagai siklus transformasi bentuk pengetahuan yang ada di organisasi.

KESIMPULAN
Dengan tujuan semua pengetahuan khususnya yang dimiliki seorang Tenaga Penjualan agar juga dimiliki oleh Tenaga Penjualan yang lain atau merubah Tacit Knowledge menjadi Explicit Knowledge, maka perlu dilakukan Socialization misalnya dalam bentuk Meeting dan Discussion antara Tenaga Penjualan, Externalization misalnya dalam bentuk setiap Tenaga Penjualan harus membuat Laporan Penjualan (Sales Report), Combination misalnya dalam bentuk penyebaran laporan/pengetahuan (dissemination) agar diketahui semua Tenaga Penjualan yang lain, dan Internalization dalam bentuk misalnya membaca dan mempelajari informasi yang ada di dalam laporan penjualan (sales report).

Ir. Harry Wiyanto MBA MM adalah Trade Marketing Manager di PT Delta Djakarta dan Mahasiswa Program Doktor Ilmu Manajemen di Universita Negeri Jakarta

 

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Dok/Humas PP

Minggu, 16 Juni 2019 - 10:19 WIB

Groundbreaking Proyek Smelter, Kontrak Baru PTPP Sampai Dengan April 2019 Catat Rp10,57 Triliun

PT PP (Persero) Tbk (“Perseroan”), salah satu perusahaan konstruksi dan investasi terkemuka di Indonesia telah melakukan pendandatanganan kontrak Pembangunan Pabrik Peleburan (Smelter) berteknologi…

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto

Minggu, 16 Juni 2019 - 10:00 WIB

Menperin: Perang Dagang Untungkan Indonesia

Indonesia dinilai memiliki peluang di tengah bergulirnya perang dagang antara Amerika Serikat dan China. Sebab, Indonesia masih memiliki fundamental ekonomi yang kuat dalam menghadapi situasi…

Pembangunan drainase jalan nasional

Minggu, 16 Juni 2019 - 07:50 WIB

Kementerian PUPR Siapkan Program Pembangunan Drainase Jalan Secara Nasional

Keberadaan drainase jalan yang terhubung dengan sistem drainase kawasan atau lingkungan sangat penting untuk menghindari terjadinya genangan dan memperpanjang usia layanan jalan.

Bank Mandiri Syariah (Foto Ist)

Minggu, 16 Juni 2019 - 06:36 WIB

Libur Lebaran 2019 Transaksi Electronic Channel Mandiri Syariah Naik 60%

Jakarta -- Selama libur lebaran Mei 2019 transaksi electronic channel PT Bank Syariah Mandiri (Mandiri Syariah) naik 60% (year on year) dari Mei 2018.

Kunjungan Wisman ke Bali (Foto ist)

Sabtu, 15 Juni 2019 - 18:00 WIB

Kunjungan Wisman ke Bali Turun 7,83 Persen

BPS Provinsi Bali mencatat jumlah kunjungan wisatawan asing ke beberapa destinasi pariwisata di Bali mengalami penurunan hingga 7,83 persen untuk bulan April 2019 jika dibandingkan dengan bulan…